Jakarta, Mediaprofesi.id – Ancaman El Niño ekstrem pada akhir 2026 mulai membayangi industri kelapa sawit Indonesia. Produksi terancam menyusut, biaya pupuk melonjak, sementara harga crude palm oil (CPO) justru berpeluang menanjak hingga US$1.500 per ton. Situasi ini membuka peluang keuntungan bagi emiten sawit, meski risiko terhadap pangan dan inflasi ikut membesar.
Dalam forum Media Connect, PT Samuel Sekuritas Indonesia mengungkapkan probabilitas terjadinya very strong El Niño pada Oktober–Desember 2026 mencapai 81%, melonjak dari 33% pada Mei dan 62% pada Juni. Risiko fenomena ini bertahan hingga awal 2027 bahkan diperkirakan mencapai 97%.
Juan Harahap, Equity Research Analyst Samuel Sekuritas Indonesia, mengatakan penurunan curah hujan di wilayah produksi utama dapat menekan produktivitas perkebunan sawit sekaligus menjadi katalis kenaikan harga CPO.
Berdasarkan data BMKG yang dikutip dalam kajian perusahaan, sekitar 56% wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami curah hujan rendah. Di Sumatra Barat, curah hujan 10 harian pada 2026 tercatat sekitar 34 milimeter, atau 55% lebih rendah dibandingkan rata-rata periode El Niño 2015–2016.
Tekanan pasokan juga datang dari perkiraan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Produksi sawit berpotensi turun 1–2 juta ton dari realisasi 2025 sebesar 51,7 juta ton. Kenaikan biaya pupuk sekitar 30–50%, persoalan lahan, serta kebijakan B50 yang berpotensi membatasi pasokan ekspor turut menambah tantangan industri.
Di tengah ancaman tersebut, Samuel Sekuritas memasang skenario bullish harga CPO hingga US$1.500 per ton CIF Rotterdam, sekitar 10,6% di atas rata-rata harga kuartal I-2026 sebesar US$1.356 per ton.
“Volume produksi dapat turun, tetapi harga justru berpotensi meningkat. Bagi perusahaan CPO dengan eksposur besar pada bisnis hulu, kenaikan harga dapat memberikan leverage signifikan terhadap profitabilitas,” ujar Juan.
AALI Paling Sensitif, Potensi Laba Melonjak 101,6%
Peluang kenaikan laba emiten sawit menjadi sorotan. Analisis sensitivitas Samuel Sekuritas menunjukkan, setiap kenaikan harga CPO 10% berpotensi mendongkrak rata-rata laba bersih 2027 emiten yang dianalisis sekitar 37%.
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat sensitivitas terbesar, dengan potensi kenaikan laba bersih 101,6%. Berikutnya PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) sebesar 59%, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) 30,3%, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) 24,2%, PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) 18,3%, dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) 17,9%.
Namun, El Niño juga menyimpan risiko lebih luas. Cadangan beras Indonesia untuk 2026/2027 diperkirakan turun setara 1,3 bulan konsumsi, dari sebelumnya 1,6 bulan. Stok akhir beras diproyeksikan merosot 19,7% secara tahunan menjadi 3,68 juta ton.
Pengalaman El Niño 2015–2016 memperlihatkan harga gula dunia naik 33,3%, minyak sawit Malaysia 14,3%, kedelai 3,2%, dan beras putih 2,6%. Saat itu, inflasi pangan Indonesia mencapai 5,3% secara tahunan.
Investor Bertambah, Literasi Masih Tertinggal

Di luar komoditas, Samuel Aset Manajemen menyoroti tantangan investor di tengah gejolak pasar. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 93,61%, sedangkan literasi keuangan baru 69,57%. Artinya, akses terhadap layanan keuangan berkembang lebih cepat dibandingkan pemahaman masyarakat.
Jumlah investor pasar modal mencapai 31,14 juta pada akhir Agustus 2026, tumbuh 52,9% sejak awal tahun. Sekitar 78% investor berusia di bawah 40 tahun. Sementara itu, nilai aktiva bersih industri reksa dana tercatat Rp652,88 triliun.
Sisilia dari Samuel Aset Manajemen menilai volatilitas pasar saham tidak harus membuat investor meninggalkan pasar. Reksa dana pasar uang dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin menjaga risiko, sementara reksa dana pendapatan tetap bisa dipertimbangkan sesuai profil risiko dan tujuan keuangan.
Perusahaan juga mengembangkan ReksadanaSAM 3.0 dengan pendekatan digitalisasi untuk membantu investor memilih produk berdasarkan tujuan investasi, kemampuan finansial, dan jangka waktu.
Downgrade MSCI Dinilai Berpeluang Kecil
Dalam diskusi yang sama, Suria Dharma menilai kemungkinan Indonesia turun dari kategori emerging market menjadi frontier market atau standalone relatif kecil, meski tekanan terhadap pasar domestik perlu ditanggapi serius.
Ia menilai langkah regulator merespons berbagai persoalan yang menjadi perhatian investor global menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar.
Meski demikian, ancaman perubahan klasifikasi pasar global tetap menjadi risiko yang perlu dicermati. Bagi investor, kondisi ini menegaskan pentingnya strategi yang terukur, diversifikasi, serta pemilihan instrumen sesuai profil risiko, alih-alih mengejar peluang keuntungan tanpa memperhitungkan potensi kerugian. * (Syam)





