Jakarta, Mediaprofesi.id – United Tractors (UT) terus menunjukkan komitmennya dalam membangun lingkungan kerja yang lebih inklusif. Melalui Program Harmonika (Harmoni dalam Keberagaman), perusahaan membuka kesempatan bagi individu neurodivergen dan difabel untuk mendapatkan pengalaman kerja nyata sekaligus mengembangkan potensi mereka.
Komitmen tersebut disampaikan dalam talkshow bertajuk “Lebih dari Sekadar Kuota: Neurodivergen, Berkarya untuk Indonesia” yang diselenggarakan Circle4Autism/Yayasan Autisma Indonesia di Menara Bidakara 1, Jakarta Selatan. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus sarana edukasi mengenai pentingnya menciptakan ekosistem kerja yang ramah bagi individu neurodivergen dan difabel.
Dalam forum tersebut, UT hadir sebagai contoh perusahaan yang telah menerapkan program pemberdayaan secara berkelanjutan. Program Harmonika merupakan hasil kolaborasi dengan Yayasan Autisma Indonesia yang dirancang untuk membuka akses pengalaman kerja bagi individu neurodivergen melalui program magang yang terstruktur.
Organization Development & Productivity Department Head UT, Nurdiansyah Budiman, menjelaskan bahwa Program Harmonika tidak hanya memberikan kesempatan magang, tetapi juga memastikan peserta memperoleh pengalaman kerja yang relevan dan bermakna.

“Program Harmonika dirancang untuk membantu peserta mengembangkan potensinya secara optimal. Karena itu, prosesnya dilakukan secara terstruktur mulai dari seleksi administrasi, wawancara, hingga asesmen psikologi agar penempatan peserta sesuai dengan kebutuhan organisasi dan kemampuan yang dimiliki,” ujarnya.
Pada 2025, Program Harmonika telah memberikan kesempatan magang kepada 18 individu difabel yang ditempatkan di 10 perusahaan dalam Grup UT. Selama tiga bulan, para peserta memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja, mengasah keterampilan, meningkatkan rasa percaya diri, serta memperluas wawasan profesional mereka.
Melalui kesempatan yang sama, UT juga memperkenalkan Program Harmonika 2026 sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk membuka lebih banyak peluang bagi individu neurodivergen. Informasi tersebut disampaikan kepada orang tua, keluarga, lembaga pendamping, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan talenta neurodivergen di Indonesia.
Talkshow ini menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai bidang, antara lain Prof. Rhenald Kasali, Wiku Anindito dari HPP Law Firm, Job Coach Circle4Autism/Yayasan Autisma Indonesia Taufiq Hidayat, serta Nurdiansyah Budiman dari UT. Para narasumber berbagi pandangan mengenai pentingnya kolaborasi antara keluarga, komunitas, pemerintah, dan dunia usaha dalam menciptakan pasar kerja yang lebih inklusif.
Moderator Ananda Sukarlan yang mewakili Circle4Autism turut mengapresiasi langkah UT dalam membuka ruang bagi individu neurodivergen untuk berkembang dan berkarya. Menurutnya, Program Harmonika menjadi salah satu contoh praktik baik yang menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghadirkan program magang inklusif yang terstruktur dan memberikan manfaat nyata, baik bagi peserta maupun organisasi.
Suasana acara semakin menginspirasi saat sejumlah peserta magang membagikan pengalaman mereka. Testimoni yang disampaikan menunjukkan bahwa ketika kesempatan diberikan secara setara, individu neurodivergen mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya, membangun kemandirian, serta memberikan kontribusi positif di lingkungan kerja.
Melalui Program Harmonika, UT berharap semakin banyak talenta neurodivergen yang memperoleh akses untuk berkembang, berkarya, dan berkontribusi dalam pembangunan Indonesia yang lebih inklusif, beragam, dan berkelanjutan. * (Syam/Pra)





