Jakarta, Mediaprofesi.id – Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai arah. Rupiah melemah, harga minyak dunia melonjak di tengah ancaman konflik di Selat Hormuz, sementara Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap mengubah perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Di tengah gejolak tersebut, Bank Indonesia (BI) menyiapkan tambahan likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun melalui pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM). Kebijakan ini diharapkan menjaga ruang pembiayaan ekonomi ketika ketidakpastian global masih membayangi pasar.
Dalam Syailendra Weekly Update edisi 26 Oktober 2026, Syailendra Research dari PT Syailendra Capital menyoroti sejumlah perkembangan penting yang perlu dicermati investor.
BI Longgarkan Likuiditas Rp190 Triliun
BI mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026. Namun, suku bunga Deposit Facility naik 25 basis poin menjadi 5,00%, sedangkan Lending Facility tetap 6,50%.
BI juga menurunkan GWM secara bertahap. Untuk bank konvensional, rasio GWM turun dari 9% menjadi 7%, sedangkan bank syariah dari 7,5% menjadi 5,5%. Penyesuaian dilakukan mulai 1 November dan 1 Desember 2026.
Selain itu, insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dipangkas dari 6% menjadi 5% mulai 1 Desember.
Pelonggaran tersebut diperkirakan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun. Langkah ini hadir ketika pertumbuhan kredit pada September 2026 mencapai 13,26% secara tahunan (year-on-year).
Di sisi lain, BI memperkuat insentif lindung nilai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas rupiah. Namun, rupiah masih berada di bawah tekanan, dengan nilai Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober atau melemah 7,9% sepanjang tahun berjalan.
BEI Ubah Perhitungan IHSG, 80 Saham Terdampak
Perubahan besar juga menanti pasar saham. Mulai 2 November 2026, BEI akan mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG.
Kebijakan ini mencakup 80 saham dengan bobot sekitar 18% terhadap IHSG. Saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan dan tidak otomatis dikeluarkan dari bursa.
BEI juga akan langsung menyesuaikan perhitungan indeks ketika saham masuk atau keluar kategori HSC. Jadwal evaluasi indeks diubah menjadi Januari, April, Juli, dan Oktober.
Pasokan Gas ke Singapura Dipangkas, Minyak Melonjak
Di sektor energi, SKK Migas mulai mengalihkan 31 juta standar kaki kubik gas per hari dari ekspor ke Singapura untuk kebutuhan domestik sejak 24 Oktober 2026.
Sebanyak 15 juta standar kaki kubik per hari dari Natuna dialihkan ke PLN Batam. Sementara itu, 16 juta standar kaki kubik per hari dari Sumatra dialokasikan untuk kebutuhan listrik Batam, Bintan, dan Sumatra.
Kebijakan ini sejalan dengan prioritas pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan wacana pemerintah untuk tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga demi memperkuat ketahanan energi.
Namun, risiko global justru meningkat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan menargetkan tujuh kabel bawah laut di Selat Hormuz jika infrastruktur Iran diserang. Ancaman tersebut berpotensi mengganggu konektivitas data dan transaksi keuangan di kawasan Teluk.
Di tengah ketegangan itu, harga minyak mentah WTI melonjak 3,82% menjadi US$103,3 per barel, sedangkan Brent naik 3,14% ke US$116,7 per barel.
IHSG Naik, tetapi Dana Asing Keluar
Pergerakan pasar domestik menunjukkan sinyal beragam. Sepanjang pekan lalu, IHSG menguat 4,9% ke level 5.439, tetapi masih mencatat arus dana keluar sebesar Rp5,4 triliun.
Di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke 7,45%, diikuti arus dana asing masuk Rp7,5 triliun. Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke 4,99%.
Rupiah juga melemah 0,25% sepanjang pekan lalu ke level Rp18.090 per dolar AS, meskipun indeks dolar AS turun ke 101,68.
Di Wall Street, Dow Jones naik 1,7% dan S&P 500 menguat 0,1%. Sebaliknya, Nasdaq terkoreksi 0,5%.
Tiga Agenda AS Jadi Penentu Arah Pasar
Investor perlu mencermati sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat pekan ini. Pada 27 Oktober, perhatian tertuju pada indeks kepercayaan konsumen dan penjualan rumah baru.
Selanjutnya, keputusan suku bunga The Federal Reserve pada 28 Oktober akan menjadi sorotan utama. Pada 29 Oktober, pasar menanti estimasi awal pertumbuhan ekonomi AS kuartal III, data inflasi PCE, dan klaim awal pengangguran.
Kombinasi kebijakan BI, perubahan perhitungan IHSG, gejolak harga energi, dan arah kebijakan The Fed berpotensi menentukan pergerakan rupiah serta pasar saham Indonesia dalam beberapa hari ke depan. * (Syam)





