Penulis: Sabpri Piliang – Pengamat Timur Tengah
Jakarta, Mediaprofesi.id – HERZL HALEVI setahun lalu. Meminta Netanyahu! Negosiasi “win win solution” ke Hamas. Bukan “negosiasi posisional”!
Sang “Letnan Jenderal”, sebelum di ganti Eyal Zamir mengingatkan! “Jangan membuat lawan negosiasi pergi”! Sekalipun Hamas tengah terdesak.
Negosiasi posisional yang diperlihatkan PM Netanyahu. Alih alih membuat Hamas takut. Keadaan makin sulit! Netanyahu di titik negatif rakyat. Rakyat Israel meradang.
Logika Halevi adalah logika militer! Linier dan setali tiga uang! Letnan Jenderal Eyal Zamir berpikir sama. Halevi meminta Netanyahu menerima proposal yang disetujui Hamas.
Andai! PM Netanyahu menuruti saran “win win” Halevi, niscaya semua sandera Israel sudah pulang ke rumah hari ini. Hamas melihat, sandera adalah “alat tawar” minimalis.
Hamas, sejatinya tidak terlalu berkepentingan dengan sandera sipil. Namun, tak ada pilihan! Negosiasi posisional Israel, ditambah “asimetris”nya kekuatan militer! Pilihannya cuma sandera.
“Times Of Israel” (6 September 2025), mensitir kembali apa yang diminta Herzl Halevi saat masih menjadi Kepala Staf IDF (2024).
Rencana yang dirumuskan militer. Sebelum serangan IDF (Mei 2024). Pembebasan semua sandera, lewat fase ke-2 kesepakatan! Diyakini Herzl, IDF akan lebih leluasa menghadapi Hamas setelahnya. Tanpa takut sandera terbunuh.
Sikap “negosiasi posisional”! Ingin menang sendiri Netanyahu, kini runyam. Sampai-sampai Presiden AS Donald Trump, pesimis dengan nasib sandera!

Donald Trump mengingatkan. Seperti dikutip media “mainstream” Israel lainnya, “Yedioth Ahronoth” (6 September 2025). “Semua ini adalah pilihan Israel! Akan menjadi buruk, jika kelompok Hamas tidak membebaskan seluruh sandera,”.
Berbicara tidak keras seperti biasanya. Trump, kehilangan “phrasa” menyangkut sandera. “Adalah lebih baik, bila Hamas membebaskan sandera. Menjadi hal yang buruk,” (Yedioth Ahronoth, 6/9).
Membebaskan 48 sandera (20 masih hidup). Lewat pertempuran, akan menyulitkan. Terlebih intelejen IDF mengakui, tidak memiliki data lengkap. Menyangkut lokasi sandera oleh Hamas.
Medan Gaza yang kompleks! Menghadapi sebuah organisasi “jaringan” (bukan hierarki), dengan spirit kemerdekaan. Seperti mencari “sarang laba-laba”, dalam goa yang tak pernah dilalui manusia.
Kepala Staf IDF pengganti Herzl Halevi (Eyal Zamir). Meski menuruti “kekerasan hati” Netanyahu. Masih berupaya mendesak PM, agar mambatalkan operasi. Menerima kesepakatan 60 hari gencatan senjata dengan Hamas.
Hamas sendiri, menjelang serangan “total” IDF ke Gaza. Terus memainkan propaganda tentang nasib sandera. Baik Netanyahu, maupun Zamir telah bereaksi, dan berbicara kepada keluarga sandera.

SANKSI AS
Sikap “berat sebelah” AS dalam konflik Israel-Hamas, makin mempersulit pembebasan sandera. Sementara tekanan publik Israel kepada Netanyahu, juga makin kencang.
AS tidak mendorong perubahan sikap Israel. Meski Hamas telah merubah diri, dengan menerima draft yang pernah ditolaknya.
Kehilangan pijakan sebagai “wasit”. AS menjatuhkan sanksi pada tiga kelompok HAM Palestina yang meminta pengadilan pidana internasional (ICC). Untuk menyelidiki genosida Israel di Gaza.
Tiga kelompok HAM itu: Pusat HAM Palestina Gaza, Pusat HAM Al Mezan, HAM Al-Haq Ramallah, mendapat sanksi AS atas pendokumentasian 23 bulan kejahatan kemanusiaan Israel di Gaza.
“Sanksi kata Menlu AS Marco Rubio, seperti dikutip “The Guardian” (6 September 2025). Dijatuhkan kepada para pemantau HAM. Karena mereka telah terlibat langsung dalam upaya pengadilan pidana internasional (ICC) terhadap warga negara Israel.
Konflik Hamas-Israel, makin sulit menemui titik pijak “win win solution”. Sikap AS yang menonjolkan berada di sisi Israel. Menjadikannya, “lancung”! Diam mati! Melawan mati! Hamas lebih baik melawan sampai titik akhir.
Israel tak ingin “win win”! Halevi, atau Zamir tak mampu menghentikan Netanyahu. Israel menginginkan “win-lose”! Sekalipun sandera harus terbunuh!
Tinggal rakyat Israel, mau apa sekarang? Mau menjadikan Netanyahu apa? * (Syam/Wah) – Foto: Istimewa





