Jakarta, Mediaprofesi.id – Red Hat memperkenalkan Red Hat AI 3.4, platform terbaru yang dirancang untuk membantu perusahaan mempercepat transisi dari sekadar uji coba AI menuju implementasi skala besar yang siap digunakan di lingkungan produksi.
Platform ini menghadirkan pendekatan terpadu mulai dari hardware, model AI, hingga agen otonom (agentic AI). Dengan begitu, perusahaan dapat membangun, menjalankan, dan mengelola sistem AI secara lebih mudah, aman, dan efisien di berbagai lingkungan hybrid cloud.
Selama ini, banyak perusahaan masih terjebak pada tahap eksperimen AI karena kesulitan mengelola infrastruktur, biaya inferensi, hingga tata kelola keamanan. Red Hat AI 3.4 hadir untuk menjawab tantangan tersebut melalui fondasi operasional yang lebih terintegrasi.
Salah satu fitur utama yang diperkenalkan adalah Model-as-a-Service (MaaS). Fitur ini memungkinkan pengembang mengakses model AI terkurasi melalui satu interface terkelola, sementara administrator dapat memantau penggunaan data sekaligus menerapkan kebijakan tata kelola secara lebih ketat.
Untuk mendukung lonjakan kebutuhan inferensi AI, Red Hat mengandalkan teknologi vLLM dan llm-d distributed inference engine agar performa model tetap optimal di berbagai lingkungan cloud maupun on-premise.
Tidak hanya itu, Red Hat AI 3.4 juga memperkenalkan kemampuan AgentOps untuk membantu perusahaan mengelola siklus hidup agen AI, mulai dari pengembangan hingga produksi. Fitur ini dilengkapi tracing, observability, manajemen identitas kriptografis, hingga pengawasan aktivitas agen secara real-time.
Menurut Red Hat, kebutuhan terhadap sistem agentic AI terus meningkat, terutama ketika perusahaan mulai beralih dari penggunaan chatbot sederhana menuju sistem AI yang mampu mengambil keputusan secara mandiri.
“Era agentic merepresentasikan evolusi platform kami, dari yang sebelumnya menjalankan aplikasi tradisional menjadi penggerak sistem otonom yang cerdas,” ujar Joe Fernandes, Vice President dan General Manager AI Business Unit Red Hat.
Ia menegaskan bahwa Red Hat ingin menghadirkan standar terbuka bagi enterprise dalam menjalankan AI, sekaligus memastikan organisasi tetap memiliki kendali penuh terhadap keamanan dan operasional AI mereka.

Dari sisi keamanan, Red Hat AI 3.4 menghadirkan sistem perlindungan berlapis. Platform ini dibekali pengujian keamanan otomatis dan kemampuan red-teaming untuk mendeteksi risiko seperti jailbreak, prompt injection, hingga bias pada model AI.
Teknologi keamanan tersebut memanfaatkan integrasi Chatterbox Labs, Garak, dan NVIDIA NeMo Guardrails untuk memberikan perlindungan saat proses pengembangan maupun runtime.
Selain itu, Red Hat juga menghadirkan evaluation hub yang memungkinkan perusahaan mengevaluasi kualitas, akurasi, keamanan, dan risiko model AI secara terpadu. Semua aktivitas AI dapat ditelusuri melalui integrasi MLflow dan OpenTelemetry sehingga menciptakan jejak audit yang transparan.
Red Hat AI 3.4 juga mendukung berbagai lingkungan hardware terbaru, termasuk NVIDIA Blackwell GPU dan AMD MI325X. Platform ini diperluas agar dapat berjalan secara native di berbagai layanan cloud seperti IBM Cloud, Azure, hingga CoreWeave Kubernetes Service.
Vice President Enterprise Software NVIDIA, John Fanelli, menyebut kolaborasi dengan Red Hat membuka jalan bagi perusahaan untuk membangun agentic AI yang lebih aman dan dapat dipercaya dalam skala besar.
Sementara itu, CoreWeave menilai integrasi Red Hat AI memungkinkan perusahaan menjalankan stack inferensi yang konsisten baik di lingkungan cloud maupun on-premise tanpa harus membangun ulang sistem untuk tiap platform berbeda.
Melalui Red Hat AI 3.4, Red Hat ingin membawa AI enterprise naik kelas: bukan lagi sekadar proyek percontohan, melainkan menjadi utilitas bisnis yang skalabel, efisien, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan. * (Syam)





