MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Selasa, 27 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Selasa, 27 Oktober 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Bisnis Panti Lansia Terjepit Harga, Okupansi Cuma 60%, Keluarga Indonesia Hanya Sanggup Bayar Rp3 Juta per Bulan

Pratama by Pratama
Selasa, 27 Oktober 2026
in Ekonomi
Bisnis Panti Lansia Terjepit Harga, Okupansi Cuma 60%, Keluarga Indonesia Hanya Sanggup Bayar Rp3 Juta per Bulan
2
VIEWS

Jakarta, Mediaprofesi.id – Bisnis perawatan lansia di Indonesia menyimpan peluang besar seiring bertambahnya populasi lanjut usia. Namun, tingginya kebutuhan belum otomatis mendatangkan keuntungan bagi pengelola fasilitas perawatan. Masalahnya, harga layanan belum sesuai dengan kemampuan bayar mayoritas keluarga.

Riset Arunala Institute and Foundation mengungkap kesenjangan mencolok di industri ini. Panti lansia swasta kelas menengah dengan tarif Rp4,5 juta hingga Rp8,5 juta per bulan mencatat rata-rata tingkat keterisian hanya 60%. Sebaliknya, fasilitas terjangkau dengan tarif sekitar Rp1,5 juta per bulan justru terisi penuh hingga 100%.

Temuan tersebut dipaparkan dalam Dialog Kebijakan Perawatan Lansia pada 27 Oktober 2026, dalam rangka menyambut Hari Lanjut Usia Internasional 2026. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa rendahnya okupansi sebagian panti swasta bukan semata-mata karena minimnya permintaan, melainkan juga persoalan keterjangkauan harga.

Tarif Naik, Kesediaan Membayar Langsung Turun

Kaji cepat mengenai kemauan dan kemampuan membayar (Willingness to Pay dan Ability to Pay) terhadap keluarga perkotaan memperlihatkan batas daya beli yang perlu diperhatikan pelaku industri.

Sebanyak 72% responden bersedia membayar paket day care dasar seharga Rp1,5 juta per bulan. Namun, ketika tarif naik menjadi Rp2,4 juta dengan tambahan aktivitas sosial, kesediaan membayar anjlok menjadi 45%. Untuk paket Rp3,2 juta yang mencakup pemeriksaan kesehatan, angkanya kembali turun menjadi 26%.

Sementara itu, hanya 25% responden yang bersedia membayar layanan residential live-in dengan tarif Rp8 juta per bulan.

Secara keseluruhan, 74% rumah tangga menyatakan anggaran realistis untuk perawatan lansia berada di bawah Rp3 juta per bulan. Bahkan, 62% keluarga mengandalkan patungan antar-saudara untuk menanggung biaya perawatan orang tua.

“Pasar perawatan lansia di Indonesia bukan kurang permintaan, melainkan mengalami kesenjangan antara desain produk dan daya beli konsumen,” ujar Dyah Larasati, Direktur Eksekutif Arunala Institute, Indonesia.

Menurutnya, pengembang dapat memperluas pasar melalui layanan care centre berbasis komunitas dengan paket terjangkau, sebelum mengembangkan hunian lansia jangka panjang.

Generasi Usia 40–50 Tahun Jadi Pasar Baru

Peluang bisnis ini juga didorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap masa tua. Riset Arunala di kawasan perkotaan, khususnya Jabodetabek, menemukan bahwa generasi usia 40–50 tahun mulai memikirkan kebutuhan perawatan mereka sendiri.

Sebanyak 91% responden perkotaan terbuka menggunakan care centre jika dibutuhkan. Selain itu, 95% menilai pemanfaatan fasilitas perawatan lansia sejalan dengan nilai agama dan keluarga selama anak tetap terlibat.

Bagi calon konsumen, keberadaan tenaga perawat profesional bersertifikat menjadi pertimbangan utama untuk membayar lebih, dengan persentase 68%. Faktor berikutnya adalah pemantauan kesehatan rutin sebesar 58% dan fasilitas kenyamanan sebesar 37%.

Lima Strategi untuk Menggarap Pasar Lansia

Arunala merekomendasikan lima langkah bagi pelaku industri dan pengembang senior living.

Pertama, menawarkan paket day care atau care centre harian dan bulanan dengan tarif awal sekitar Rp1,5 juta. Kedua, mengembangkan layanan secara bertahap, mulai dari perawatan berbasis komunitas hingga hunian lansia dengan pendampingan penuh.

Ketiga, menjajaki kemitraan pemerintah dan swasta melalui skema pembiayaan bersama atau voucher untuk mengoptimalkan kapasitas panti yang masih kosong. Keempat, mengembangkan tabungan, asuransi, dan produk keuangan khusus agar generasi usia 40–50 tahun dapat mempersiapkan biaya perawatan masa tua.

Kelima, membangun kepercayaan melalui sertifikasi tenaga pendamping, rasio pengasuhan yang terukur, serta standar operasional medis dan nonmedis yang profesional.

Bagi industri kesehatan, pengembang properti, dan investor, pesannya jelas: potensi ekonomi perawatan lansia tidak cukup digarap dengan membangun fasilitas premium. Produk harus sesuai daya beli, layanan harus fleksibel, dan kualitas perawatan mesti terjamin agar kebutuhan yang besar benar-benar berubah menjadi pasar yang berkelanjutan. * (Syam/Pra)

Post Views3 Views
Tags: bisnis panti lansiaPasar perawatan lansiapopulasi lanjut usiaRiset Arunala Institute and Foundation

Related Posts

No Content Available

RECOMMENDED

Bisnis Panti Lansia Terjepit Harga, Okupansi Cuma 60%, Keluarga Indonesia Hanya Sanggup Bayar Rp3 Juta per Bulan

Bisnis Panti Lansia Terjepit Harga, Okupansi Cuma 60%, Keluarga Indonesia Hanya Sanggup Bayar Rp3 Juta per Bulan

27 Oktober 2026
2
Chery Buka Uji Tabrak TIGGO 7 ke Publik, Struktur Bodi dan Perlindungan Keluarga Jadi Sorotan

Chery Buka Uji Tabrak TIGGO 7 ke Publik, Struktur Bodi dan Perlindungan Keluarga Jadi Sorotan

27 Oktober 2026
4

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    609 shares
    Share 244 Tweet 152
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    411 shares
    Share 164 Tweet 103
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    404 shares
    Share 162 Tweet 101
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    374 shares
    Share 150 Tweet 94
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    371 shares
    Share 148 Tweet 93
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi
  • Contact
  • Media Partner

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM