Jakarta, Mediaprofesi.id – Josua Pardede, Ekonom Indonesia dalam tulisannya menjelaskan bahwa persaingan bisnis hijau di Asia Tenggara memasuki babak baru. Tak cukup menjual kendaraan listrik, perusahaan kini dituntut membangun ekosistem yang membuat mobilitas rendah emisi semakin mudah, nyaman, dan terjangkau.
Strategi inilah yang dikembangkan Vingroup melalui produsen otomotif VinFast dan pengembang properti Vinhomes. Keduanya menggarap dua sektor yang saling berkaitan, yakni mobilitas listrik dan pembangunan kawasan perkotaan terintegrasi.
Pendekatan tersebut menawarkan peluang bisnis jangka panjang. Kendaraan listrik membutuhkan infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, serta layanan purnajual yang andal. Sementara itu, kawasan perkotaan modern membutuhkan transportasi yang efisien dan pengelolaan lingkungan yang terencana.
Jika berjalan beriringan, keduanya berpotensi mempercepat adopsi teknologi hijau sekaligus memperkuat daya tarik bisnis dan nilai kawasan.
VinFast Perkuat Ekosistem, Indonesia Jadi Salah Satu Medan Ekspansi
Strategi VinFast tidak berhenti pada penjualan kendaraan. Perusahaan membangun pendekatan terintegrasi melalui jaringan pengisian daya, layanan purnajual, pembiayaan, dan kemitraan armada.
Kombinasi tersebut penting untuk menjawab keraguan konsumen, mulai dari biaya pembelian hingga kemudahan pengisian daya dan perawatan. Pasalnya, harga kompetitif saja belum cukup untuk mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik.
Kemitraan dengan operator armada juga membuka peluang permintaan yang lebih konsisten. Kendaraan yang digunakan secara intensif dapat membantu meningkatkan pemanfaatan infrastruktur, sementara layanan perawatan terkoordinasi berpotensi menjaga efisiensi operasional.
Di Indonesia, pengembangan fasilitas perakitan VinFast di Subang dirancang memiliki kapasitas awal 50.000 kendaraan per tahun. Angka tersebut merupakan kapasitas yang direncanakan, bukan bukti bahwa produksi telah mencapai tingkat tersebut.
Investasi ini menjadi bagian penting dari upaya membangun kehadiran jangka panjang, sejalan dengan arah kebijakan kendaraan listrik nasional yang menghubungkan insentif dan produksi lokal dengan persyaratan yang berlaku, termasuk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Artinya, persaingan tidak hanya berkutat pada penjualan mobil, tetapi juga kemampuan membangun jaringan layanan dan mengembangkan basis industri lokal.
Filipina memperlihatkan peluang serupa. Presentasi grup pada kuartal II 2026 menyebut VinFast sebagai merek kendaraan listrik berbasis baterai terdepan di negara tersebut berdasarkan pengiriman.
Presentasi itu juga mencatat rencana sekitar 18.500 kendaraan untuk digunakan oleh 75 perusahaan transportasi. Angka tersebut masih berupa rencana penggunaan, bukan jumlah kendaraan yang dipastikan telah beroperasi.
Meski demikian, permintaan armada terorganisasi berpotensi memperluas penggunaan kendaraan listrik sekaligus mendorong kebutuhan pengisian daya dan perawatan.
Vinhomes Garap Kota Masa Depan, Regenerasi Lingkungan Jadi Taruhan
Strategi integrasi Vingroup berlanjut ke sektor properti melalui Vinhomes. Gagasan utamanya adalah menghubungkan hunian, tempat kerja, transportasi, dan pengelolaan lingkungan sejak tahap perencanaan.
Salah satu proyeknya, Vinhomes Green Paradise, merupakan kawasan kota mandiri seluas 2.870 hektare yang sedang dikembangkan di dekat Kota Ho Chi Minh, Vietnam, berdekatan dengan Cần Giờ Mangrove Biosphere Reserve.
Pada Agustus 2026, proyek ini memperoleh Interim Custom ISO 37122 Smart City Certification dari World Council on City Data. Sertifikasi interim tersebut berlaku untuk tahap perencanaan, desain, dan konstruksi. Status ini belum membuktikan kinerja lingkungan kawasan setelah dihuni dan beroperasi.
Vinhomes juga merencanakan Forest Regeneration and Climate Adaptation Fund untuk mendukung riset, restorasi, dan ketahanan iklim, termasuk pemulihan ekosistem bakau di sekitarnya.
Melalui pendekatan ESG++ yang diperkenalkan, pengembang memasukkan regenerasi dan adaptasi iklim ke dalam agenda keberlanjutan. Target operasional yang mencakup listrik terbarukan dan transportasi beremisi nol bersih juga menjadi bagian dari rencana tersebut.
Namun, dampak akhirnya akan bergantung pada realisasi investasi, pelaksanaan program, serta keterbukaan data yang memungkinkan hasilnya diukur.
Proyek lain, Vinhomes Global Gate Hạ Long, mengedepankan konektivitas transportasi. Akses kereta direncanakan terhubung dengan jalur kereta berkecepatan tinggi Hanoi–Quảng Ninh, yang pembangunannya dimulai pada April 2026 dan ditargetkan rampung pada akhir 2028.
Integrasi transportasi sejak tahap pengembangan berpotensi memperluas akses menuju kawasan sekaligus meningkatkan daya tariknya bagi penghuni dan pelaku usaha. Meski begitu, manfaat tersebut akan bergantung pada penyelesaian proyek dan operasional konektivitas sesuai rencana.
Bisnis Hijau Harus Dibuktikan, Bukan Cuma Dijanjikan
Strategi Vingroup memperlihatkan bagaimana kepentingan komersial dapat menjadi penggerak transisi hijau. VinFast mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, sedangkan Vinhomes mengintegrasikan mobilitas, pembangunan kawasan, dan agenda lingkungan.
Keduanya berpotensi saling memperkuat melalui investasi jangka panjang dan koordinasi lintas sektor. Namun, besarnya rencana investasi maupun luas kawasan yang dikembangkan belum otomatis menjamin keberhasilan.
Ujian sesungguhnya terletak pada adopsi kendaraan listrik yang berkelanjutan, pemanfaatan infrastruktur secara optimal, akses transportasi yang terjangkau, serta perbaikan lingkungan yang terukur.
Dengan pelaksanaan disiplin dan pelaporan transparan, strategi ini berpeluang menjadikan transisi hijau lebih praktis bagi masyarakat sekaligus menarik secara komersial. Bagi Asia Tenggara, tantangannya kini bukan hanya membangun bisnis ramah lingkungan, melainkan membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan. * (Syam/Wah)





