Jakarta, Mediaprofesi.id – Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset memperkirakan awal pekan ini pasar saham akan dibayangi sentimen risk off menyusul memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah pasca serangan terkoordinasi AS–Israel terhadap Iran.
“Tekanan jual berpotensi mendorong koreksi dan memicu arus keluar asing dari pasar saham dan SBN Indonesia, disertai pelemahan Rupiah,” ujar Rully dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi Mediaprofesi.id pagi ini, Senin (2/3) di Jakarta.
Dalam kondisi seperti ini, BI kemungkinan mengintensifkan intervensi di pasar valas (spot, DNDF) serta di pasar SBN untuk meredam volatilitas berlebihan pada Rupiah dan yield.
Eskalasi konflik AS–Iran meningkatkan risiko lonjakan harga minyak dan meruncingnya persepsi risiko global, yang mendorong pergeseran alokasi ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
“Bagi Indonesia, kanal utama yang perlu diwaspadai adalah imported inflation dan tekanan subsidi akibat kenaikan harga energi, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, serta arus keluar portofolio yang menekan nilai tukar,” tutup Rully. * (Syam)





