Jakarta, Mediaprofesi.id – Lanskap keamanan siber Indonesia memasuki fase yang semakin menantang. Serangan digital datang lebih cepat, masif, dan beragam, sementara perusahaan dituntut mampu menjaga operasional sekaligus memenuhi standar perlindungan data dan kepatuhan.
Data AwanPintar.id® menjadi alarm serius. Sepanjang semester I 2026, tercatat rata-rata 16 serangan siber setiap detik yang mengarah ke sebuah perangkat di Indonesia. Angka tersebut setara sekitar 990 serangan per menit atau 1,42 juta serangan per hari. Jumlah serangan juga melonjak 93,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa ketahanan siber tidak lagi cukup dibangun hanya dengan memasang perangkat keamanan. Perusahaan membutuhkan visibilitas menyeluruh, kemampuan mendeteksi ancaman secara cepat, respons berkelanjutan, serta dokumentasi yang mendukung kebutuhan audit dan compliance.
Tekanan tersebut semakin besar seiring penerapan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dan perkembangan regulasi keamanan serta ketahanan siber.
Di tengah kondisi itu, ESET memperkuat Platform ESET PROTECT dengan berbagai kemampuan berbasis AI. Platform ini memungkinkan perusahaan mengelola keamanan secara terpusat melalui satu konsol, mencakup endpoint, server, perangkat seluler, aplikasi cloud hingga lingkungan cloud workload.
“Compliance terhadap regulasi seperti UU PDP dan rancangan UU KKS sudah menjadi kebutuhan,” ujar Yudhi Kukuh, CTO Prosperita Group.
Menurutnya, visibilitas terhadap kondisi endpoint menjadi penting agar celah keamanan dapat ditemukan dan ditangani sebelum dimanfaatkan penyerang.
Platform ESET PROTECT juga menyediakan lebih dari 170 template laporan dan kemampuan membuat laporan berdasarkan lebih dari 1.000 titik data. Fitur tersebut dapat membantu perusahaan menyiapkan dokumentasi keamanan untuk kebutuhan manajemen maupun audit.
AI dan Kecepatan Respons Jadi Kunci
Perubahan karakter serangan membuat kecepatan respons semakin menentukan. ESET memperkuat platformnya dengan fitur seperti ESET LiveGuard Advanced dan ESET AI Advisor untuk membantu analisis ancaman serta mempercepat pengambilan keputusan saat insiden terjadi.
Perhatian juga diarahkan pada risiko baru dari ekosistem AI, termasuk ESET AI Agent Security, ESET AI Behavioral Monitoring, dan ESET AI Conversation Security untuk membantu mengawasi penggunaan serta potensi penyalahgunaan teknologi AI.
Namun, teknologi deteksi saja tidak cukup jika respons terhadap insiden masih lambat. Di sinilah ESET Managed Detection and Response (MDR) mengambil peran.
Layanan ini menawarkan pemantauan, threat hunting, investigasi, dan respons 24/7 dengan perpaduan otomatisasi AI dan keahlian manusia. ESET menyebut rata-rata waktu deteksi dan responsnya mencapai sekitar enam menit.
Kecepatan tersebut menjadi penting karena serangan digital dapat berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan tim internal dalam menganalisis alarm satu per satu.
ESET MDR tersedia untuk kebutuhan UKM hingga enterprise. Untuk organisasi yang belum memiliki Security Operations Center (SOC) sendiri, pendekatan ini menawarkan pemantauan dan respons berkelanjutan tanpa harus membangun seluruh infrastruktur SOC dari awal.
Layanan enterprise juga dapat diperluas dengan kemampuan threat hunting, investigasi forensik digital serta ekosistem XDR melalui ESET Inspect.
Pada akhirnya, angka 16 serangan per detik dari AwanPintar.id® bukan sekadar statistik. Data tersebut menggambarkan betapa cepatnya medan perang digital berubah.
Bagi dunia usaha, ketahanan siber kini ditentukan oleh kemampuan melihat ancaman lebih cepat, memahami risikonya, merespons sebelum kerusakan meluas, sekaligus membuktikan bahwa seluruh proses keamanan berjalan sesuai tuntutan compliance.
Di era ketika serangan bisa datang kapan saja, kecepatan bukan lagi keunggulan tambahan, melainkan bagian penting dari pertahanan digital Indonesia. * (Syam/Pra)





