Jakarta, Mediaprofesi.id – Serangan siber ke Indonesia semakin mengkhawatirkan. Sepanjang Semester I 2026, jumlah serangan tercatat 257.976.333 kali, atau rata-rata 16 serangan setiap detik.
Data tersebut terungkap dalam Laporan Ancaman Digital di Indonesia Semester 1 Tahun 2026 yang dirilis AwanPintar.id®, platform threat intelligence nasional milik PT Prosperita Sistem Indonesia. Jumlah serangan itu melonjak 93,33% dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai 133.439.209 serangan.
Kondisi ini menunjukkan ruang siber Indonesia semakin menjadi sasaran operasi agresif berskala global. Serangan tidak hanya berupa pemindaian otomatis, tetapi juga percobaan mengeksploitasi kerentanan hingga penyebaran malware.
Founder AwanPintar.id® Yudhi Kukuh mengatakan, lonjakan tersebut antara lain dipicu meluasnya attack surface seiring percepatan transformasi digital di sektor pemerintahan, layanan publik, dan dunia usaha.
Masifnya penggunaan cloud, AI, serta meningkatnya transaksi online masyarakat turut memperluas potensi titik masuk bagi pelaku serangan.
Karena itu, organisasi di Indonesia dinilai perlu mengadopsi pendekatan keamanan yang lebih adaptif dan berbasis risiko, terutama melalui penguatan deteksi dini, manajemen kerentanan, serta kesiapan menghadapi insiden.
Perebutan Akses Administrator Melonjak
Salah satu temuan paling mencolok adalah meningkatnya serangan Attempted Administrator Privilege Gain, yakni upaya merebut kendali atau hak akses administrator sistem.
Porsinya melonjak dari 2,76% pada Semester I 2025 menjadi 43,65% pada Semester I 2026.
Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa pelaku serangan tidak lagi sekadar mencari celah, tetapi semakin agresif berupaya mengambil alih sistem. Metodenya antara lain mengeksploitasi layanan yang terbuka di internet, memanfaatkan kredensial curian dari phishing dan credential stuffing, serta menggunakan bot otomatis.
Jika berhasil, akses administrator dapat menjadi pintu masuk menuju serangan yang lebih serius, seperti ransomware, pencurian data, sabotase sistem, hingga kompromi infrastruktur jaringan.

Ancaman Kebocoran Data Ikut Meningkat
Kategori Generic Protocol Command Decode masih menjadi ancaman terbesar kedua dengan porsi 27,22%, meski turun 41,15% dibandingkan tahun sebelumnya. Serangan ini berkaitan dengan anomali atau manipulasi paket data pada protokol jaringan.
Penurunan tersebut bukan berarti ancaman siber mereda. Sebaliknya, pelaku diduga mulai mengubah strategi dengan mengarah pada serangan yang lebih spesifik dan berpotensi menimbulkan dampak lebih besar.
Sementara itu, Attempted Information Leak justru melonjak dari 4,66% menjadi 13,97%. Serangan ini menargetkan informasi penting seperti akun, data klien, informasi kartu kredit, dan data sensitif lainnya.
Pelaku memanfaatkan berbagai metode, mulai dari eksploitasi aplikasi, penyalahgunaan kredensial, infostealer, hingga phishing. Teknik brute force juga banyak digunakan untuk membobol kata sandi dengan bantuan perangkat otomatis.
Tiongkok dan AS Jadi Sumber Serangan Dominan
Dari sisi sumber serangan, Tiongkok menjadi yang paling dominan, naik dari 12,87% menjadi 21,94%. Disusul Amerika Serikat yang meningkat dari 9,07% menjadi 10,83%.
Serangan dari kawasan regional juga patut diwaspadai, termasuk Singapura yang dinilai berpotensi memanfaatkan infrastruktur berlatensi rendah di sekitar Indonesia.
Menariknya, serangan dari dalam negeri juga meningkat. Banyuwangi tercatat naik dari 0,01% menjadi 4,53%, sementara Tangerang meningkat dari 0,03% menjadi 3,46%.
AwanPintar.id® juga mencatat DoublePulsar Backdoor mendominasi upaya pencurian kredensial dengan porsi 99,28%. Sementara itu, aktivitas spam dan malware sempat menurun pada awal tahun sebelum kembali melonjak pada Maret-Juni 2026.
Ancaman lain datang dari kerentanan Common Vulnerabilities and Exposures (CVE) yang melonjak 71% pada Maret 2026. Di saat yang sama, sebanyak 34.804 Open Source Vulnerabilities (OSV) tercatat dirilis sepanjang Semester I 2026.
Yudhi menegaskan, organisasi perlu memperkuat keamanan infrastruktur, menggunakan kata sandi kuat dan autentikasi multifaktor (MFA), mengendalikan hak akses, mengenkripsi data, serta meningkatkan pemantauan aktivitas pengguna dan kesadaran keamanan siber.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena ancaman digital kini bukan lagi serangan sesekali, melainkan operasi yang terus bergerak, otomatis, dan semakin agresif mencari celah. * (Syam)





