MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Minggu, 26 Juli 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Minggu, 26 Juli 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Trump, Tarif, dan Gelombang Baru di Market Global

Pratama by Pratama
Senin, 23 Februari 2026
in Ekonomi
Trump, Tarif, dan Gelombang Baru di Market Global
15
VIEWS

Penulis : Martha Margaretha *

Jakarta, Mediaprofesi.id – Drama kebijakan perdagangan Amerika Serikat kembali memanaskan panggung ekonomi dunia. Donald Trump kembali membuat langkah agresif.

Tarif global diumumkan naik dari 10% menjadi 15%. Kenaikan ini bukan sekadar angka. Ia membawa pesan politik, ekonomi, dan psikologi pasar sekaligus.

Semua bermula dari keputusan Mahkamah Agung AS. Dengan suara 6–3, sebagian besar tarif Trump dibatalkan. Dasarnya adalah interpretasi terhadap IEEPA 1977. Undang-undang itu dinilai tidak memberi kewenangan luas untuk tarif timbal balik global. Keputusan tersebut mengguncang fondasi kebijakan sebelumnya.

Implikasinya langsung terasa. Tarif yang telah dikumpulkan dinilai berpotensi harus dikembalikan. Nilainya fantastis. Lebih dari USD 175 miliar atau setara sekitar Rp 2.951 triliun.

Angka ini bukan kecil, setara dengan stimulus ekonomi skala besar, bahkan menyerupai kebocoran fiskal tak terduga. Ia menciptakan ketidakpastian anggaran, dan membuka ruang debat politik baru.

Trump merespon cepat, tidak ada jeda Panjang, tidak ada fase refleksi publik yang lama. Sehingga tarif global 10% diperkenalkan kembali. Dasarnya kini Trade Act of 1974.

Langkah ini cerdas secara hukum. Ia menunjukkan adaptasi strategi yang menutup celah legal sebelumnya. Dan Trump mengirim sinyal ketegasan, bahwa agenda proteksionisme belum berakhir.

Namun cerita belum berhenti. Sehari kemudian, Trump mengubah level permainan. Tarif dinaikkan menjadi 15%. Disebut “sepenuhnya diizinkan dan diuji secara hukum.” Nada kritik terhadap Mahkamah Agung pun keras.

Pasar menangkap lebih dari sekadar kebijakan. Pasar membaca arah kepemimpinan, dan pasar menilai stabilitas institusional. Bahkan pasar mengukur risiko jangka Panjang dengan menghitung dampak lintas aset.

Martha Margaretha – Executive Market Analyst Global Macro & Gold Specialist – Focused on Clarity, Risk, and Capital Preservation

Dampak Terhadap USD

USD hidup dari persepsi stabilitas yang berkembang di ranah kepercayaan global. Sehingga menjadikan USD sensitif terhadap ketidakpastian kebijakan.

Pembatalan tarif menciptakan kebingungan awal. Investor melihat potensi tekanan fiscal,

kemungkinan pengembalian dana menimbulkan kecemasan. Dan bisa menimbulkan defisit bisa melebar dan arus modal menjadi lebih berhati-hati.

Namun pengumuman tarif baru mengubah narasi, bahwa tarif berarti potensi kenaikan penerimaan negara. Tarif berarti tekanan inflasi impor dan berarti kemungkinan suku bunga tetap tinggi lebih lama.

Jika inflasi terdorong naik, The Fed bisa lebih hawkish. Jika Fed hawkish, USD berpotensi menguat. Bila USD menguat yang akhirnya mata uang lain tertekan.

Tetapi pasar tidak pernah sesederhana itu. Tarif juga dapat menekan pertumbuhan global.

Perdagangan melambat, risiko resesi meningkat, dan safe haven flows bisa terbelah.

USD bisa menguat karena yield. Di sisi lain USD bisa melemah karena risiko structural yang dapat menjadikan USD kini berada di persimpangan narasi.

Dampak Terhadap Emas

Emas adalah cermin ketidakpastian. Emas adalah pelabuhan saat badai kebijakan datang. Pembatalan tarif awalnya meredakan ketegangan. Risk sentiment sempat membaik, namun emas berpotensi terkoreksi.

Namun tarif baru menghidupkan kembali kekhawatiran, ketegangan dagang kembali relevan. Inflasi impor menjadi ancaman nyata, dan volatilitas meningkat.

Dalam lingkungan seperti ini, emas mendapatkan bahan bakar. Ketidakpastian mendukung harga. Dan risiko geopolitik memperkuat daya tariknya.

Jika USD menguat tajam, emas bisa tertahan. Sebaliknya jika USD melemah karena ketidakpastian fiskal, emas bisa melonjak. Dan tarif menciptakan dua gaya tarik yang berlawanan.

Arah Market Selanjutnya

Pasar kini fokus pada tiga hal utama, yaitu pertama, legitimasi hukum tarif baru, kedua, dampak inflasi, dan ketiga, respons The Fed.

Jika tarif 15% bertahan tanpa gugatan besar, pasar mulai menyesuaikan harga. Ekspektasi inflasi bisa naik perlahan. Dan yield obligasi bisa terdorong naik, sehingga USD cenderung mendapat dukungan.

Namun jika muncul gelombang gugatan baru, volatilitas kembali meningkat. Ketidakpastian hukum memperbesar risk-off sentiment, maka emas berpotensi diuntungkan.

Skenario moderat menunjukkan fase choppy market. USD bergerak dalam kisaran dinamis. Emas fluktuatif dengan bias defensif.

Skenario agresif membuka peluang tren kuat. USD bullish jika Fed hawkish, dan emas bullish jika ketidakpastian mendominasi.

Kesimpulan

Kebijakan tarif bukan hanya instrumen ekonomi. Ia adalah alat geopolitik. Ia adalah sinyal kepemimpinan. Dan sekaligus Ia adalah pemicu volatilitas lintas aset.

Trump kembali memainkan kartu proteksionisme. Mahkamah Agung memainkan kartu konstitusionalitas. Sementara pasar memainkan kartu adaptasi.

USD dan emas kini menari dalam koreografi baru. Kadang berlawanan arah, dan kadang bergerak bersama dalam ketidakpastian.

Satu hal yang pasti. Volatilitas tetap menjadi raja. Dan bagi pelaku pasar, disiplin tetap menjadi mahkota.

(Penulis : Martha Margaretha – Executive Market Analyst  Global Macro & Gold Specialist – Focused on Clarity, Risk, and Capital Preservation)

Post Views198 Views
Tags: Donald TrumpEmasGoldMahkamah Agung ASPasar SahamTarif DagangUSD

Related Posts

Usai Rebound, Apa yang Akan Menentukan Nasib IHSG di Semester II-2026?
Ekonomi

Usai Rebound, Apa yang Akan Menentukan Nasib IHSG di Semester II-2026?

by Syamhudi
Rabu, 22 Juli 2026
14
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Tapi Mirae Asset Ingatkan Ancaman yang Tak Boleh Diabaikan
Ekonomi

S&P Pertahankan Rating Indonesia, Tapi Mirae Asset Ingatkan Ancaman yang Tak Boleh Diabaikan

by Pratama
Rabu, 15 Juli 2026
30

RECOMMENDED

Tak Perlu ke Kota Besar, Warga Gowa dan Luwu Timur Kini Bisa Nikmati Layanan Resmi Honda

Tak Perlu ke Kota Besar, Warga Gowa dan Luwu Timur Kini Bisa Nikmati Layanan Resmi Honda

25 Juli 2026
15
Mau ke GIIAS 2026? Simak Akses, Lokasi Parkir, hingga Shuttle Bus Gratis

Mau ke GIIAS 2026? Simak Akses, Lokasi Parkir, hingga Shuttle Bus Gratis

25 Juli 2026
16

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    583 shares
    Share 233 Tweet 146
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    383 shares
    Share 153 Tweet 96
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    376 shares
    Share 150 Tweet 94
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    345 shares
    Share 138 Tweet 86
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    343 shares
    Share 137 Tweet 86
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi
  • Contact
  • Media Partner

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM