Bali, Mediaprofesi.id – Persaingan industri estetika medis tak hanya bertumpu pada teknologi dan produk, tetapi juga ketepatan dokter dalam menentukan strategi perawatan. CGBIO memanfaatkan momentum ini dengan menggelar Live Training di NULOOK Clinic, Bali, pada 16 Oktober 2026, menghadirkan dokter internasional untuk mempelajari pendekatan kombinasi perawatan wajah secara langsung.
Kegiatan bertajuk “Meet the Masters in Bali 2026” ini membahas penggunaan calcium hydroxyapatite (CaHA), hyaluronic acid (HA), dan thread lifting berdasarkan kondisi kulit, struktur wajah, serta kebutuhan setiap pasien.
Bukan hanya demonstrasi tindakan, pelatihan yang digelar perusahaan kedokteran regeneratif global tersebut juga mengupas proses pengambilan keputusan klinis. Mulai dari mengevaluasi kondisi pasien, menentukan area perawatan, hingga menyusun strategi yang sesuai dengan tujuan masing-masing individu.
Dua dokter asal Korea Selatan menjadi pembicara utama. Pada sesi pagi, dr. Jisoo Kook, Director of It’s Me Clinic di Ansan, memperagakan kombinasi CaHA dan HA. Ia menjelaskan pertimbangan dalam menentukan penggunaan kedua bahan tersebut sesuai kondisi pasien dan target perawatan.
Sementara itu, sesi sore menghadirkan dr. Gi Woong Hong, President of SAMSKIN Plastic Surgery Clinic, Korea Selatan. Ia memperkenalkan pendekatan yang mengintegrasikan CaHA, HA, dan thread lifting untuk menangani kebutuhan kualitas kulit, lifting, serta kontur wajah.
“Dalam kombinasi perawatan, penting untuk terlebih dahulu memahami kondisi kulit, struktur wajah, dan tujuan yang ingin dicapai pasien, kemudian menentukan peran masing-masing tindakan,” ujar dr. Gi Woong Hong.
Sebelum demonstrasi dimulai, peserta mengikuti tur klinik dan mempelajari profil pasien. Proses kemudian berlanjut ke evaluasi, penyusunan rencana perawatan, dan tindakan langsung. Setiap tahapan disertai penjelasan mengenai alasan klinis di balik pemilihan prosedur dan area wajah yang menjadi fokus.

Dalam demonstrasi tersebut, dokter menggunakan produk berbasis CaHA dari CGBIO. Produk dengan formulasi yang sama telah memperoleh izin edar di Indonesia dengan merek DCLASSY, sedangkan produk bermerek ekspor Korea Selatan, FACETEM, digunakan dalam sesi live treatment.
Keduanya memiliki karakteristik berupa bentuk dan ukuran partikel yang seragam, dengan struktur partikel yang dibentuk melalui teknologi Lattice Pore Formation (LPF).
dr Hadrian Deka, Head of Aesthetic Department NULOOK Clinic, menilai kegiatan ini membuka kesempatan bagi dokter Indonesia untuk mempelajari langsung bagaimana hasil evaluasi pasien diterjemahkan menjadi strategi perawatan.
“Melalui live training ini, kami berbagi pendekatan peningkatan kualitas kulit menggunakan CaHA dan HA, serta strategi lifting dan perbaikan kontur dengan mengintegrasikan thread lifting dalam perawatan pasien secara langsung,” ujarnya.
Didirikan pada 2023 oleh anak perusahaan CGBIO di Indonesia, NULOOK Clinic tak hanya melayani pasien, tetapi juga mengembangkan program edukasi bagi tenaga medis.
Setelah demonstrasi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab mengenai pertimbangan penerapan prosedur serta penyesuaian strategi perawatan terhadap karakteristik pasien dan praktik klinis di berbagai negara.
Ke depan, CGBIO berencana memperkuat NULOOK sebagai pusat edukasi dan pertukaran pengalaman klinis. Perusahaan juga akan memperluas kolaborasi antara dokter Indonesia dan tenaga medis internasional, dengan mengintegrasikan evaluasi pasien, perencanaan perawatan, hingga praktik langsung dalam program pembelajaran berikutnya. * (Syam/Pra)





