Jakarta, Mediaprofesi.id – Gelombang solopreneur terus membuka ruang baru dalam ekonomi digital. Bermodal keahlian, pengalaman, hobi hingga side hustle, individu kini dapat mengubah kemampuan personal menjadi sumber pendapatan sekaligus bisnis yang berpotensi berkembang.
Peluang inilah yang dibidik Bank Saqu, layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab, dengan mendorong lahirnya pola pikir solopreneur yang lebih adaptif terhadap perubahan ekonomi dan teknologi.
Pesan tersebut mengemuka dalam partisipasi Bank Saqu di Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026, 24–26 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Melalui sesi “Having Solopreneur Mindset in a Fast-Changing World”, Bank Saqu menyoroti bagaimana skill, passion, dan pengalaman dapat dikonversi menjadi peluang ekonomi yang lebih produktif.
“Solopreneur bukan sekadar status pekerjaan, tetapi juga mindset untuk mengembangkan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki menjadi peluang. Perjalanannya tidak harus dimulai dengan membangun bisnis dalam skala besar, tetapi dapat berawal dari pekerjaan, side hustle, aktivitas freelance, maupun hobi yang memiliki nilai,” ujar Willy Apriando, Head of Corporate Communication & Marketing Bank Saqu.

Menurut Willy, keberanian memulai, kemauan untuk terus belajar, serta kemampuan beradaptasi menjadi fondasi penting dalam perjalanan seorang solopreneur.
Namun, mengubah peluang menjadi bisnis membutuhkan lebih dari sekadar ide. Bank Saqu mendorong calon solopreneur untuk memulainya dengan mengidentifikasi masalah yang ingin diselesaikan, memahami target pasar, melakukan validasi sederhana, lalu mengembangkan bisnis secara terukur.
Aspek finansial juga menjadi faktor krusial. Pemisahan keuangan personal dan bisnis, pengelolaan cash flow, serta pemahaman terhadap akses finansial perlu dibangun sejak tahap awal agar pertumbuhan usaha tidak justru menciptakan persoalan baru.
Bagi Bank Saqu, ruang pertumbuhan solopreneur juga membuka kebutuhan terhadap ekosistem yang lebih luas. Karena itu, pendekatan yang dibangun tidak berhenti pada solusi finansial, tetapi mencakup akses terhadap insight, networking, kolaborasi, dan peluang bisnis.
Komitmen tersebut akan berlanjut melalui Bank Saqu Solopreneur Society: The Founders Club – Match. Make. Grow. pada 28 Oktober 2026.
Program ini mempertemukan solopreneur dengan founder, pemilik brand, supplier, strategic partner, hingga ecosystem buyer. Model tersebut membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jaringan, menemukan mitra strategis, dan mengejar peluang pertumbuhan baru.
Dengan pendekatan tersebut, Bank Saqu menempatkan pengembangan solopreneur dalam perspektif yang lebih luas: dari aktivitas produktif individu menuju ekosistem bisnis yang saling terhubung dan memiliki ruang untuk berkembang. * (Syam/Wah)





