Tangerang, Mediaprofesi.id – Industri logistik Indonesia menghadapi paradoks besar. Pertumbuhan e-commerce dan pergerakan parcel terus melesat, tetapi di saat yang sama perusahaan dituntut menekan biaya, mempercepat pengiriman, meningkatkan keselamatan, hingga memberikan informasi paket secara real-time kepada pelanggan.
Gambaran tersebut mengemuka dalam Moveindo Symposium 2026 bertema “Steering the Future of Safe and Connected” yang digelar dalam rangkaian Automechanika Jakarta (AMJKT) 2026, Sabtu (26/9/2026), di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang.
Head of IT Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) sekaligus Co-Founder Rayspeed Asia, Ricky Rizki, mengungkapkan biaya logistik Indonesia masih menjadi tantangan besar. Dalam paparannya, ia menyebut angka biaya logistik mencapai 14,29% terhadap PDB berdasarkan data yang digunakan dalam presentasi, sementara pemerintah menargetkannya turun menjadi 8% pada 2045.
Di sisi lain, pasar terus berkembang. Pertumbuhan e-commerce Indonesia pada periode 2026-2031 diproyeksikan mencapai 15%, sedangkan pertumbuhan pasar logistik CEP (Courier, Express, Parcel) berada di level 8,85%.
Konsekuensinya, lalu lintas kendaraan kurir diprediksi semakin padat. Ricky menggambarkan satu sepeda motor pengantar dapat melayani sekitar 150-200 titik per hari, sedangkan mobil sekitar 50-70 titik.
“Semakin banyak order berarti semakin banyak titik yang harus didatangi, semakin panjang jarak, semakin banyak tenaga, dan semakin besar biaya BBM,” ujarnya.
Tekanan itu diperkuat perubahan perilaku konsumen. Pelanggan kini tidak hanya menuntut barang sampai, tetapi juga ingin mengetahui posisi paket secara real-time. Bahkan, permintaan same-day delivery disebut tumbuh 89%.
Artinya, layanan reguler, ekspres, same-day, hingga instant delivery akan semakin berhadapan dalam satu arena. Tantangannya sederhana tetapi berat: good, cheap, fast.
EV Belum Jadi Jawaban Tunggal
Elektrifikasi menjadi salah satu solusi untuk menekan biaya energi. Namun, adopsi kendaraan listrik di sektor kurir masih menghadapi persoalan jarak tempuh dan infrastruktur pengisian.
Ricky menyebut adopsi EV di perusahaan anggota Asperindo masih kurang dari 3%. Pasalnya, kendaraan kurir di Jabodetabek dapat menempuh 200-300 km per hari, sementara ketersediaan SPKLU, antrean, dan durasi pengisian masih menjadi pertimbangan.
Karena itu, transformasi logistik tidak berhenti pada EV. IoT, GPS, AI, robotik, otomasi, dan fintech juga mulai menjadi bagian dari ekosistem.
AI, misalnya, telah digunakan untuk route optimization dan load optimization. Sementara robotik dimanfaatkan untuk conveyor dan penyortiran parcel. Tantangan berikutnya adalah bagaimana seluruh teknologi tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Jalan Tol Ikut Berubah
COO PT Nusantara Infrastructure, Joko Santoso, menambahkan transformasi juga terjadi di sektor jalan tol. Indonesia saat ini memiliki lebih dari 3.000 km jalan tol yang dioperasikan sekitar 59 badan usaha, dengan sekitar 5 juta transaksi per hari.
Teknologi seperti License Plate Recognition (LPR), CCTV, IoT, hingga intelligent traffic system mulai diarahkan untuk meningkatkan keselamatan, kelancaran lalu lintas, dan efisiensi operasional.
Ke depan, konsep Multi Lane Free Flow (MLFF) juga diarahkan untuk membuat transaksi tol berlangsung tanpa kendaraan harus berhenti atau melakukan e-tapping. Namun, penerapannya masih menghadapi sejumlah persoalan teknis, legal, dan komersial.
Rest area pun diarahkan naik kelas menjadi bagian dari ekosistem digital dan ramah lingkungan, dengan EV charging, solar panel, pengelolaan sampah, CCTV, Wi-Fi, serta konsep smart area.
Telematika Jadi Mata dan Otak Armada
Global Group CEO MyLORRY.ai, Vincent Eik, melihat masa depan transportasi bergerak menuju telematika yang semakin terhubung. Teknologi modern tidak lagi sekadar melacak posisi kendaraan, tetapi membaca perilaku pengemudi, kondisi kendaraan, hingga risiko kecelakaan secara real-time.
Data dari GPS, OBD, G-force, ADAS, DMS, dan sensor lainnya dapat diterjemahkan menjadi driver scoring, peringatan risiko, hingga pemeliharaan prediktif.
Sementara itu, CEO & Founder SAFE TRUCK, Wilson Yew, mengatakan integrasi IoT, kamera, dan pemantauan pengemudi dapat membantu menekan risiko kecelakaan sekaligus biaya operasional. SAFE TRUCK mengklaim telah mampu mengurangi tingkat kecelakaan hingga 85% pada implementasinya.
Business Development Manager Geotab, Alvin Santoso, menegaskan arah industri kini bergeser dari telematika menuju connected fleet intelligence. Menurutnya, pengelolaan armada tidak lagi hanya berbicara soal lokasi kendaraan, tetapi bagaimana data diubah menjadi keputusan yang lebih aman, efisien, dan produktif.
Dengan tekanan biaya, ledakan parcel, tuntutan pengiriman cepat, elektrifikasi, hingga kebutuhan keselamatan yang semakin tinggi, industri logistik Indonesia sedang memasuki fase baru.
Pertarungannya bukan lagi sekadar siapa yang mampu mengirim lebih banyak paket, tetapi siapa yang mampu menghubungkan kendaraan, manusia, data, infrastruktur, dan teknologi menjadi satu ekosistem yang benar-benar bekerja. * (Syam)







