Jakarta, Mediaprofesi.id – Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia kian terasa. Rupiah menembus Rp18.100 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah di tengah aksi jual investor asing yang melampaui Rp2 triliun dalam sehari. Di balik gejolak ini, sektor perbankan menghadapi tantangan lain: perlambatan kredit dan kenaikan biaya pendanaan yang berpotensi menekan margin keuntungan.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai tekanan jual asing, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI menjadi faktor yang perlu dicermati investor. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, pemilihan saham dengan fundamental pendanaan kuat menjadi semakin penting.
Pada Senin (26/10), IHSG terkoreksi 1,22%, menghapus sebagian kenaikan pekan sebelumnya. Investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih (net sell) lebih dari Rp2 triliun, sedangkan rupiah ditutup di atas Rp18.100 per dolar AS. Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek investasi dan kerentanan eksternal Indonesia.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengingatkan bahwa pembelian saham oleh investor domestik sejauh ini membantu menyerap arus dana asing keluar. Namun, kemampuan investor domestik menopang pasar patut dicermati apabila tekanan jual terus membesar.
“Dengan ketidakpastian MSCI yang belum mereda dan tekanan eksternal yang meningkat, kami tetap berhati-hati. Arus dana asing dan stabilitas rupiah akan semakin menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya,” ujar Rully.
Kredit Melambat, Biaya Dana Meningkat
Tekanan juga membayangi industri perbankan. Riset Mirae Asset mencatat pertumbuhan kredit perbankan melambat menjadi 12,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026, dari 13,3% pada Agustus. Perlambatan terutama dipengaruhi kredit investasi yang terkontraksi 0,2% secara bulanan, antara lain akibat tekanan di sektor konstruksi.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,2% YoY dengan total mencapai Rp9.896 triliun. Rasio dana murah atau current account and savings account (CASA) juga meningkat menjadi 64,9%.
Meski demikian, pertumbuhan simpanan belum sepenuhnya menghilangkan tekanan likuiditas. Kenaikan suku bunga deposito di berbagai tenor berpotensi meningkatkan biaya dana dan menggerus margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan.
Research Analyst Mirae Asset, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menilai penurunan rasio kredit terhadap simpanan (loan-to-deposit ratio/LDR) menjadi 91,7% pada September, dari 92,7% pada bulan sebelumnya, belum menunjukkan perbaikan likuiditas yang struktural.
Pasalnya, suku bunga deposito tenor satu bulan telah naik menjadi 5,3%, sedangkan tenor tiga bulan mencapai 5,9%.
“Kami melihat penurunan LDR ini sebagai kelonggaran sementara, bukan perbaikan likuiditas yang struktural. Kenaikan biaya dana juga mengindikasikan potensi tekanan margin ke depan,” jelas Nurkholis.
BBCA dan BRIS Jadi Pilihan, Himbara Dicermati
Di tengah kondisi tersebut, Mirae Asset tetap berpandangan positif terhadap PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Likuiditas yang memadai, basis pendanaan berbiaya rendah, serta kemampuan menjaga NIM menjadi sejumlah faktor pendukung.
Mirae Asset juga melihat prospek positif PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), yang dinilai berpeluang menangkap pertumbuhan permintaan produk keuangan syariah. Bisnis emas menjadi salah satu penopang potensial perseroan.
Sebaliknya, Mirae Asset masih berhati-hati terhadap bank-bank besar milik negara atau Himbara. Ketergantungan yang lebih tinggi pada pendanaan korporasi dan deposito, serta potensi penurunan kualitas aset khususnya di sektor konstruksi, menjadi risiko yang perlu diperhitungkan.
Di tengah volatilitas pasar, investor perlu mencermati arus dana asing, stabilitas rupiah, kekuatan likuiditas, dan kemampuan bank mengendalikan biaya pendanaan. Faktor-faktor tersebut menjadi pertimbangan penting dalam menilai daya tahan saham perbankan menghadapi tekanan pasar. * (Syam/Pra)





