Jakarta, Mediaprofesi.id – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) sedang menghadapi babak baru yang jauh lebih menantang. Bukan hanya di tingkat global, tekanan juga dirasakan di Indonesia.
Produksi dari lapangan-lapangan tua terus menurun secara alami, sementara situasi geopolitik dunia membuat harga energi dan iklim investasi semakin sulit diprediksi. Namun di balik tekanan itu, Indonesia diyakini masih menyimpan potensi migas besar yang belum sepenuhnya tergarap.
Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan penghasil minyak dunia membuat industri energi bergerak dalam ketidakpastian. Harga minyak mudah berfluktuasi, biaya investasi meningkat, dan perusahaan migas dituntut lebih adaptif agar bisnis tetap berkelanjutan.
Meski begitu, optimisme terhadap masa depan migas Indonesia masih cukup tinggi. Kawasan laut dalam hingga wilayah timur Indonesia disebut masih menyimpan cadangan besar yang dapat menopang kebutuhan energi nasional dalam jangka panjang.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pelaku industri mulai bergerak lebih agresif melalui penguatan teknologi, kolaborasi strategis, hingga dukungan kebijakan pemerintah.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, mengatakan ada tiga strategi utama yang kini menjadi fokus industri, yakni memperkuat kemitraan, mempererat kolaborasi dengan pemerintah, dan mempercepat pengembangan teknologi.
“Kita punya kemitraan yang kuat, misalnya bersama PETRONAS. Kolaborasi dengan pemerintah juga dapat memberikan tambahan fiskal, mempermudah perizinan, dan menurunkan risiko usaha lewat penggunaan teknologi,” ujar Oki dalam sesi Global Executive Talk bertema The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas di ajang IPA Convex 2026.
Sinyal tekanan global juga terlihat dari tren investasi. President and Group CEO PETRONAS, Tengku Muhammad Taufik, mengungkapkan investasi hulu migas global pada 2025 diperkirakan turun sekitar 6 persen, meski total investasi sektor ini masih mencapai sekitar US$570 miliar.
Menariknya, hampir 40 persen dana tersebut justru digunakan untuk menahan laju penurunan produksi dari lapangan migas yang sudah beroperasi. Artinya, industri kini tidak lagi berburu energi yang “mudah didapat”, melainkan berjuang menjaga produksi tetap stabil.
Direktur dan CEO Medco Energi, Roberto Lorato, menilai Indonesia sebenarnya berada di jalur yang lebih positif. Menurutnya, pemerintah mulai menyadari besarnya potensi migas nasional sehingga eksplorasi jangka panjang dan pendekatan yang lebih fleksibel menjadi sangat penting.
Di tengah tantangan tersebut, teknologi menjadi senjata utama industri migas modern. Perusahaan mulai mengembangkan teknologi enhanced oil recovery (EOR), digitalisasi operasi, pemanfaatan artificial intelligence (AI), hingga teknik pengeboran yang lebih efisien untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasi.
Potensi besar migas Indonesia juga terlihat dari sejumlah temuan baru, terutama di kawasan Andaman. CEO Mubadala Energi, Mansoor Muhamed Al Hamed, mengungkapkan pihaknya mencatat hasil eksplorasi positif setelah 15 tahun beroperasi di Indonesia.
“Kami sangat antusias dengan penemuan di Tangkulo, Andaman, hingga Southwest Andaman. Saat mulai berproduksi nanti, ini bisa menjadikan kami salah satu produsen terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Executive Vice President Finance & Administration KUFPEC, Abdullah F. Al-Osaimi, menilai tantangan industri saat ini bukan lagi soal ketersediaan minyak dan gas, melainkan bagaimana menemukan cadangan dengan risiko dan kompleksitas rendah yang kini semakin langka.
Belum lagi tekanan transisi energi dan tuntutan ESG (Environmental, Social, and Governance) yang membuat perusahaan migas harus lebih selektif dalam berinvestasi.
Meski jalannya semakin berat, industri hulu migas diyakini masih akan menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional. Dengan potensi sumber daya yang besar, dukungan teknologi, dan kebijakan yang tepat, Indonesia dinilai masih punya peluang besar untuk kembali menjadi pemain energi utama di kawasan. * (Syam/Wah)





