Jakarta, Mediaprofesi.id – Pasar keuangan Indonesia kembali mendapat tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, Rupiah menembus Rp18.100 per dolar AS, sementara investor asing terus melepas saham domestik. Kombinasi ini memperbesar kekhawatiran terhadap prospek investasi Indonesia di tengah ketidakpastian kebijakan indeks global MSCI.
Pada perdagangan Senin, IHSG terkoreksi 1,22%, memangkas sebagian kenaikan pekan sebelumnya. Tekanan jual asing kembali meningkat dengan nilai penjualan bersih harian menembus Rp2 triliun, melanjutkan tren net sell sejak pengumuman konsultasi reklasifikasi MSCI.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pelemahan saham yang terjadi bersamaan dengan depresiasi Rupiah mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek investasi dan kerentanan eksternal Indonesia.
Pembelian oleh investor domestik sejauh ini masih membantu menyerap arus dana asing yang keluar. Namun, percepatan tekanan jual memunculkan pertanyaan besar: sampai kapan investor lokal mampu menopang pasar tanpa penyesuaian harga lebih lanjut?
Menurut Rully, ketidakpastian MSCI dan tekanan eksternal yang meningkat membuat pasar masih perlu diwaspadai. Arus dana asing serta stabilitas Rupiah akan menjadi faktor penting yang menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya.
Rupiah Makin Tertekan, Risiko Obligasi Membesar
Tekanan juga terlihat di pasar valuta asing. Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mencatat Rupiah sempat menyentuh Rp18.129 per dolar AS secara intraday sebelum ditutup melemah 0,30% ke level Rp18.135 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY) turun tipis 0,01%. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan terhadap Rupiah masih kuat, bahkan ketika dolar AS tidak menunjukkan penguatan berarti.
Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan kehadirannya di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, pelemahan Rupiah dibandingkan mata uang regional tetap menjadi risiko utama yang perlu dicermati.
Tekanan turut merambat ke pasar obligasi pemerintah. Imbal hasil surat utang negara atau Indonesian Government Bonds (INDOGB) tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 7,48%, sedangkan tenor 2 tahun meningkat 4 basis poin ke 6,94%.
Selisih imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dan US Treasury tenor 10 tahun melebar menjadi 249 basis poin. Sementara itu, credit default swap (CDS) berada di level 107 basis poin, mencerminkan premi risiko domestik yang masih tinggi.
Menurut Jessica, pemulihan pasar obligasi yang lebih berkelanjutan masih bergantung pada stabilisasi Rupiah.
Lelang SUN Jadi Ujian Berikutnya
Di tengah tekanan pasar, pemerintah menargetkan penerbitan surat utang negara (SUN) sebesar Rp30 triliun melalui lelang, dengan batas maksimal penyerapan Rp45 triliun dari tiga seri SPN dan enam seri FR.
Mirae Asset merekomendasikan akumulasi secara selektif pada obligasi FR0110 dan FR0111. Permintaan diperkirakan masih terkonsentrasi pada tenor menengah atau belly of the curve, yang menawarkan potensi pendapatan bunga (carry) menarik dengan risiko durasi lebih terukur.
Meski demikian, arah pasar ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan arus dana asing, stabilitas Rupiah, dan ketidakpastian MSCI. Selama tekanan pada ketiga faktor tersebut belum mereda, upaya IHSG untuk mempertahankan pemulihan berpotensi menghadapi tantangan besar. * (Syam/Wah)





