MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Sabtu, 24 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Sabtu, 24 Oktober 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Teknologi

Era AI Murah Sudah Berakhir? Tantangan Baru Perusahaan Justru Dimulai Saat Skalanya

Wahyu by Wahyu
Kamis, 18 Juni 2026
in Teknologi
Era AI Murah Sudah Berakhir? Tantangan Baru Perusahaan Justru Dimulai Saat Skalanya
13
VIEWS

Jakarta, Mediaprofesi.id – Dalam dua tahun terakhir, banyak perusahaan berlomba menjadi yang tercepat mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Polanya hampir seragam: menggunakan layanan public cloud, mengakses model AI terbaru dari OpenAI atau Anthropic, lalu bereksperimen secepat mungkin tanpa terlalu memikirkan biaya.

Strategi tersebut memang melahirkan gelombang inovasi yang luar biasa. Namun kini, banyak perusahaan mulai menghadapi kenyataan baru. Tantangannya bukan lagi meluncurkan proyek AI, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar memberikan nilai bisnis yang berkelanjutan.

Menurut Gartner, belanja AI global diperkirakan mencapai US$2,52 triliun pada 2026, naik 44% dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, lebih dari setengahnya dialokasikan untuk infrastruktur AI. Di Asia Tenggara sendiri, investasi AI diproyeksikan melampaui US$110 miliar pada 2028.

Seiring meningkatnya investasi, fokus para pemimpin perusahaan pun berubah. Pertanyaannya bukan lagi “model AI mana yang paling canggih?”, tetapi “bagaimana menjalankan AI dengan biaya efisien, aman, dan sesuai regulasi?”.

Dari Perlombaan Teknologi ke Ekonomi AI

Abhas Ricky, Chief Business Officer dan GM Applied AI, menilai dunia kini memasuki era baru yang disebut AI 2.0.

Jika sebelumnya keunggulan ditentukan oleh akses terhadap model AI terbaik, kini faktor penentu keberhasilan adalah efisiensi biaya inferensi, kecepatan akses data, latensi, serta kemampuan mengendalikan sistem secara menyeluruh.

Meski biaya token AI terus turun dalam beberapa tahun terakhir, total pengeluaran perusahaan justru meningkat. Penyebabnya sederhana: semakin canggih model yang digunakan, semakin kompleks pula pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

Karena itu, banyak perusahaan mulai mengadopsi pendekatan multi-model. Model premium digunakan untuk tugas kompleks, sementara model yang lebih murah dimanfaatkan untuk pekerjaan rutin.

Satu Keputusan AI Bisa Menguras Anggaran

Contoh paling nyata terlihat di sektor perbankan. AI kini digunakan untuk menentukan “next best action”, yakni rekomendasi layanan atau produk yang paling relevan bagi nasabah secara real time.

Personalisasi semacam ini terbukti mampu meningkatkan pendapatan hingga 15 persen. Namun di balik manfaat tersebut, ada konsekuensi biaya yang tidak kecil.

Satu keputusan yang diambil sistem AI berbasis agen dapat memicu puluhan panggilan ke model berbeda. Dalam skala jutaan interaksi pelanggan, selisih biaya yang tampak kecil bisa menentukan apakah sebuah layanan menghasilkan keuntungan atau justru membakar anggaran perusahaan.

Sejumlah perusahaan teknologi bahkan berhasil memangkas biaya hingga enam kali lipat setelah beralih ke arsitektur open-source multi-model yang lebih efisien.

Kedaulatan AI Jadi Isu Strategis

Selain biaya, regulasi kini menjadi faktor yang semakin menentukan.

Mulai Agustus 2026, Uni Eropa akan memberlakukan kewajiban penuh bagi sistem AI berisiko tinggi melalui EU AI Act, dengan ancaman denda mencapai €35 juta atau 7% dari omzet global perusahaan.

Di Asia, pendekatan regulasi juga berkembang pesat. Singapura, Jepang, Korea Selatan, India, hingga Indonesia mulai membangun kerangka tata kelola AI sesuai kebutuhan masing-masing.

Kondisi ini membuat perusahaan tidak lagi bisa bergantung pada satu platform cloud atau satu yurisdiksi saja. Infrastruktur hybrid yang menggabungkan cloud dan sistem on-premise kini semakin diminati karena dinilai lebih aman dan fleksibel.

Keunggulan Bukan Lagi di Model AI

Menurut Abhas Ricky, pelajaran terbesar dalam 18 bulan terakhir adalah bahwa model AI cepat menjadi komoditas. Yang membedakan perusahaan bukan lagi model yang digunakan, melainkan kemampuan mengelola data, tata kelola, integrasi sistem, serta kontrol operasional.

Tren ini bahkan mulai terlihat pada robotika, manufaktur, hingga teknologi pertahanan. Di berbagai sektor tersebut, faktor seperti lokasi data, kepatuhan regulasi, dan kemampuan mengendalikan sistem menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar skor benchmark model AI.

Ke depan, perusahaan yang akan memenangkan persaingan bukanlah yang memiliki akses ke model termurah atau tercanggih. Pemenangnya adalah mereka yang mampu membangun AI yang berkelanjutan, berdaulat, dan terkendali.

“Tiga hal itulah yang akan menjadi fondasi baru dalam ekonomi AI. Perusahaan yang mulai membangunnya hari ini berpotensi menentukan arah persaingan bisnis pada dekade mendatang,” tutup Abhas Ricky. * (Syam/Wah)

Post Views182 Views
Tags: Anthropicclouderaera AIOpenAIPublic Cloud

Related Posts

Samsung Innovation Campus Asah 6.000 Talenta Muda, Coding Jadi Fondasi Menuju Era AI
Sosialita

Samsung Innovation Campus Asah 6.000 Talenta Muda, Coding Jadi Fondasi Menuju Era AI

by Wahyu
Minggu, 4 Oktober 2026
34
Agen AI Bisa Menembus Batas Keamanan, Perusahaan Diminta Hitung Ulang “Radius Ledakan”
Teknologi

Agen AI Bisa Menembus Batas Keamanan, Perusahaan Diminta Hitung Ulang “Radius Ledakan”

by Pratama
Jumat, 2 Oktober 2026
24

RECOMMENDED

LEPAS Gaspol Bangun Gaya Hidup Premium Global, E4 EV dan L8 PHEV Jadi Andalan di Indonesia

LEPAS Gaspol Bangun Gaya Hidup Premium Global, E4 EV dan L8 PHEV Jadi Andalan di Indonesia

24 Oktober 2026
4
IIMS Garage Balikpapan Gaspol Bagi Cashback Rp150 Juta, Beli Mobil Bisa Dapat Rp2 Juta, Promo Menggoda hingga 25 Oktober

IIMS Garage Balikpapan Gaspol Bagi Cashback Rp150 Juta, Beli Mobil Bisa Dapat Rp2 Juta, Promo Menggoda hingga 25 Oktober

24 Oktober 2026
5

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    609 shares
    Share 244 Tweet 152
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    411 shares
    Share 164 Tweet 103
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    403 shares
    Share 161 Tweet 101
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    374 shares
    Share 150 Tweet 94
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    371 shares
    Share 148 Tweet 93
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi
  • Contact
  • Media Partner

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM