MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Rabu, 26 Agustus 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Rabu, 26 Agustus 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Perusahaan Terlihat Sibuk Setiap Hari, Tapi Kenapa Target Tak Kunjung Tercapai?

Pratama by Pratama
Kamis, 11 Juni 2026
in Ekonomi
Perusahaan Terlihat Sibuk Setiap Hari, Tapi Kenapa Target Tak Kunjung Tercapai?
46
VIEWS

Jakarta, Mediaprofesi.id – Di banyak perusahaan, kesibukan sering dianggap sebagai indikator produktivitas. Kalender dipenuhi rapat, notifikasi terus berdatangan, berbagai proyek berjalan bersamaan, dan seluruh tim tampak bekerja tanpa henti. Dari luar, organisasi terlihat dinamis dan bergerak cepat.

Namun di balik aktivitas yang padat itu, sering muncul pertanyaan yang lebih mendasar. Mengapa target bisnis tidak tercapai secara konsisten? Mengapa masalah yang sama terus berulang? Mengapa keputusan penting selalu bergantung pada orang tertentu? Dan mengapa pertumbuhan bisnis terasa lebih lambat dibanding energi yang sudah dikeluarkan?

Yanto Goutama, Owner PT Forisa Abadijaya Sejahtera menjelaskan bahwa fenomena ini banyak ditemui pada perusahaan yang sedang bertumbuh. Ironisnya, masalahnya bukan karena kurang bekerja keras. Justru sebaliknya, organisasi sering kali terlalu sibuk hingga tidak menyadari bahwa mereka sedang terjebak dalam organizational chaos atau kekacauan organisasi.

Saat Kesibukan Menutupi Masalah yang Lebih Besar

Banyak perusahaan menganggap tantangan terbesar mereka adalah kekurangan SDM, penjualan yang belum optimal, atau persaingan pasar yang semakin ketat.

Padahal setelah ditelusuri lebih dalam, akar persoalannya sering kali berada pada sistem organisasi itu sendiri.

Beberapa gejala yang umum ditemukan antara lain:

  • Keputusan berjalan lambat karena harus menunggu persetujuan pihak tertentu.
  • Tanggung jawab antar fungsi tidak jelas.
  • Terjadi tumpang tindih pekerjaan di berbagai departemen.
  • Konflik internal muncul akibat perbedaan persepsi mengenai kewenangan.
  • Informasi penting tidak mengalir secara efektif.
  • Kinerja organisasi bergantung pada individu tertentu, bukan pada sistem yang berjalan.

Masalah-masalah tersebut sering dianggap sebagai hambatan operasional sehari-hari. Padahal jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini akan berkembang menjadi pola kerja yang dianggap normal. Di titik itulah chaos mulai berubah menjadi budaya organisasi.

Masalahnya Bukan Orang, Melainkan Sistem

Ketika performa bisnis menurun, banyak pemimpin langsung berfokus pada kualitas SDM. Mereka merekrut orang baru, mengganti manajer, atau melakukan restrukturisasi organisasi.

Sayangnya, langkah tersebut tidak selalu menyelesaikan masalah. Dalam banyak kasus, individu yang dianggap kurang kompeten sebenarnya bekerja di dalam sistem yang memang tidak dirancang untuk menghasilkan kinerja yang konsisten.

Karakteristik organisasi seperti ini biasanya mudah dikenali:

  • Struktur organisasi tersedia, tetapi tidak benar-benar dijalankan.
  • Job description ada, tetapi tidak menjadi pedoman kerja.
  • SOP disusun, tetapi jarang digunakan dalam pengambilan keputusan.
  • Rapat berlangsung rutin, tetapi tidak menghasilkan akuntabilitas yang jelas.
  • Target ditetapkan, namun tidak didukung mekanisme monitoring yang efektif.

Akibatnya, organisasi berjalan dengan mengandalkan komunikasi informal, kedekatan personal, dan intervensi langsung dari pimpinan.

Model seperti ini mungkin masih efektif ketika perusahaan berukuran kecil. Namun saat bisnis berkembang, kompleksitas akan tumbuh jauh lebih cepat dibanding kemampuan organisasi untuk mengelolanya.

Dampak yang Sering Tidak Terlihat

Organizational chaos tidak selalu langsung terlihat dalam laporan keuangan. Namun dampaknya perlahan menggerogoti fondasi bisnis.

Dari sisi produktivitas, banyak waktu terbuang untuk klarifikasi, koordinasi ulang, dan penyelesaian konflik yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

Dari sisi profitabilitas, muncul biaya tersembunyi berupa pekerjaan yang harus diulang (rework), keterlambatan proyek, kesalahan operasional, hingga keputusan yang kurang efektif.

Sementara dari sisi budaya organisasi, karyawan mulai kehilangan kejelasan mengenai prioritas dan ekspektasi. Mereka bekerja keras, tetapi merasa hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.

Yang paling berbahaya, kondisi ini menghambat pertumbuhan bisnis. Setiap ekspansi justru menambah kompleksitas dan memperbesar kekacauan yang sudah ada.

Dalam situasi seperti ini, pertumbuhan bukan lagi menjadi aset. Pertumbuhan justru berubah menjadi sumber tekanan baru.

Empat Langkah Mengurangi Organizational Chaos

Sebelum berbicara tentang ekspansi atau pertumbuhan yang lebih agresif, ada empat area penting yang perlu dievaluasi.

  1. Perjelas Akuntabilitas

Setiap fungsi harus memahami siapa yang bertanggung jawab atas keputusan, pelaksanaan, dan hasil akhir. Kejelasan akuntabilitas jauh lebih penting dibanding menambah jumlah rapat koordinasi.

  1. Perkuat Tata Kelola

Tata kelola (governance) bukan hanya kebutuhan perusahaan besar. Perusahaan yang sedang berkembang juga membutuhkan kejelasan otorisasi, mekanisme pengambilan keputusan, serta sistem kontrol internal yang efektif. Di sinilah peran RACI dan Level of Authority menjadi sangat penting.

  1. Standarisasi Proses Kritis

Tidak semua aktivitas harus dibuat birokratis. Fokuslah pada proses-proses yang memiliki dampak langsung terhadap kualitas layanan, risiko operasional, dan pencapaian target bisnis.

  1. Bangun Sistem, Bukan Ketergantungan

Organisasi yang sehat tidak bergantung pada satu individu, bahkan pada pendirinya sekalipun. Tujuan akhirnya adalah membangun sistem yang mampu menghasilkan kinerja yang konsisten meskipun kompleksitas bisnis terus meningkat.

Kesibukan Belum Tentu Kemajuan

Banyak organisasi terlihat sangat sibuk, tetapi tidak semuanya bergerak secara efektif. Kesibukan sering kali menciptakan ilusi kemajuan. Padahal di balik aktivitas yang padat, bisa saja terdapat masalah mendasar dalam struktur, tata kelola, pengambilan keputusan, maupun eksekusi organisasi. Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan setiap pemimpin bukanlah seberapa sibuk organisasinya saat ini.

Pertanyaannya adalah: apakah organisasi tersebut benar-benar dirancang untuk bertumbuh secara berkelanjutan?

Pada akhirnya, performa bisnis tidak dibangun oleh kerja keras semata. Performa yang berkelanjutan selalu lahir dari sistem yang tepat.

Seiring semakin kompleksnya tantangan bisnis, diskusi mengenai desain organisasi, tata kelola, dan efektivitas sistem kerja akan menjadi semakin relevan. Topik inilah yang juga akan menjadi salah satu fokus pembahasan dalam agenda LINKID mendatang bersama para praktisi dan business leaders dari berbagai industri.

LINKID CONNECTFEST 2026 akan berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026, pukul 09.00–16.00 WIB di Jakarta. Lokasi penyelenggaraan akan diumumkan lebih lanjut.

Acara ini terbuka bagi para profesional, entrepreneur, solopreneur, business owner, creator, investor, maupun siapa saja yang ingin berkembang dalam ekosistem yang saling mendukung dan percaya bahwa relasi yang tepat dapat membuka peluang yang lebih besar.

Pendaftaran peserta telah dibuka dan dapat diakses melalui tautan yang disediakan oleh panitia penyelenggara melalui: https://lnkd.in/g4c6xG4A

* (Syam/Wah)

Post Views108 Views
Tags: business ownerCreatorentrepreneurLINKIDLINKID CONNECTFEST 2026solopreneur

Related Posts

Bukan AI yang Mengancam Bisnis Anda, Tapi Cara Lama Memimpinnya
Teknologi

Bukan AI yang Mengancam Bisnis Anda, Tapi Cara Lama Memimpinnya

by Syamhudi
Sabtu, 13 Juni 2026
34
Dibalik Angka Produktivitas: Kenapa Tim yang Terlihat Kuat Bisa Tiba-tiba Hancur?
Ekonomi

Dibalik Angka Produktivitas: Kenapa Tim yang Terlihat Kuat Bisa Tiba-tiba Hancur?

by Pratama
Selasa, 9 Juni 2026
94

RECOMMENDED

GIIAS Surabaya 2026: Beli Diecast Rp200 Ribu, Tiket Pameran Bisa Gratis

GIIAS Surabaya 2026: Beli Diecast Rp200 Ribu, Tiket Pameran Bisa Gratis

25 Agustus 2026
16
DFSK E5 Plus Masuk Medan, Bawa Teknologi PHEV dan Jarak Tempuh hingga 1.400 Km

DFSK E5 Plus Masuk Medan, Bawa Teknologi PHEV dan Jarak Tempuh hingga 1.400 Km

25 Agustus 2026
16

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    594 shares
    Share 238 Tweet 149
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    395 shares
    Share 158 Tweet 99
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    387 shares
    Share 155 Tweet 97
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    357 shares
    Share 143 Tweet 89
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    355 shares
    Share 142 Tweet 89
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi
  • Contact
  • Media Partner

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM