Jakarta, Mediaprofesi.id – Gelombang AI kini bukan lagi sekadar tren teknologi. Di tengah semakin rumitnya sistem IT modern, perusahaan justru menghadapi tantangan baru: bagaimana menjalankan inovasi AI tanpa mengorbankan sistem lama yang masih menopang bisnis sehari-hari.
Hal inilah yang disoroti President dan CEO Red Hat, Matt Hicks dalam keynote hari pertama Red Hat Summit 2026. Menurutnya, dunia IT tengah memasuki titik perubahan besar, setara dengan era Linux dan Kubernetes sebelumnya. Kini, AI menjadi gelombang disruptif berikutnya yang mengubah cara perusahaan bekerja.
Ada satu masalah besar: model AI saja tidak cukup
Di dunia enterprise, AI membutuhkan “skill” agar benar-benar bisa bekerja secara nyata. Red Hat melihat bahwa tanpa kemampuan spesifik, model AI ibarat mobil sport tanpa setir — canggih, tapi tidak tahu harus melaju ke mana.
Karena itu, Red Hat resmi meluncurkan skill repository khusus lengkap dengan bundling skill Red Hat. Langkah ini dirancang untuk membantu agen AI bekerja lebih cerdas, lebih relevan, dan lebih terhubung dengan kebutuhan operasional perusahaan.
Skill tersebut memungkinkan agen AI melakukan berbagai tugas teknis seperti patching, membaca log, troubleshooting kode, hingga mengakses knowledge base dan membuka support ticket secara otomatis. Semuanya dikemas dalam satu ekosistem terpadu melalui platform Red Hat Skills.

Pendekatan ini sekaligus menandai perubahan besar dalam evolusi AI enterprise. Agen AI tak lagi hanya berfungsi sebagai chatbot yang menjawab pertanyaan sederhana. Dengan kombinasi skill repository, orkestrasi AI, dan server Model Context Protocol (MCP), agen AI kini diposisikan sebagai “superuser” yang mampu menjalankan tugas kompleks secara mandiri.
Red Hat juga menegaskan bahwa pendekatan mereka tetap mengusung prinsip open source. Artinya, perusahaan memiliki kontrol penuh terhadap fondasi AI yang digunakan sekaligus bisa ikut berkontribusi dalam pengembangannya.
Menariknya, teknologi ini tidak hanya ditawarkan ke pelanggan. Red Hat mengaku sudah mulai menerapkannya secara internal. Agen riset berbasis model open source kini berjalan di infrastruktur mereka sendiri dan mulai mengubah cara kerja perusahaan sehari-hari.
Bagi Red Hat, masa depan AI bukan sekadar janji manis di slide presentasi. Masa depan itu sedang dibangun sekarang — lewat AI yang tidak hanya pintar menjawab, tetapi juga mampu bekerja nyata di lingkungan produksi. * (Syam/Pra)





