Jakarta, Media-profesi.com – Saraf kejepit atau tertempel terjadi ketika saraf terjepit atau tertekan oleh jaringan di sekitarnya, seperti otot atau tulang.
Dr dr. Setyo Widi Nugroho, Sp.BS (K), Dokter Spesialis Bedah Saraf Eka Hospital BSD & juga menjabat sebagai Kepala Departemen Bedah Saraf RSCM menjelaskan, saraf kejepit pada umumnya didapatkan pada saraf tulang belakang mulai dari leher, dada sampai perut atau bagian pinggang. Dan dipinggang itu ada saraf yang keluar dari lubang saraf pada tulang belakang, di mana kalau bantalan diantara tulang mengalami kerusakan dan tidak mampu menjaga keseimbangan kekuatan antara berat badan dan bantalan, maka rusak sehingga keluar.
“Kita juga semua akan mengalami kerusakan, pada usia 70 tahun yakni rusak alamiah, dimana dia akan mengecil. Tapi kalau rusak akibat tidak mampu menjaga beban tadi, maka dia keluar dari rongganya melalui saraf, maka dia menjepit saraf, dan ini istilahnya degenerative, kalau lobang keluar dari hernia, itu yang menyebabkan saraf di tulang belakang kejepit,” papar Dr. dr. Setyo pada acara “Ngobrol Sehat Bersama Media”, hari Senin (13/3/2022) di Jakarta.
Ditambahkannya bahwa yang lain sebenarnya bukan kejepit tapi saraf tertempel, jadi saraf di otak kita bisa juga tertempel oleh pembuluh darah, seperti kejepit tapi tertempel dipojokannya, itulah yang menyebabkan nyeri yang sangat hebat pada wajah kalau saraf nomor lima yang sakit, dan kalau yang tertempel saraf nomor tujuh, dimana wajah kita biasanya berkedut-kedut antara mulut ke bagian kelopak mata, itu sebenarnya penyakit saraf.
“Penyakit ini bisa di obati. Dari kasus yang datang pada penyakit saraf ini, 80% bisa diobati dengan terapis fisik yang baik, dan sisanya yang 20% setelah tidak bisa diatasi dengan rehabilitasi fisik, maka akan dilakukan dengan tindakan operasi,” tambahnya.
Bahkan sambungnya, pada umumnya pasien bisa sembuh normal dengan baik dan hanya sebagian kecil saja yang tidak sembuh dengan baik.
Penyebabnya karena antara bantalan dua tulang tidak mampu menjaga kekuatan atau beban yang dibebankan pada bantalan tadi, misalnya kita tidak biasa mengangkat berat, tiba-tiba diminta olahraga untuk mengangkat beban yang berat sekali, maka dia akan mengalami kerusakan karena bebannya tidak kuat.
Contoh lain, kita bukan olahragawan padahal sudah degenerative dan lompat-lompat yang kuat pada suatu saat bisa kalah dengan beban yang berat, dimana tidak mampu menyandang beban yang berat, dan penyakit ini yang paling banyak dipinggang karena manusia sebagian memang hidupnya pada bagian pinggang, sementara pada leher biasanya karena pergerakan yang salah.
Walau demikian penyebab saraf kejepit dapat bervariasi, termasuk cedera fisik, peradangan, tumor, osteoarthritis, atau masalah postur tubuh yang buruk.
Gejala saraf kejepit dapat mencakup rasa sakit, mati rasa, kesemutan, atau kelemahan pada area yang dipengaruhi oleh saraf yang tertekan. Gejala ini dapat mempengaruhi berbagai bagian tubuh, seperti leher, bahu, punggung, pinggul, lutut, dan kaki.
Pengobatan saraf kejepit tergantung pada penyebabnya. Beberapa tindakan yang dapat membantu mengurangi gejala saraf kejepit antara lain :
- Istirahat dan penghindaran aktivitas yang memperparah gejala.
- Tetapi fisik untuk membantu mengurangi tekanan pada saraf.
- Obat Pereda nyeri atau obat anti-inflamasi non- steroid (NSAID) untuk mengurang rasa sakit dan peradangan.
- Terapi pijat untuk membantu mengurangi ketegangan otot dan meningkatkan sirkulasi darah.
- Penggunaan brace atau alat bantu lainnya untuk membantu mengurangi tekanan pada area yang terkena.
Jika gejala saraf kejepit berat dan tidak merespon terhadap perawatan non-bedah, maka operasi mungkin diperlukan untuk membebaskan tekanan pada saraf yang terjepit. Namun, ini tergantung pada kondisi individu dan harus berkonsultasi dengan dokter. * (Syam)





