Jakarta, Media-profesi.com – PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP, manufaktur alat kesehatan dalam negeri) turut berpartisipasi dalam event yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada tanggal 20-21 Juli 2023 di Grand Rohan Jogja Hotel, DIY Yogyakarta.
Tumpal Sihombing, Kepala Sekretaris Perusahaan PT SCNP Tbk mengatakan, event ini adalah suatu bentuk kegiatan “Koordinasi Lintas Sektor Dalam Rangka Penguatan Mutu Alat Kesehatan” oleh Direktorat Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Penyelenggaraan acara ini dikoordinasi bersama oleh Aspaki (Asosiasi Produsen Alat Kesehatan) dan Gakeslab (Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium).
Event ini dihadiri oleh 70 perusahaan dalam industri alat kesehatan yang memproduksi/mendistribusikan perangkat medis dengan prioritas local content (Total Kandungan dalam negeri di atas 40%). Ke-70 perusahaan tersebut dipertemukan dengan ke-37 Rumah Sakit (RS) yang terdiri atas 25 RS vertikal plus 12 RS lainnya dalam sesi Business Matching.

Masing-masing dari ke-70 perusahaan terundang diberi kesempatan untuk memberikan paparan singkat tentang AKD hasil produksi mereka ke setiap RS yang dihadirkan dalam sesi Business Matching tersebut. Sambutan dan arahan acara tersebut disampaikan oleh Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI Lucia Rizka Andalucia.
Untuk meningkatkan kinerja industri alat kesehatan Indonesia, Kementerian Kesehtan sedang menerapkan strategi sebagai berikut:
- prioritaskan buatan lokal: Pemerintah Indonesia telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 2 Tahun 2022 tentang percepatan pemanfaatan barang produksi dalam negeri untuk pelelangan pemerintah. Melalui Inpres ini, pemerintah berharap produsen alat kesehatan lokal mampu memproduksi teknologi medis dan alat kesehatan kelas menengah tahun 2035 dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kemenkes RI bekerja sama dengan produsen lokal dalam rangka meningkatkan kemampuan produksi domestik dan mendorong industri untuk memproduksi alat kesehatan berkualitas tinggi yang memenuhi standar internasional;
- kemudahan administrasi perizinan: Kementerian Kesehatan RI menerbitkan dan mengawasi penerapan regulasi alat kesehatan, termasuk evaluasi pra-pasar dan pasca-pasar terhadap produk alkes dalam negeri yang dihasilkan, aspek standardisasi, legislasi serta sertifikasi Cara Pembuatan Alat Kesehatan yang Baik (CPAKB). Pemerintah berkepentingan dalam mempemudah administrasi perizinan yang wajib dipenuhi oleh setiap pelaku industri alat kesehatan dalam negeri dalam kaitannya dengan agenda hilirisasi;
- digital industri kesehatan: Kemenkes RI telah merumuskan Cetak Biru Strategi Transformasi Kesehatan Digital 2024 dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat. Pemerintah sedang meningkatkan investasi dalam ranah digital terhadap teknologi kesehatan dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemberian layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Hal ini mencakup pengembangan platform telemedicine, catatan kesehatan elektronik dan solusi kesehatan digital lainnya;
- pelatihan dan pendidikan: Pemerintah memberikan pelatihan dan pendidikan bagi para produsen lokal dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait produksi alat kesehatan. Hal tersebut mencakup pelatihan tentang sertifikasi CPAKB, kontrol kualitas dan aspek produksi perangkat medis lainnya;
- pembentukan kemitraan strategis: Kemenkes RI melalui kegiatan seperti di Jogja 20-21Juli 2023 telah melakukan suatu inisiatif yang konstruktif melalui pembinaan kemitraan strategis antara produsen lokal dengan para user (rumah sakit, dokter, pasien), yang bertujuan untuk meningkatkan mutu, awareness dan daya saing alat kesehatan Indonesia. Hal itu dapat dilakukan dalam bentuk usaha patungan, perjanjian transfer teknologi dan bentuk kolaborasi sebagaimana yang menjadi tujuan dari kegiatan Business Matching Kemenkes RI di Jogja kemarin.

Dalam paparan inventor NIVA (Non-Invasive Vascular Analyzer) oleh Richard Mengko, pakar elektromedik dari STEI Institut Teknologi Bandung (ITB), disebutkan bahwa dukungan Pemerintah dan Investor Swasta sangat berpengaruh terhadap succes rate transformasi hasil karya riset para peneliti menjadi produk yang komersiil serta kontributif bagi perekonomian nasional. NIVA adalah satu alat kesehatan hasil novelty dan invensi ITB yang telah lolos dari tahap “valley of death” proses transformasi riset ke purwarupa hinga komersialisasi. Richard Mengko menegaskan bahwa NIVA memberikan nilai tambah bagi program kesehatan pemerintah serta masa depan industri alat kesehatan Indonesia dalam beberapa hal berikut:
- preventive cardiovascular diagnostic (screening): Penyakit jantung dan stroke adalah penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia. NIVA adalah alkes berbasis non-invasif yang menganalisis kesehatan kardiovaskular secara dini. NIVA menghasilkan data diagnostik tentang aliran darah, kekakuan pembuluh darah dan 15 parameter kardiovaskular secara lengkap. Data ini dapat membantu para tenaga kesehatan dalam mendeteksi dan memantau penyakit kardiovaskular secara dini (CVD), yang menjadi salah satu momok dan problematika dalam ranah kesehatan yang kerap dihadapi oleh Pemerintah dan Masyarakat;
- perawatan yang lebih baik: dengan menyertakan seperti NIVA dalam program kesehatan pemerintah, penyedia layanan kesehatan dapat menawarkan diagnosis yang lebih akurat dan tepat waktu. Pola ini mengarah pada perencanaan kegiatan perawatan dan pengelolaan kondisi kardiovaskular yang lebih baik, yang pada akhirnya meningkatkan kemanfaatan hasil screening pasien dan mutu perawatan itu sendiri;
- efektivitas investasi dan biaya pemeliharaan: NIVA menawarkan pengujian non-invasif dan painless, lebih hemat secara biaya dibandingkan dengan prosedur invasif dan/atau teknik pencitraan yang saat ini masih relatif mahal. Dengan menggunakan NIVA dalam program kesehatan, Pemerintah dapat menekan biaya kesehatan sembari tetap menyediakan layanan screening bermutu tinggi;
- kebijakan total kandungan dalam negeri (TKDN): Pemerintah Indonesia telah mendorong dan memprioritaskan pengembangan serta penggunaan alat kesehatan lokal dalam industri. NIVA diproduksi secara lokal, sehingga dapat berkontribusi bagi pertumbuhan industri dan menciptakan lapangan kerja. Kebijakan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketergantungan nasional terhadap barang impor;
- kemajuan teknologi dan inovasi nasional: Alkes NIVA dapat mendorong kemajuan teknologi dan inovasi bagi industri alat kesehatan dalam negeri. Hal ini akan lebih mendorong investor dan produsen lokal untuk berinvestasi lebih lanjut dalam kegiatan riset dan pengembangan, yang mengarah pada penciptaan perangkat medis yang lebih maju dan canggih. Inilah yang mampu meningkatkan daya saing industri nasional secara holistik dan menempatkan Indonesia sebagai pusat inovasi alat kesehatan dalam cakupa regional.

NIVA diproduksi secara lokal oleh PT SCNP Tbk, yang berlokasi di Cileungsi, Kabupaten Bogor. Dengan TKDN + BMP sebesar 42%, SCNP ke depannya akan lebih fokus pada industri alat kesehatan dalam negeri, mendukung program dan kebijakan Pemerintah dalam agenda transformasi kesehatan nasional. * (Syam/Pra)





