Jakarta, Mediaprofesi.id – Keputusan The Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) menjadi sinyal penting bagi pasar global. Setelah lebih dari tiga tahun tidak melakukan kenaikan, bank sentral AS kini kembali mengambil langkah hawkish di tengah meningkatnya risiko inflasi.
Dalam FOMC 15–16 September, The Fed menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis points (bps) menjadi 3,75%–4,00%, sesuai dengan konsensus pasar. Menurut Syailendra Research, keputusan tersebut menandai pergeseran stance The Fed dari wait-and-see menjadi lebih hawkish.
Salah satu pemicunya adalah kembali melonjaknya harga energi. Harga minyak yang menembus US$100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi AS.
Data menunjukkan, inflasi konsumen (CPI) AS pada Agustus mencapai 3,4% secara tahunan, sedangkan core CPI berada di 2,4%. Kondisi ini memperlihatkan tekanan inflasi headline kembali meningkat, meski inflasi inti masih relatif terkendali.
Syailendra Research menilai risiko second-round effect dari kenaikan harga energi menjadi perhatian The Fed. Karena itu, langkah menaikkan suku bunga dilakukan lebih pre-emptive untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terjangkar menuju target 2%.
The Fed Naikkan Bunga Saat Yield AS Sudah Tinggi
Yang menarik, kenaikan FFR terjadi ketika imbal hasil US Treasury (UST) justru sudah meningkat signifikan. Yield UST 10 tahun bahkan sempat menembus 5%, level tertinggi sejak 2023, sebelum kembali sedikit turun.
Kenaikan yield tersebut tidak hanya mencerminkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Faktor lain seperti meningkatnya risiko inflasi, harga minyak, serta kekhawatiran terhadap kebutuhan pembiayaan fiskal AS turut memberikan tekanan.
Situasi semakin menarik karena kebijakan Treasury AS dan The Fed bergerak dalam arah berbeda.
Di satu sisi, Treasury di bawah Scott Bessent meningkatkan program UST buyback hingga US$6 miliar per operasi untuk meredam tekanan pada long-end yield. Di sisi lain, The Fed justru menaikkan FFR 25 bps yang berpotensi memperketat financial conditions.
Perbedaan arah kebijakan tersebut menjadi perhatian investor karena tekanan terhadap pasar obligasi AS dapat berdampak lebih luas jika berkembang menjadi sentimen risk-off global.
Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?
Untuk sementara, dampak terhadap pasar Indonesia masih relatif terbatas. Dalam satu bulan terakhir, yield UST 10 tahun meningkat sekitar 28 bps, jauh lebih besar dibandingkan kenaikan yield SUN 10 tahun yang hanya sekitar 6 bps.
Rupiah juga masih relatif stabil. Menurut Syailendra Research, kondisi ini mengindikasikan kenaikan yield AS sejauh ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik AS, bukan tekanan global yang langsung menular ke pasar negara berkembang.
Namun, situasi dapat berubah apabila tekanan di pasar AS semakin besar dan memicu global risk-off. Dalam skenario tersebut, risiko pelemahan Rupiah serta kenaikan risk premium aset emerging market dapat meningkat.
Karena itu, arah dan timing kebijakan The Fed menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor Indonesia. Bukan hanya keputusan suku bunga berikutnya, tetapi juga bagaimana bank sentral AS merespons perkembangan inflasi, harga energi, dan kondisi pasar obligasi. * (Syam/Wah)





