Jakarta, Mediaprofesi.id – Pengucilan, perundungan, hingga minimnya kesempatan berinteraksi masih menjadi tantangan yang dihadapi anak-anak dengan Down Syndrome. Mereka kerap berada di tengah masyarakat, tetapi keberadaannya justru diabaikan. Kondisi inilah yang mendorong Yayasan POTADS (Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome) Indonesia menggaungkan gerakan melawan kesepian.
Melalui kegiatan jalan santai bersama anak-anak Down Syndrome dan keluarga di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Minggu (1/11/2026), POTADS mengajak masyarakat lebih peduli dan membuka ruang interaksi yang setara bagi penyandang Down Syndrome.
Mengusung tema “Together Against Loneliness, Walk For Down Syndrome Awareness”, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Bulan Kepedulian Down Syndrome yang diperingati setiap Oktober. Pesannya tegas: jangan biarkan anak-anak Down Syndrome merasa sendirian, tersisih, atau tidak dianggap keberadaannya.

Ketua Umum Yayasan POTADS Indonesia, Eliza Octavianti Rogi, mengatakan kesepian yang dialami anak-anak Down Syndrome bukan hanya karena keterbatasan ruang bermain dan beraktivitas. Lebih dari itu, mereka juga menghadapi pengucilan dan sikap masyarakat yang memandang sebelah mata.
“Kadang mereka ada, tetapi dianggap tidak ada. Kehadirannya disepelekan dan dipandang sebelah mata. Ini yang ingin kami dobrak,” ujar Eliza.
Menurutnya, masyarakat perlu mulai membangun interaksi sederhana, seperti menyapa, mengajak berbicara, bermain, belajar, hingga memberikan kesempatan untuk bekerja dan berkarya.
POTADS juga akan memperluas program POTADS Goes to School untuk mengenalkan Down Syndrome kepada anak-anak sejak usia dini. Melalui kunjungan ke sekolah, siswa diajak memahami keberagaman, mengenal perbedaan, serta berinteraksi langsung dengan anak-anak Down Syndrome.
Eliza berharap edukasi tersebut dapat menumbuhkan empati dan penerimaan sejak dini sehingga stigma terhadap penyandang Down Syndrome tidak terus diwariskan.

Selain edukasi di sekolah, POTADS memperkuat kampanye melalui media sosial dengan melibatkan influencer dan anggota komunitas untuk menyebarkan konten positif. POTADS juga menggelar berbagai kegiatan, termasuk pertunjukan dan bazar, guna memperlihatkan kemampuan serta potensi anak-anak Down Syndrome.
“Mereka punya kemampuan. Dengan bimbingan yang tepat, mereka bisa diberdayakan dan berkarya,” tegasnya.
POTADS saat ini juga mengembangkan kegiatan berbasis wilayah agar lebih mudah dijangkau keluarga. Dengan jaringan komunitas di Jakarta, Bekasi, Bogor, dan sejumlah wilayah lainnya, pertemuan sederhana untuk berbagi pengalaman dan saling menguatkan terus digerakkan.
Kemenkes: Hentikan Perundungan dan Kekerasan

Dukungan terhadap gerakan ini disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, dr. Maria Endang Sumiwi, MPH. Ia mengapresiasi POTADS yang telah memiliki 10 cabang di berbagai daerah dan menjadi mitra pemerintah dalam memperkuat layanan bagi anak-anak Down Syndrome.
Menurut Maria, kesepian bukan hanya persoalan tidak memiliki teman. Perasaan tidak diterima, tidak dilibatkan, dan tidak dihargai juga dapat berdampak nyata terhadap kesehatan, terutama kesehatan jiwa.
Ia menegaskan, menciptakan lingkungan ramah disabilitas harus disertai ruang yang aman, termasuk bebas dari perundungan dan kekerasan.
“Individu dengan Down Syndrome tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk sehat, belajar, bermain, bekerja, dan hidup mandiri,” ujarnya.
Kemenkes juga mendorong pemanfaatan layanan Puskesmas dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mendukung deteksi dini serta penanganan masalah kesehatan yang menyertai Down Syndrome.

Maria turut menyoroti hasil CKG 2025 yang mencatat 96,3% penyandang disabilitas masih kurang melakukan aktivitas fisik. Karena itu, kegiatan jalan santai seperti yang digelar POTADS perlu terus didorong.
Pada akhirnya, perjuangan melawan kesepian tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Dibutuhkan kepedulian sehari-hari, mulai dari menyapa, mengajak berinteraksi, hingga membuka kesempatan yang sama.
Sebab, anak-anak Down Syndrome memiliki potensi dan hak untuk tumbuh, berkembang, serta menjadi bagian utuh dari masyarakat. * (Syam)





