Jakarta, Mediaprofesi.id – Pasar keuangan global kembali dibuat tegang di penghujung pekan lalu. Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara menjadi sinyal bahwa investor mulai mengantisipasi risiko inflasi yang lebih serius akibat memanasnya konflik geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada Jumat (15/5), imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury (UST) tenor 10 tahun melonjak ke level 4,59 persen, sementara tenor 2 tahun naik ke 4,07 persen — menjadi level tertinggi dalam setahun terakhir.
Tekanan serupa juga terjadi di Jepang, di mana yield Japanese Government Bond (JGB) tenor 30 tahun menyentuh 4 persen untuk pertama kalinya sejak 1999. Di Inggris, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun bahkan menembus 5,17 persen, level tertinggi sejak 2008.
Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) ikut menguat ke posisi 99,28 seiring meningkatnya aksi flight-to-quality, ketika investor berbondong-bondong mencari aset yang dianggap lebih aman.
Tekanan di pasar dipicu konflik AS-Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. Kondisi ini membuat harga minyak Brent bertahan tinggi di kisaran USD110 per barel dan memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
“Pasar kini mulai melihat tekanan inflasi bukan lagi sekadar sementara, melainkan berpotensi menjadi lebih struktural dan bertahan lama,” ujar Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi Mediaprofesi.id hari ini, Senin (18/5/2026) di Jakarta.
Data inflasi Amerika Serikat yang dirilis beruntun semakin memperkuat kekhawatiran tersebut. Akibatnya, ekspektasi pasar berubah cukup drastis — dari sebelumnya berharap adanya pelonggaran suku bunga, kini bergeser pada kemungkinan suku bunga global akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama.
Situasi ini tentu menjadi perhatian bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Repricing di pasar global berpotensi memicu arus keluar dana asing dari pasar obligasi maupun saham domestik. Dampaknya bisa terasa pada kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), pelemahan nilai tukar rupiah, hingga tekanan terhadap IHSG pada awal perdagangan pekan ini.
Selain itu, pemerintah juga perlu mencermati potensi tekanan fiskal, terutama terkait risiko meningkatnya beban subsidi energi apabila harga minyak dunia terus bertahan tinggi.
“Pasar kini mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga global di tengah tekanan inflasi dan tensi geopolitik yang meningkat,” tutup Rully. * (Syam/Wah)





