Tangerang, Mediaprofesi.id – Persaingan merebut pasar ekspor global kian terbuka bagi produk Indonesia. Lewat Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) membawa 10 pelaku usaha binaannya untuk memperluas jaringan bisnis, memburu mitra internasional, dan meningkatkan daya saing produk nasional di pasar dunia.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya LPEI memperkuat kapasitas eksportir Indonesia agar mampu menangkap peluang perdagangan lintas negara. Produk yang dibawa pun beragam, mulai dari kopi, teh artisan, gula kelapa, rempah-rempah, hingga kakao dan cokelat.
TEI ke-41 dijadwalkan berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten. Dalam ajang tersebut, LPEI akan hadir bersama Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Lembaga National Single Window (LNSW) melalui booth KemenkeuSatu.
Corporate Secretary LPEI, Dyza Rochadi, mengatakan partisipasi eksportir binaan dalam TEI menjadi salah satu upaya untuk memperluas akses pasar sekaligus mendorong pelaku usaha memanfaatkan peluang perdagangan internasional.
Sebagai Export Credit Agency (ECA) dan Eximbank Indonesia, LPEI menyediakan dukungan pembiayaan, penjaminan, asuransi ekspor, serta konsultasi untuk pengembangan kapasitas usaha.
“Melalui TEI 2026, pelaku usaha dapat berkonsultasi langsung mengenai kebutuhan ekspornya, termasuk aspek kepabeanan dan layanan ekspor bersama petugas Bea Cukai dan LNSW,” ujar Dyza.
Selain membuka akses konsultasi, LPEI juga akan mengikuti sejumlah diskusi dan sesi berbagi pengetahuan mengenai dukungan pemerintah bagi eksportir, identifikasi potensi pasar, serta pemanfaatan fasilitas untuk menunjang kegiatan ekspor.
10 Eksportir, Beragam Potensi Produk Indonesia
Sepuluh perusahaan binaan LPEI yang berpartisipasi menunjukkan beragam potensi komoditas dan produk olahan Indonesia.
Di sektor pangan dan minuman, ada Puri Food and Healthy yang memasarkan gula aren cair hingga Malaysia dan Belanda, Sila Artisan Tea dengan racikan teh premium berbahan teh pilihan Indonesia, serta CV Mandiri Coffee yang memasok biji kopi mentah dan sangrai.
Sementara itu, CV Ceterindo Kurnia Tritama mengembangkan makanan dan minuman berbahan alami, sedangkan PT Mandala Prima Makmur memperluas bisnis kakao dan cokelatnya ke sejumlah negara di empat benua.
Potensi komoditas perkebunan juga diperkuat CV Bunga Palm, produsen gula kelapa organik yang didukung jaringan lebih dari 18.000 petani, serta PT Agri Spice Indonesia dan CV Alpha Agro Indonesia yang bergerak di bisnis rempah-rempah.
Di lini kopi, PT Kopi Prima Indonesia memasok produk Arabika dan Robusta untuk pasar domestik maupun ekspor. Adapun PT Haldin Pacific Semesta mengolah bahan alami untuk memenuhi kebutuhan berbagai industri, mulai dari makanan dan minuman hingga perawatan pribadi.
Keberagaman tersebut memperlihatkan peluang peningkatan nilai tambah produk Indonesia melalui pengolahan, penguatan kualitas, dan perluasan akses pasar. Sejumlah pelaku usaha juga mengembangkan kemitraan dengan petani lokal serta praktik bisnis berkelanjutan.
Melalui TEI 2026, LPEI berharap para eksportir binaan semakin siap memperluas jejaring bisnis dan menembus pasar internasional. Tantangannya bukan hanya memperkenalkan produk, tetapi juga membangun kemitraan yang mampu membuka peluang ekspor secara berkelanjutan. * (Syam/Pra)



