MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Senin, 14 September 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Senin, 14 September 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

“Yesss” dan “In This Economy” Makin Sering Dipakai, Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Bahasa Kita?

Pratama by Pratama
Senin, 14 September 2026
in Gaya Hidup
“Yesss” dan “In This Economy” Makin Sering Dipakai, Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Bahasa Kita?
15
VIEWS

Jakarta, Mediaprofesi.id – Belakangan ini, ada dua istilah yang semakin akrab terdengar dalam percakapan sehari-hari, khususnya di kalangan milenial dan Gen Z: “yesss” dan “in this economy”.

Keduanya kerap muncul dalam percakapan melalui ponsel maupun interaksi langsung. “Yesss”, misalnya, digunakan untuk menggantikan kata “ya” atau sebagai bentuk persetujuan. Contohnya, “Dateline hari ini, yess mas!”

Sementara itu, ungkapan “in this economy” biasanya digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja. Kalimat tersebut sering muncul sebagai respons terhadap sesuatu yang dianggap membutuhkan pengeluaran besar atau kurang masuk akal dilakukan dalam situasi ekonomi tertentu.

Fenomena penggunaan istilah asing di tengah percakapan berbahasa Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Dalam ilmu linguistik, penggunaan dua bahasa atau lebih secara bersamaan dikenal sebagai campur kode (code mixing).

Lantas, mengapa kebiasaan ini semakin mudah ditemukan dalam komunikasi sehari-hari?

Ada sejumlah faktor yang memengaruhinya. Pergaulan menjadi salah satunya. Lingkungan sosial, pertemanan, hingga paparan terhadap konten digital membuat seseorang semakin terbiasa menggunakan istilah dari bahasa lain.

Selain itu, keterbatasan atau ketidaktepatan padanan kata juga bisa menjadi alasan. Ada istilah tertentu yang dirasa lebih singkat, praktis, atau lebih mampu menggambarkan maksud pembicara dibandingkan ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Faktor lain yang tidak kalah menarik adalah tren dan gengsi. Penggunaan istilah asing terkadang dianggap lebih modern, kekinian, atau menunjukkan bahwa seseorang mengikuti perkembangan zaman.

Di satu sisi, campur kode memiliki sejumlah manfaat. Penggunaan bahasa yang bercampur dapat membuat komunikasi terasa lebih cair, akrab, dan mudah diterima dalam kelompok tertentu. Bahkan, pilihan bahasa bisa menjadi penanda identitas sosial sebuah komunitas.

Dalam konteks tertentu, campur kode juga justru membuat pesan lebih efektif karena istilah yang digunakan sudah dipahami bersama oleh pihak-pihak yang berkomunikasi.

Namun, kebiasaan tersebut bukan tanpa sisi negatif.

Penggunaan bahasa campuran yang berlebihan dapat membuat bahasa baku semakin jarang digunakan dalam situasi yang seharusnya formal. Lebih dari itu, komunikasi juga berpotensi menimbulkan kebingungan apabila lawan bicara tidak memahami istilah asing yang digunakan.

Pada akhirnya, bahasa memang selalu berkembang mengikuti masyarakat yang menggunakannya. Munculnya “yesss”, “in this economy”, dan berbagai istilah baru lainnya menunjukkan bahwa bahasa bukan sesuatu yang kaku.

Yang menjadi penting adalah bagaimana kita menempatkan bahasa sesuai konteks. Dalam percakapan santai, bahasa campuran mungkin terasa wajar dan bahkan mempererat hubungan. Namun, dalam situasi formal, penggunaan bahasa yang tepat tetap diperlukan agar pesan tersampaikan dengan jelas.

Sebab, bahasa pada dasarnya bukan sekadar soal kata-kata, tetapi juga tentang siapa yang berbicara, kepada siapa, dalam situasi apa, dan untuk tujuan apa. * (penulis: priambodo, communication and freelance writer)

Post Views17 Views
Tags: bahasa campurcampur kodeGen ZMilenial

Related Posts

Agoda: Gen Z Indonesia Pilih Liburan Singkat, Lebih Sering, dan Wisata Domestik
Gaya Hidup

Agoda: Gen Z Indonesia Pilih Liburan Singkat, Lebih Sering, dan Wisata Domestik

by Pratama
Selasa, 14 April 2026
11
Garda Oto Raih Marketeers Youth Choice Award 2026
Ekonomi

Garda Oto Raih Marketeers Youth Choice Award 2026

by Wahyu
Sabtu, 14 Februari 2026
18

RECOMMENDED

Merasa Sehat Belum Tentu Aman, Hipertensi Diam-Diam Bisa Berujung Stroke

Merasa Sehat Belum Tentu Aman, Hipertensi Diam-Diam Bisa Berujung Stroke

14 September 2026
6
“Yesss” dan “In This Economy” Makin Sering Dipakai, Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Bahasa Kita?

“Yesss” dan “In This Economy” Makin Sering Dipakai, Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Bahasa Kita?

14 September 2026
15

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    598 shares
    Share 239 Tweet 150
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    399 shares
    Share 160 Tweet 100
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    391 shares
    Share 156 Tweet 98
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    361 shares
    Share 144 Tweet 90
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    359 shares
    Share 144 Tweet 90
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi
  • Contact
  • Media Partner

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM