MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Kamis, 17 September 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Kamis, 17 September 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

The Fed Kembali Naikkan Bunga, Pasar Indonesia Mulai Waspada: Apa Dampaknya ke Rupiah dan SUN?

Wahyu by Wahyu
Kamis, 17 September 2026
in Ekonomi
The Fed Kembali Naikkan Bunga, Pasar Indonesia Mulai Waspada: Apa Dampaknya ke Rupiah dan SUN?
2
VIEWS

Jakarta, Mediaprofesi.id – Keputusan The Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) menjadi sinyal penting bagi pasar global. Setelah lebih dari tiga tahun tidak melakukan kenaikan, bank sentral AS kini kembali mengambil langkah hawkish di tengah meningkatnya risiko inflasi.

Dalam FOMC 15–16 September, The Fed menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis points (bps) menjadi 3,75%–4,00%, sesuai dengan konsensus pasar. Menurut Syailendra Research, keputusan tersebut menandai pergeseran stance The Fed dari wait-and-see menjadi lebih hawkish.

Salah satu pemicunya adalah kembali melonjaknya harga energi. Harga minyak yang menembus US$100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi AS.

Data menunjukkan, inflasi konsumen (CPI) AS pada Agustus mencapai 3,4% secara tahunan, sedangkan core CPI berada di 2,4%. Kondisi ini memperlihatkan tekanan inflasi headline kembali meningkat, meski inflasi inti masih relatif terkendali.

Syailendra Research menilai risiko second-round effect dari kenaikan harga energi menjadi perhatian The Fed. Karena itu, langkah menaikkan suku bunga dilakukan lebih pre-emptive untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terjangkar menuju target 2%.

The Fed Naikkan Bunga Saat Yield AS Sudah Tinggi

Yang menarik, kenaikan FFR terjadi ketika imbal hasil US Treasury (UST) justru sudah meningkat signifikan. Yield UST 10 tahun bahkan sempat menembus 5%, level tertinggi sejak 2023, sebelum kembali sedikit turun.

Kenaikan yield tersebut tidak hanya mencerminkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Faktor lain seperti meningkatnya risiko inflasi, harga minyak, serta kekhawatiran terhadap kebutuhan pembiayaan fiskal AS turut memberikan tekanan.

Situasi semakin menarik karena kebijakan Treasury AS dan The Fed bergerak dalam arah berbeda.

Di satu sisi, Treasury di bawah Scott Bessent meningkatkan program UST buyback hingga US$6 miliar per operasi untuk meredam tekanan pada long-end yield. Di sisi lain, The Fed justru menaikkan FFR 25 bps yang berpotensi memperketat financial conditions.

Perbedaan arah kebijakan tersebut menjadi perhatian investor karena tekanan terhadap pasar obligasi AS dapat berdampak lebih luas jika berkembang menjadi sentimen risk-off global.

Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

Untuk sementara, dampak terhadap pasar Indonesia masih relatif terbatas. Dalam satu bulan terakhir, yield UST 10 tahun meningkat sekitar 28 bps, jauh lebih besar dibandingkan kenaikan yield SUN 10 tahun yang hanya sekitar 6 bps.

Rupiah juga masih relatif stabil. Menurut Syailendra Research, kondisi ini mengindikasikan kenaikan yield AS sejauh ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik AS, bukan tekanan global yang langsung menular ke pasar negara berkembang.

Namun, situasi dapat berubah apabila tekanan di pasar AS semakin besar dan memicu global risk-off. Dalam skenario tersebut, risiko pelemahan Rupiah serta kenaikan risk premium aset emerging market dapat meningkat.

Karena itu, arah dan timing kebijakan The Fed menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor Indonesia. Bukan hanya keputusan suku bunga berikutnya, tetapi juga bagaimana bank sentral AS merespons perkembangan inflasi, harga energi, dan kondisi pasar obligasi. * (Syam/Wah)

Post Views3 Views
Tags: BIcpi asFOMCIHSGinflasiInvestorOJKPasar SahamRupiahSuku BungasunThe FedTreasury AS

Related Posts

Ganti Menteri Keuangan di Tengah IHSG Re-Rating 18%, Mirae Asset Ingatkan Investor Makin Selektif
Ekonomi

Ganti Menteri Keuangan di Tengah IHSG Re-Rating 18%, Mirae Asset Ingatkan Investor Makin Selektif

by Wahyu
Selasa, 15 September 2026
23
Waspada Keuangan Ilegal! FIFGROUP Bersama Astra Financial Perkuat Literasi hingga ke Guru dan Pelajar
Sosialita

Waspada Keuangan Ilegal! FIFGROUP Bersama Astra Financial Perkuat Literasi hingga ke Guru dan Pelajar

by Pratama
Senin, 14 September 2026
30

RECOMMENDED

The Fed Kembali Naikkan Bunga, Pasar Indonesia Mulai Waspada: Apa Dampaknya ke Rupiah dan SUN?

The Fed Kembali Naikkan Bunga, Pasar Indonesia Mulai Waspada: Apa Dampaknya ke Rupiah dan SUN?

17 September 2026
2
75 Ribu Pelaku Industri Berkumpul di IEE Series 2026, Bisnis Energi dan Engineering Makin Terkoneksi

75 Ribu Pelaku Industri Berkumpul di IEE Series 2026, Bisnis Energi dan Engineering Makin Terkoneksi

16 September 2026
18

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    599 shares
    Share 240 Tweet 150
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    400 shares
    Share 160 Tweet 100
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    393 shares
    Share 157 Tweet 98
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    362 shares
    Share 145 Tweet 91
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    360 shares
    Share 144 Tweet 90
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi
  • Contact
  • Media Partner

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM