Jakarta, Mediaprofesi.id – Belakangan ini, ada dua istilah yang semakin akrab terdengar dalam percakapan sehari-hari, khususnya di kalangan milenial dan Gen Z: “yesss” dan “in this economy”.
Keduanya kerap muncul dalam percakapan melalui ponsel maupun interaksi langsung. “Yesss”, misalnya, digunakan untuk menggantikan kata “ya” atau sebagai bentuk persetujuan. Contohnya, “Dateline hari ini, yess mas!”
Sementara itu, ungkapan “in this economy” biasanya digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja. Kalimat tersebut sering muncul sebagai respons terhadap sesuatu yang dianggap membutuhkan pengeluaran besar atau kurang masuk akal dilakukan dalam situasi ekonomi tertentu.
Fenomena penggunaan istilah asing di tengah percakapan berbahasa Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Dalam ilmu linguistik, penggunaan dua bahasa atau lebih secara bersamaan dikenal sebagai campur kode (code mixing).
Lantas, mengapa kebiasaan ini semakin mudah ditemukan dalam komunikasi sehari-hari?
Ada sejumlah faktor yang memengaruhinya. Pergaulan menjadi salah satunya. Lingkungan sosial, pertemanan, hingga paparan terhadap konten digital membuat seseorang semakin terbiasa menggunakan istilah dari bahasa lain.
Selain itu, keterbatasan atau ketidaktepatan padanan kata juga bisa menjadi alasan. Ada istilah tertentu yang dirasa lebih singkat, praktis, atau lebih mampu menggambarkan maksud pembicara dibandingkan ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Faktor lain yang tidak kalah menarik adalah tren dan gengsi. Penggunaan istilah asing terkadang dianggap lebih modern, kekinian, atau menunjukkan bahwa seseorang mengikuti perkembangan zaman.
Di satu sisi, campur kode memiliki sejumlah manfaat. Penggunaan bahasa yang bercampur dapat membuat komunikasi terasa lebih cair, akrab, dan mudah diterima dalam kelompok tertentu. Bahkan, pilihan bahasa bisa menjadi penanda identitas sosial sebuah komunitas.
Dalam konteks tertentu, campur kode juga justru membuat pesan lebih efektif karena istilah yang digunakan sudah dipahami bersama oleh pihak-pihak yang berkomunikasi.
Namun, kebiasaan tersebut bukan tanpa sisi negatif.
Penggunaan bahasa campuran yang berlebihan dapat membuat bahasa baku semakin jarang digunakan dalam situasi yang seharusnya formal. Lebih dari itu, komunikasi juga berpotensi menimbulkan kebingungan apabila lawan bicara tidak memahami istilah asing yang digunakan.
Pada akhirnya, bahasa memang selalu berkembang mengikuti masyarakat yang menggunakannya. Munculnya “yesss”, “in this economy”, dan berbagai istilah baru lainnya menunjukkan bahwa bahasa bukan sesuatu yang kaku.
Yang menjadi penting adalah bagaimana kita menempatkan bahasa sesuai konteks. Dalam percakapan santai, bahasa campuran mungkin terasa wajar dan bahkan mempererat hubungan. Namun, dalam situasi formal, penggunaan bahasa yang tepat tetap diperlukan agar pesan tersampaikan dengan jelas.
Sebab, bahasa pada dasarnya bukan sekadar soal kata-kata, tetapi juga tentang siapa yang berbicara, kepada siapa, dalam situasi apa, dan untuk tujuan apa. * (penulis: priambodo, communication and freelance writer)





