Penulis: Sabpri Piliang – Pengamat Timur Tengah
Jakarta, Mediaprofesi.id – “JANGAN berikan semua yang Anda miliki”! Berbahaya. Gencatan senjata, ‘yes’! Israel-Hamas, tak mau “bertelanjang bulat”.
Israel di detik terakhir menolak “empat ace” dalam daftar pertukaran sandera: Marwan Barghouti, Ahmad Saadat, Hasan Salameh, dan Hakim Awad. Barghouti disebut-sebut, bakal menjadi Presiden Palestina di masa depan.
“Empat ace”! Menggambarkan empat “pohon mahoni” raksasa, menjulang kokoh ke angkasa. Empat pejuang Palestina, yang empiris berkontribusi, dengan apa dan bagaimana Palestina hari ini.
Hamas tak mau demiliterisasi dini. Kematian Sersan IDF, Mordechai Nachmani oleh penembak jitu Hamas (bertepatan gencatan senjata), menunjukkan keteguhan Hamas. Satu peluru terakhir?
Hamas, bukanlah bentuk perlawanan biasa. Seperti Tamil Eelam, pimpinan Vellupilai Prabakharan di Srilanka Timur, misalnya. Ketika Prabakharan terbunuh oleh pasukan Sri Lanka (2009), tamatlah Tamil Eelam.
Terbunuhnya, hampir sebagian besar pimpinan Hamas pasca 7 Oktober 2023: Ismail Haniyeh, Yahya Sinwar, Mohammed Deif, Saleh Al-Aroury, Mohammad Sinwar, Mohammad Shaibana, oleh operasi militer Israel. Mestinya Hamas tamat?
“Elektikos” (elektik), atau “memilih” dalam frasa Yunani kuno. Hamas yang ideologis, punya mekanisme dalam memilih regenerasi kepemimpinannya.

Daya tahan Hamas meski dibayar 67.000 martir rakyat sipil, membuktikan. Elektikos (regenerasi) Hamas, berjalan otomatis. Setiap suksesor adalah ‘ideolog’, yang kini disebut angkatan generasi 2005.
Habisnya para pemimpin Hamas dari Gaza Selatan (Sinwar, Haniyeh, Al-Aroury, Shaibana, Deif), memunculkan pemimpin level di bawahnya. Untuk melakukan suksesi alami.
Tanpa pemimpin “mainstream”, Hamas tak kalah! Tidak menyerah! Pengepungan, dan pemboman setiap hari IDF ke seluruh Gaza, hanya membunuh rakyat. Menyempurnakan Netanyahu untuk kelak di bawa ke ICC-ICJ.
Seandainya Israel optimistis akan menang. Mengalahkan Hamas. Tak akan terjadi gencatan senjata, dan 20 poin “Trumphis” (9 Oktober 2025) ditandatangani.
“Trumphis”, semacam “Rencana Trump”, yang bertujuan mencapai apa yang diinginkannya. Perdamaian Gaza, yang telah lama “mengganggu” nama baik Trump di “Sahabat Arab”nya, menjadikannya Israel tunduk dan patuh.
Israel, tentu akan mengatakan, telah memenangkan pertempuran.Variabelnya: 99 persen Gaza hancur, komparasi terbunuh (67.000 berbanding katakanlah 2.700-an), Palestina tidak otomatis merdeka, Israel masih bisa ingkar janji melanggar “Trumphis”!
Sebagai kelompok ideologis, Hamas melihat sebaliknya. Azas kuantitatif yang menguntungkan Palestina. Celahnya, sangat besar. Hipotesis konklusif, objektif, dan non-numerik mengancam Israel. Eksistensi Netanyahu pasca-perang adalah ‘aib’ Israel.
Bangsa Israel, kini tak punya harapan. Menghapus catatan PM Netanyahu dan mantan Menhan Joav Gallant, atau semacam permintaan maaf selaku penjahat kemanusiaan (perang). Netanyahu rentan.
Kurun krusial Netanyahu akan tiba. Demi kebaikan bangsa Israel. “Israel harus melakukan “laundring warehouse”. Tokoh Partai Likud yang berkuasa sejak 1996 ini, akan dipaksa “minggir” dalam Pemilu 2026.
Paradigma keadilan transisi, akan memaksa Israel melakukannya. Perang berakhir, sandera Israel dibebaskan. Namun, tidak akan ada akhir proses hukum terhadap Netanyahu-Gallant, bahkan mungkin terhadap tokoh, Israel lain.

Mahkamah Pidana Internasional dan Peradilan Kriminal Internasional (ICJ-ICC), dikutip dari “Jerusalem Post” (10 Oktober 2025), mengatakan. Surat perintah penangkapan Netanyahu-Gallant telah disetujui pengadilan ICC, November lalu. Jadi?
Masa depan Netanyahu, tentu tidak pasti. Hamas juga. Namun, tujuan Hamas yang ideologis yaitu kemerdekaan. Membuat point ke-13 “Trumphis” (Trump Plan): “Hamas setuju tidak diberi peran apa pun di masa depan”. Menjadi penting. Terlebih Hamas setuju!
Netanyahu suram. Terlebih tokoh Hamas yang linear dengan Netanyahu-Gallant, Yahya Sinwar-Mohammad Deif-Ismail Haniyeh, yang juga dicap melakukan kejahatan (menyerang Israel), telah terbunuh. Sehingga ICJ dan ICC, menghapusnya untuk diadili.
Kepemimpinan tempur “Generasi 2005”, yang kini berada di tangan: Izz al-Din Al Haddad dan Kepala Staf Hamas, Raed Saad, bersipat ‘status quo’.
Hilangnya diksi perlucutan senjata Hamas (demiliterisasi), menjadi me-nonaktifkan senjata (poin ke-6 Trump Plan), membuat Hamas ‘legowo’. Ini penting, untuk menjaga keseimbangan perdamaian.
GENERASI 2005
Mengawal kemerdekaan bangsa Palestina, sebelum bubar dan melebur. Hamas ingin menunjukkan koeksistensinya, sesuai poin ke-1 “Trump Plan”: Gaza menjadi zona bebas teror yang telah diradikalisasi, dan ‘nir-ancaman’.
Duet fanatis Raed Saad dan pragmatis Izz al-Din Al Haddad (tempur Hamas), merupakan sedikit “arsitek” 7 Oktober 2023 (Banjir Al Aqsa) yang tersisa. Keduanya merupakan komandan lapangan yang lahir dari ‘Intifada I’.
Intifada I yang berarti pemberontakan (1987-1993) di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, mematangkan Saad-Haddad. Masuk penjara Israel, keduanya semakin terlatih tempur di Intifada ke-2 (2000-2005).
Saad-Haddad (Yedioth Ahronoth) memandang diri mereka sebagai generasi Palestina yang mengusir Israel dari Jalur Gaza (2005). Inilah yang memungkinkan Hamas, berevolusi dari gerakan gerilya menjadi jihadis yang kuat dan ideologis.

Saad yang mengarahkan Hamas ke arah lebih radikal, berbeda dengan Ismail Haniyeh-Khaled Meshaal. Yang naik ke tampuk kepemimpinan Hamas lewat diplomasi. Keberadaan Izz al-Din Al Haddad (bukan Raed Saad ), demi menjaga cairnya diplomasi. Saad-Haddad, ikon baru Hamas.
Mendirikan Akademi Militer Hamas (AMH), Saad-lah yang menyiapkan doktrin tempur, perang kota, serangan lintas batas, taktik artileri. Sebagai komandan brigade Kota Gaza, Saad mengawasi produksi senjata, pengembangan roket sebelum 7 Oktober.
Eksistensi Saad-Haddad, menandai kepimpinan Hamas, tidak lagi berada di Faksi Selatan (Sinwar bersaudara dan Deif). Saad-Haddad adalah dua sosok oposisi Hamas (bukan ideologi) yang kritis.
Kini Saad memainkan peran sentral dalam membimbing komandan brigade baru, menggantikan mereka yang tewas. Sebagai ‘Elektikos’, dia memilih, dan menunjuk, serta mengadaptasi kondisi tersulit Hamas. Akibat perang ‘asimetris’ melawan Israel.
Ancaman Netanyahu untuk men-demiliterisasi Hamas dengan cara mudah, atau sulit (The Guardian, 11 Oktober 2025), ‘lamat-lamat’ (samar) terdengar.
Bagi Hamas, itu tidak penting. Raed Saad, Izz al-Din Al Haddad, dan Mohammed Ouda (Kepala Intelejen Hamas), akan mengawal keseriusan perdamaian Netanyahu. Demiliterisasi Hamas, tergantung sikap Israel terhadap rakyat Palestina.
Saad, Haddad, dan Ouda, akan berada di garis depan mengupayakankeadilan bagi bangsa Palestina. Yang kini, mulai kembali ke reruntuhan rumah mereka di Gaza Utara.
Kapan Palestina merdeka? Itu sisi lain. Namun, persepektif Oslo, berbeda dengan Kairo. Israel harus serius berdamai. Agar terorisme bisa terhapus. * (Syam/Wah) – Foto: Istimewa





