Penulis: Sabpri Piliang – Wartawan Senior
Jakarta, Mediaprofesi.id – “PLATFORM” lahirnya negara Palestina, makin tak terbendung! Sorotan “morality”, kian terjal! Berubah ‘lateral’, atau tetap konvensional!
PM Inggris Keir Starmer. Atau bahkan Presiden AS Donald Trump, kini menghadapi “narrow margin”. Ketidakpastian curam dan tipis!
Solusi dua negara yang berdampingan damai, dan sangat ditentang Israel! Sepertinya tak mungkin lagi ditarik mundur! Inggris-AS-lah, gong-nya!
AS-Inggris, betul tengah “meniti” ketidakpastian! Mempertahankan ‘platform’, tidak mengakui Palestina, akan terjerembab oleh masifnya seruan “moral Gaza”!
Tekanan domestik pada Starmer, lalu dorongan Partai Buruh yang menaungi dan dipimpinnya sejak tahun 2000. Menjadikan sang PM tak punya dua pilihan. Tinggal satu pilihan!
Terlebih, 220 anggota parlemen (sepertiga dari 660-an), telah bersurat kepadanya. “Inggris harus mengakui negara Palestina”! Inggris muak dengan apa yang terjadi di Gaza!
Kemerdekaan Palestina, dengan “declared” yang “prominent” Presiden Perancis Emmanuel Macron, serta dorongan kuat parlemen Inggris. Menjadi ‘bandul’ (pendulum), yang akan menarik AS ke dalam “circumtances” solusi dua negara!

Paradigma pergeseran Trump yang berubah, saat deklarasi Macron terhadap Palestina (September), dan niat Starmer. Terlihat drastis! “Dari meremehkan, menjadi mempersilahkan”!
Donald Trump, seperti dikutip “The Guardian” (28/7) mengatakan!”Trump tidak keberatan jika Inggris atau sekutu lainnya ingin melakukan itu (mengakui Palestina-red)!
Trump sadar betul! Guliran “lava dan lahar dingin” blokade akut Israel terhadap rakyat Gaza. Telah melewati “ambang” batas kemanusiaan. Israel telah menjadi “kusta” inklusif!
Teriakan pengunjuk rasa dan lambaian bendera Palestina dekat Trump-Starmer bermain golf di Edinburgh (Skotlandia), menggema. “Anda tidak diterima di sini”! Merupakan manifestasi dan representasi Gaza!
Suara Israel makin “sayup-sayup” dan “lamat-lamat”! Pembelaan PM Netanyahu, “tidak ada kelaparan di Gaza”, lalu “makanan dijarah Hamas”, tidak lagi didengar dunia. Bahkan Trump, telah mengiyakan, kelaparan terjadi!
Pemerintahan Partai Likud Israel, plus kekuatan sayap kanan yang ekstrem di Knesset (parlemen) Israel! Kini terdesak oleh ‘opini’ serempak!
Menyakitkan, tentu! Membatasi keleluasaan Kwartet Israel, telah terjadi: Netanyahu (PM)-Israel Katz (Menhan)-Gideon Saar (Menlu)-Letjen Eyal Zamir (Kepala Staf), sulit sudah untuk menuju target ‘euphemisme’ “Kota Kemanusiaan”, dan eliminasi Hamas!
Titik berat punahnya “planning” Israel membungkam kemerdekaan Palestina! Menemukan titik pijakanya.
Dua organisasi HAM yang berbasis di Israel: B’Tselem dan Physicians for Human Rights meyakini. “Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza”!
Keduanya, bahkan meminta para sekutu Israel (sekutu Barat), memiliki kewajiban hukum dan moral untuk menghentikannya! Caranya?

Bisa terjadi, untuk “membersihkan” Israel, AS akan membuka pintu pada International Court Justice (ICJ), mengadili Netanyahu-Yoaff Galant di Den Haag! Sebagai pelaku Genosida!
Pengakuan terhadap Palestina, kini tinggal menunggu Inggris! Bila Inggris (atas tekanan domestik), mengikuti jejak Perancis. Maka, AS tinggal menunggu waktu yang tepat!
Diktum Trump, “tidak keberatan”, bukanlah ungkapan sembarang ucap. Itu adalah “sinyal” kepada Israel, AS sudah tak sanggup menghadapi tekanan “moral”, dan visualisasi foto-foto dan video kekejaman Israel di Gaza!
KTT tiga hari PBB mengakhiri perang Gaza (dimulai kemarin) di New York. Adalah awal, dari apa yang disebut solusi dua negara.
Perancis dan Arab Saudi telah membuka KTT, dengan tujuan mengakui negara Palestina! Sebagai bagian, mengakhiri Perang Gaza (22 bulan), yang telah menelan 60.000 jiwa manusia!
Hamas kini, di atas “angin”! Tujuan mengangkat isu Palestina yang “redup”, pasca-Arab Spring” (2011), “Kesepakatan Abraham” (2020), “proses damai Arab Saudi-Israel” (2022), Perang Gaza, telah terpenuhi!
Jalan makin terjal bagi Israel! * (Syam) – Foto: Istimewa





