MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Sabtu, 30 Mei 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Sabtu, 30 Mei 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Teknologi

Jaringan Telekomunikasi Kian Cerdas, Tapi Makin Rentan? Ini Tantangan Besar Operator di Era AI

Syamhudi by Syamhudi
Selasa, 19 Mei 2026
in Teknologi
Jaringan Telekomunikasi Kian Cerdas, Tapi Makin Rentan? Ini Tantangan Besar Operator di Era AI
21
VIEWS

Jakarta, Mediaprofesi.id – Peran kecerdasan buatan atau AI di industri telekomunikasi kini semakin besar. AI bukan lagi sekadar teknologi pendukung, tetapi mulai menjadi “otak” di balik pengelolaan jaringan modern.

Namun di tengah perkembangan itu, operator telekomunikasi menghadapi tantangan baru: bagaimana menjaga jaringan tetap aman, stabil, dan tepercaya saat infrastruktur semakin kompleks dan data makin sensitif.

Hal inilah yang disoroti Athul Prasad, Global Director AI Industry Solutions Telco, Media & Entertainment Cloudera, dalam momentum World Telecommunication and Information Society Day bertema “Strengthening resilience in a connected world.”

Menurut Athul, ketahanan jaringan kini harus dibangun di seluruh lapisan konektivitas, mulai dari jaringan kabel bawah laut, satelit, pusat data, hingga infrastruktur terestrial.

Tantangan tersebut semakin nyata seiring lonjakan trafik data global. Ericsson memprediksi trafik data seluler dunia akan mencapai 280 exabyte per bulan pada 2030. Sementara jumlah pelanggan 5G diperkirakan menembus 6,3 miliar pengguna atau sekitar dua pertiga pelanggan seluler dunia.

Di Indonesia sendiri, jaringan 5G sudah hadir di 48 kota dan terus diperluas ke berbagai wilayah. Artinya, operator kini harus menghadapi jaringan yang makin padat, tersebar, dan bergantung pada pengambilan keputusan berbasis AI secara real-time.

Athul menilai, ada tiga fondasi utama yang akan menentukan ketahanan telekomunikasi di era AI, yakni kedaulatan data, orkestrasi jaringan cerdas, dan penerapan AI yang aman dalam skala besar.

Kedaulatan Data Jadi Fondasi Utama

Menurutnya, operator tidak akan mampu membangun jaringan yang tangguh jika mereka tidak memahami ke mana data bergerak, siapa yang mengaksesnya, dan bagaimana data tersebut dikelola.

Tantangan ini makin besar ketika perusahaan telekomunikasi mulai membuka akses data untuk layanan AI, network API, hingga berbagai model layanan digital baru.

“Kedaulatan data kini bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi sudah menjadi bagian penting dari arsitektur jaringan,” jelas Athul.

Operator pun dituntut memiliki kontrol lebih baik terhadap alur data, lokasi pemrosesan, hingga mekanisme berbagi data secara aman tanpa menghambat inovasi.

Dalam konteks ini, platform seperti Cloudera disebut dapat membantu operator melalui teknologi seperti data lineage dan data fabric agar pengelolaan akses data menjadi lebih aman dan terintegrasi.

Apalagi di tengah situasi geopolitik global yang makin dinamis, jalur perpindahan data kini menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan jaringan.

AI Jadi “Pengatur Lalu Lintas” Jaringan

Selain data, tantangan lain datang dari semakin rumitnya lingkungan jaringan modern. Operator kini tidak hanya mengelola jaringan terestrial, tetapi juga harus mengintegrasikan konektivitas satelit sebagai cadangan saat terjadi gangguan.

Namun menurut Athul, integrasi teknologi saja tidak cukup. Yang paling penting adalah memastikan pengguna tetap mendapatkan pengalaman koneksi yang mulus tanpa terganggu perpindahan jaringan di belakang layar.

Di sinilah AI memainkan peran penting. AI memungkinkan operator mengatur mobilitas jaringan, signaling, hingga perpindahan koneksi secara real-time agar layanan tetap stabil.

Tekanan operasional sendiri mulai terasa. Berdasarkan laporan terbaru Cloudera Data Readiness Index, tiga dari lima perusahaan telekomunikasi mengaku kinerja infrastruktur masih menjadi hambatan utama dalam menjalankan transformasi operasional berbasis data dan AI.

Karena itu, AI dinilai bukan untuk menambah kompleksitas baru, melainkan menjadi “lapisan koordinasi” yang membantu jaringan beradaptasi secara otomatis dan lebih cepat.

AI Canggih Tetap Butuh Pengawasan

Meski AI menawarkan banyak potensi, industri telekomunikasi dinilai masih sangat berhati-hati dalam penerapannya. Sebab, kesalahan kecil pada sistem jaringan bisa berdampak besar pada layanan publik.

Athul menyebut tantangan terbesar bukan lagi sekadar mengadopsi AI, tetapi membangun fondasi operasional agar AI bisa digunakan secara aman dan bertanggung jawab dalam skala besar.

Artinya, operator perlu memastikan tata kelola data, sistem pengawasan, mekanisme akuntabilitas, hingga observability berjalan dengan baik sebelum AI diterapkan penuh ke operasional jaringan.

Laporan McKinsey juga menunjukkan sekitar 45 persen eksekutif telekomunikasi masih melihat data sebagai hambatan utama dalam pengembangan AI. Sementara IDC InfoBrief mencatat keterbatasan akses data masih menjadi tantangan besar implementasi AI di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Menurut Athul, tantangan tersebut terlihat jelas pada perkembangan agentic AI. Meski teknologinya berkembang cepat dan mulai dipamerkan di berbagai ajang global seperti MWC 2026, industri masih fokus membahas soal pengawasan manusia, guardrails, hingga aspek kedaulatan sistem.

“Jaringan masa depan memang akan semakin cerdas. Tapi tanpa fondasi yang kuat, otomatisasi justru bisa membuat sistem semakin rentan,” ujarnya.

Karena itu, ketahanan telekomunikasi di era AI tidak lagi cukup hanya mengandalkan kekuatan infrastruktur. Operator juga harus memastikan data dikelola dengan benar, jaringan diorkestrasi secara cerdas, dan AI diterapkan dengan pengawasan yang tepat sejak awal. * (Syam)

Post Views43 Views
Tags: Agentic AIclouderaMWC 2026

Related Posts

Cloudera Meluncurkan Workflow Data Fabric Zero Copy Connector for ServiceNow
Teknologi

Cloudera Meluncurkan Workflow Data Fabric Zero Copy Connector for ServiceNow

by Pratama
Jumat, 8 Mei 2026
12
F5 Memperkuat Application Delivery and Security Platform untuk Menyederhanakan Operasional dan Mempercepat Adopsi AI yang Aman
Teknologi

F5 Memperkuat Application Delivery and Security Platform untuk Menyederhanakan Operasional dan Mempercepat Adopsi AI yang Aman

by Wahyu
Selasa, 21 April 2026
9

RECOMMENDED

Long Weekend Makin Hemat dan Nyaman, Rahasianya Ternyata Ada di Mobil Chery Hybrid Ini

Long Weekend Makin Hemat dan Nyaman, Rahasianya Ternyata Ada di Mobil Chery Hybrid Ini

30 Mei 2026
6
Bukan Sekadar Ganti Warna, Ini Langkah Besar Honda Racing Indonesia di Musim 2026

Bukan Sekadar Ganti Warna, Ini Langkah Besar Honda Racing Indonesia di Musim 2026

30 Mei 2026
8

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    571 shares
    Share 228 Tweet 143
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    368 shares
    Share 147 Tweet 92
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    361 shares
    Share 144 Tweet 90
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    326 shares
    Share 130 Tweet 82
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    326 shares
    Share 130 Tweet 82
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM