Jakarta, Mediaprofesi.id – Di tengah semakin ketatnya aturan terkait pengelolaan data dan berkembang pesatnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), organisasi kini menghadapi tantangan baru: bagaimana tetap berinovasi tanpa kehilangan kendali atas data dan teknologi yang mereka gunakan.
Menjawab kebutuhan tersebut, Red Hat mengumumkan dukungan mendatang untuk Red Hat OpenShift on Google Cloud Dedicated. Kolaborasi terbaru dengan Google ini dirancang untuk menghadirkan infrastruktur cloud yang terisolasi dan lebih terkendali, khususnya bagi organisasi yang beroperasi di sektor dengan regulasi ketat seperti jasa keuangan, kesehatan, dan sektor publik.
Kehadiran solusi ini menjadi langkah penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap kedaulatan digital. Kini, banyak organisasi tidak hanya mempertimbangkan performa teknologi, tetapi juga ingin memastikan data, aplikasi, dan operasional mereka tetap berada dalam kendali sendiri serta sesuai dengan regulasi nasional maupun regional.
Menurut laporan IDC Market Perspective, hampir sembilan dari sepuluh organisasi di dunia menginginkan lebih banyak pilihan dan kontrol saat mengimplementasikan AI dalam skala besar. Bahkan, lebih dari separuh responden memilih model terbuka (open model) dibandingkan model tertutup dan proprietary.
Melalui Red Hat OpenShift yang didukung Red Hat Enterprise Linux dan berjalan di Google Cloud Dedicated, pelanggan mendapatkan fleksibilitas untuk mengelola seluruh tumpukan teknologi mereka tanpa mengorbankan keamanan maupun ketahanan operasional.

Didesain untuk Era AI dan Kedaulatan Digital
Red Hat OpenShift on Google Cloud Dedicated dibangun untuk mendukung sejumlah aspek penting dalam strategi kedaulatan digital, mulai dari residensi data, otonomi teknologi, hingga ketahanan rantai pasok.
Beberapa kemampuan utama yang ditawarkan antara lain:
- Kontrol infrastruktur yang lebih kuat. Infrastruktur dedicated dan terisolasi membantu organisasi memenuhi berbagai persyaratan regulasi, termasuk GDPR dan aturan kedaulatan data di berbagai wilayah.
- Percepatan adopsi AI. Dukungan GPU yang terintegrasi memungkinkan organisasi mengembangkan dan menjalankan aplikasi AI tingkat lanjut sambil tetap mematuhi kebijakan keamanan dan regulasi lokal.
- Dukungan keahlian regional. Kolaborasi dengan penyedia cloud dan mitra layanan di berbagai wilayah membantu pelanggan menghadapi tantangan keamanan dan kepatuhan yang semakin kompleks.
- Konsistensi hybrid cloud. Organisasi dapat memodernisasi aplikasi yang sudah ada tanpa kehilangan konsistensi operasional, baik di lingkungan on-premise maupun cloud terkelola.
Mike Barrett, Vice President dan General Manager Hybrid Cloud Platforms Red Hat, mengatakan bahwa kedaulatan digital saat ini tidak hanya berbicara soal lokasi penyimpanan data.
“Kedaulatan digital bukan hanya tentang di mana data disimpan, tetapi juga bagaimana organisasi mempertahankan kontrol operasional, fleksibilitas strategis, dan kepercayaan terhadap teknologi yang digunakan. Bersama Google, kami menghadirkan fondasi yang mampu mendukung kebutuhan kedaulatan digital pelanggan di era AI,” ujarnya.
Senada dengan itu, Jai Haridas, Vice President dan General Manager Regulated and Sovereign Cloud Google Cloud, menegaskan bahwa pelanggan membutuhkan pilihan dan kontrol yang lebih besar untuk berinovasi secara bertanggung jawab.
Menurutnya, kehadiran Red Hat OpenShift di Google Cloud Dedicated akan membantu organisasi yang berada di industri dengan regulasi ketat mempercepat transformasi hybrid cloud dan inisiatif AI mereka dengan fondasi yang aman, dedicated, dan sesuai kebutuhan kedaulatan digital.
Red Hat menyebutkan dukungan OpenShift untuk Google Cloud Dedicated dijadwalkan tersedia secara umum pada semester kedua 2026. * (Syam)





