Jakarta, Mediaprofesi.id – Tren makanan sehat mulai membuka ruang bisnis baru bagi industri pangan Indonesia. Konsumen tak lagi sekadar mencari produk yang enak dan terjangkau, tetapi juga semakin bersedia membayar lebih untuk makanan dan minuman yang menawarkan manfaat kesehatan.
Peluang tersebut terlihat dalam survei U.S. Dairy Export Council (USDEC) Consumption Tracker yang dilakukan di Indonesia pada Juni-Juli 2026. Sebanyak 51% responden sangat setuju dan 33% setuju bersedia membayar lebih untuk produk makanan dan minuman kemasan yang menawarkan manfaat kesehatan, meski harus menambah anggaran.
Protein menjadi salah satu area yang paling menarik. Sebanyak 63% konsumen menyatakan sangat mungkin dan 31% cukup mungkin mempertimbangkan produk dengan klaim tambahan protein.
Bagi industri makanan dan minuman, perubahan preferensi tersebut membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah. Terlebih, alasan konsumen mengincar protein tidak semata-mata karena tren kesehatan.
Sebanyak 74% responden menilai protein membantu meningkatkan energi dan performa fisik. Sebanyak 69% menganggapnya sebagai pilihan yang lebih sehat dan bernutrisi, sedangkan 61% melihat produk tinggi protein sebagai cara praktis memenuhi kebutuhan nutrisi.

Tren tersebut sejalan dengan perkembangan pasar wellness di Asia Tenggara. Berdasarkan Global Wellness Economy Monitor 2025, kawasan ini menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat secara global dalam pola makan sehat, nutrisi, dan pengelolaan berat badan.
Di Indonesia, survei Euromonitor 2025 juga mencatat 71% konsumen aktif mencari bahan sehat dalam makanan. Bahkan, 32% responden berencana meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan kesehatan dan kebugaran, meski 68% masih mengkhawatirkan kenaikan biaya.
Strategi Bukan Sekadar Produk Baru
Melihat perubahan tersebut, USDEC membawa sejumlah prototipe berbasis bahan susu Amerika Serikat ke Fi Asia Indonesia 2026, yang berlangsung di JIExpo Jakarta.
Berada di USA Pavilion, booth AIC06, USDEC menampilkan bagaimana protein susu, whey, susu bubuk, dan permeate dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan produk dengan nilai nutrisi lebih tinggi.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah Protein Coffee Butter Cookie. Produk ini menggabungkan butter cookie klasik dengan kopi panggang dan konsentrat protein susu dari Amerika Serikat.
Dalam satu sajian yang terdiri dari empat cookie, produk tersebut menyediakan 6,5 gram protein berkualitas tinggi. Konsepnya menunjukkan bahwa inovasi nutrisi tidak harus hadir dalam bentuk produk yang sepenuhnya baru, tetapi dapat ditanamkan ke kategori makanan yang sudah familiar bagi konsumen.
Dali Ghazalay, Regional Director, Southeast Asia, USDEC, mengatakan kondisi ekonomi membuat konsumen semakin cermat dalam mengatur pengeluaran, tetapi kesehatan tetap menjadi prioritas.
“Produk yang sukses harus mampu menjawab kebutuhan nyata konsumen sehari-hari,” ujarnya.
Dari sisi industri, pendekatan tersebut membuka peluang bagi produsen untuk mengejar premiumisasi tanpa harus meninggalkan kategori produk yang sudah memiliki basis konsumen.
Fleksibilitas bahan susu Amerika Serikat juga memungkinkan formulasi disesuaikan dengan cita rasa lokal, format produk, serta berbagai momen konsumsi.
Joanne Tey, Senior Manager, Food Applications and Innovation, USDEC, mengatakan kombinasi butter cookie, protein susu, dan kopi panggang dirancang untuk menghadirkan pengalaman konsumsi yang tetap menyenangkan sekaligus memberikan tambahan nutrisi.
Tren ini juga sejalan dengan “Layers of Delight” dari Innova Market Insights 2026, yang menyoroti meningkatnya permintaan terhadap produk yang mampu memadukan kenikmatan dan manfaat nutrisi.
Melalui Fi Asia Indonesia 2026, USDEC tidak hanya memperkenalkan bahan baku susu asal Amerika Serikat, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan produsen pangan Indonesia untuk menangkap peluang dari perubahan preferensi konsumen—terutama di segmen makanan dan minuman yang menawarkan nilai tambah melalui protein dan manfaat kesehatan. * (Syam/Wah)




