Jakarta, Mediaprofesi.id – Pergantian Menteri Keuangan datang ketika pasar saham Indonesia justru sedang berada di persimpangan penting. IHSG telah mengalami re-rating sekitar 18% sejak awal paruh kedua 2026, tetapi ruang kenaikan berikutnya dinilai tidak lagi semudah sebelumnya.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat investor kini harus lebih selektif. Bukan hanya mencermati arah indeks, tetapi juga menghitung dampak perubahan kebijakan fiskal, arus dana asing, pergerakan rupiah hingga kemampuan emiten mencetak kinerja.
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi sinyal positif bagi pasar. Latar belakang Suahasil di bidang kebijakan fiskal dan pengalamannya di Kementerian Keuangan dinilai menjadi modal penting.
Namun, investor disebut tidak akan berhenti pada sentimen pergantian pejabat. Perhatian berikutnya tertuju pada seberapa konsisten kebijakan pemerintah dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal.
“Pergantian Menteri Keuangan ini menjadi sinyal positif bagi pasar. Namun, yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal,” ujar Rully.
Respons pasar pun masih terlihat hati-hati. IHSG sempat terkoreksi lebih dari 2% secara intraday sebelum akhirnya ditutup relatif datar di level 6.535. Menurut Rully, pasar masih menilai arah kebijakan fiskal dan kualitas komunikasi pemerintah.
Dari eksternal, kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin pada September dinilai sudah relatif priced in. Fokus investor Indonesia kini bergeser ke rupiah karena pergerakannya akan menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia.
“Kenaikan 25 basis poin dari The Fed relatif sudah priced in. Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah,” katanya.
Setelah re-rating yang cukup cepat, tantangan pasar berikutnya adalah membuktikan apakah kenaikan IHSG ditopang fundamental yang kuat. Arus dana asing juga masih terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan dan sejumlah saham komoditas.
“Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif,” tegas Rully.
Penguatan rupiah dan kondisi eksternal yang lebih kondusif memang menjadi katalis positif. Namun, kesinambungan capital inflows tetap menjadi kunci. Di pasar SBN, koordinasi kebijakan juga dibutuhkan agar kenaikan yield berlangsung gradual.
Rully mengingatkan, perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating dapat memicu repricing yang lebih tajam.
Saham Komoditas Tak Bisa Lagi Dipukul Rata

Selektivitas juga semakin penting di sektor komoditas. Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Fauzan Luthfi Djamal, menilai perubahan kebijakan pemerintah akan menciptakan dampak yang berbeda pada tiap emiten.
Pelonggaran RKAB batu bara, misalnya, lebih tepat dilihat sebagai dispersion event, bukan keuntungan otomatis bagi seluruh saham batu bara. Tambahan volume produksi dapat memberikan dampak berbeda tergantung posisi dan fundamental masing-masing perusahaan.
Di sektor nikel, keterbatasan pasokan bijih justru memperkuat posisi perusahaan tambang karena bargaining power meningkat. Sebaliknya, sejumlah perusahaan converter berpotensi menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya feedstock.
Peluang lain datang dari rencana Commodity Exchange yang ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Kehadiran bursa tersebut berpotensi memperkuat price discovery dan menciptakan referensi harga komoditas domestik.
Namun, dampaknya terhadap pricing power Indonesia akan sangat bergantung pada likuiditas bursa dan seberapa luas harga domestik digunakan sebagai benchmark.
Fauzan pun melihat peluang lebih menarik pada emiten yang memiliki scarcity, pricing power, serta posisi strategis dalam rantai pasok.
“Tidak semua saham komoditas akan bergerak dengan arah yang sama meskipun harga komoditasnya naik,” tutup Fauzan. * (Syam/Wah)





