Penulis: Sabpri Piliang – Pengamat Timur Tengah
Jakarta, Mediaprofesi.id – “GULMA”, atau ilalang. Menjadi perintang perdamaian oleh Israel. Gulma yang liar, adalah “rumah” berlindung para “hama”. Israel butuh “gulma”, untuk melanjutkan perang.
“Gulma”! Satu alasan Israel melanjutkan perang. Israel menilai, Hamas melanggar ‘Pasal 4’ Prakarsa Trump. Yaitu, seluruh 48 sandera Israel harus bebas dalam (72 jam).
Meski, 20 sandera hidup telah dibebaskan. Namun 28 sandera yang terbunuh, berada di ‘belantara’ puing Gaza. Gempuran “membabi buta” pesawat Israel, telah me-reposisi jenazah dalam timbunan puing baru.
Israel butuh ‘legitimasi’. Israel perlu dukungan dalam bingkai ‘pelanggaran’ Hamas. “Gulma”, menyulitkan Hamas. Mayat bertahun, yang tewas sejak 7 Oktober 2023, atau tewas oleh bom Israel, tertimbun lebih dalam.
Satu-satunya kesempatan tokoh garis keras Israel: Bezalel Smotrich dan Ittamar Ben Gvir meneruskan “niat tak sampai”nya, ada di poin ini. Sejatinya, keduanya ingin menang mutlak.
Diksi Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz. “Israel akan melanjutkan perang, bila Hamas melanggar kesepakatan sandera,”. Sejalan pula, dengan pernyataan Trump kepada CNN. Seperti dikutip “Ahaaretz”, 16 Oktober 2025.
“Israel dapat memulai kembali pertempuran di Gaza, segera setelah saya mengatakannya, jika Hamas tidak mematuhi kesepakatan. Trump akan mempertimbangkan mengizinkan Israel untuk memulai,”kata Trump kepada Jake Tapper (CNN).

Hamas yang memahami ‘empiris’ karakter Israel, bertekad menutup celah ini. Perang tidak seimbang (asimetris), dan cara ‘lateral’ Israel memakai “senjata kelaparan”, memacu Hamas menemukan semua jenazah.
Pemerintahan Sayap Kanan Israel, pada dasarnya tak ingin berdamai. KTT Sharm El Sheikh (Mesir) dalam ‘draft’ ke-19. “Kemajuan pembangunan Gaza, akan menuju jalur kredibel menuju nasib sendiri dan kenegaraan Palestina. Yang diakui sebagai aspirasi rakyat Palestina.
Bagi Israel ini tidak ‘utopis’. Keberadaan negara Palestina, dengan alasan apa pun, menjadi ‘distopia’. Menjadi ancaman yang ‘paranoia’, sehingga itu tidak boleh terjadi.
Kembalinya 20 sandera hidup, itu sudah cukup oleh koalisi pemerintah. Bagi PM Benyamin Netanyahu, ini akan mengakhiri tekanan internal, sekaligus modal politik ikut kembali dalam Pemilu 2026.
Psikologis publik Israel pada sandera hidup dan meninggal, tidak akan sama. Semisal, Hamas sulit menemukan seluruh jenazah, lalu dijadikan ‘trigger’ (statemen Trump dan Katz). Hamas tak punya pilihan. Perang lagi!
Netanyahu akan lebih mudah memberi pengertian kepada 11 juta rakyat Israel. Memoar “Banjir Al Aqso” (7 Oktober 2023), jadi “obat penenang” rakyat Israel, untuk sepakat melanjutkan perang. Hamas harus dituntaskan!
Donald Trump yang sikapnya ‘mudah berubah’, dipahami Israel sebagai modal, menghanguskan 20 “Prakarsa Trump”. Bisa jadi, telah ada pembicaraan “empat mata” Trump-Netanyahu, untuk mensiasati hal ini.
Hamas yang sepakat tidak ikut dalam rekonstruksi Gaza. Menginformasikan, semua jenazah sandera yang bisa dijangkau. Telah ditemukan. Tersirat, hasil gempuran Israel, meng-acak posisi “simpanan” jenazah dan berpindah tempat.
“Moral hazard” Netanyahu-Smotrich-Ben Gvir-Katz, tentu menjadi analisa banyak pihak. Israel, sesungguhnya sudah tidak peduli dengan jenazah. Kesulitan Hamas menemukannya, adalah “modal” yang disyukuri sebagai ‘revenue’ yang ‘utopis’.
KOORDINASI ISRAEL-AS

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, seperti dikutip “Times Of Israel (15 Oktober 2025) mengingatkan. Dia akan memerintahkan militer menyiapkan rencana menghancurkan Hamas. Jika terjadi pertempuran baru.
Jika Hamas menolak mematuhi perjanjian (baca: pembebasan sandera mati), Israel akan berkoordinasi dengan AS. Melanjutkan pertempuran untuk kekalahan total Hamas.
Israel akan mengubah realitas Gaza, dan mencapai semua tujuan perang. Israel nampaknya memanfaatkan ‘gulma’ (ilalang) yang semestinya dalam kerangka berpikir, betapa sulitnya memetakan Gaza yang telah hancur.
Sayap militer Hamas, Izzedin Al Qassam yang dipimpin trio: Izz Al Din Al Haddad (Panglima)-Raed Saad (Kepala Staf)-Mohammad Ouda (Kepala Intelejen), di sisi lain, dengan tenang mengatakan.
Hamas telah memenuhi kewajibannya, berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang didukung AS. Hamas sudah mengembalikan semua sandera hidup, serta semua tawanan tewas “yang dapat mereka jangkau”.
Trump (Times Of Israel) juga mengakui kesulitan yang dialami Hamas. Mayat yang sudah lama berada di bawah terowongan, harus memisahkan mereka, dan ini prosesnya mengerikan. Sulit!
Gulma adalah ilalang, penghalang yang menghalangi substansi perdamaian. Bagi Hamas, membebaskan sandera hidup adalah “perjudian”. Untuk apa menahan sandera tewas, tentu tidak bermanfaat dijadikan alat “bargaining”.
KTT Sharm El Sheikh adalah satu taruhan. Sejauh mana, AS dan 20 negara yang menghadiri pertemuan tersebut, menjaga wibawanya. “Mengunci Israel”. Seandainya sandera mati gagal ditemukan, kemudian memantik Israel menyerang Gaza kembali.
Saya teringat Francis Bacon (filsuf dan negarawan Inggris: 1569-1626: “Tak ada yang lebih menyakitkan. Kecuali terhadap orang-orang licik yang tampil bijaksana”.
Israel telah menjadi satu kekuatan yang “menampar” dunia. Ironi. Semoga ini tidak terjadi. Beri Hamas waktu untuk menemukan seluruh jenazah. * (Syam) – Foto: Istimewa





