Jakarta, Mediaprofesi.id – Red Hat memperluas kapabilitas sovereign cloud dan private AI untuk membantu organisasi mendapatkan kendali lebih besar atas teknologi, data, dan arah transformasi digital mereka.
Langkah ini hadir di tengah meningkatnya kebutuhan akan kemandirian operasional, baik karena tuntutan regulasi maupun pertimbangan strategis. Red Hat menawarkan pendekatan yang menempatkan pilihan, kontrol, dan transparansi sebagai fondasi utama, sehingga organisasi tidak sekadar mengikuti perubahan pasar atau kebijakan vendor.
Menurut Red Hat, kedaulatan digital bukan hanya persoalan memenuhi regulasi. Lebih dari itu, kedaulatan berarti kemampuan organisasi menentukan sendiri bagaimana teknologi dan data dikelola, tanpa terlalu bergantung pada perubahan geopolitik, dinamika pasar, maupun kebijakan penyedia teknologi.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Red Hat menyediakan arsitektur terstandarisasi bagi infrastruktur sovereign generasi baru. Pendekatan ini diperkuat layanan lokal Red Hat Confirmed Stateside Support serta Red Hat Confirmed Sovereign Support untuk Uni Eropa.
Fondasinya mencakup Red Hat OpenShift, Red Hat Enterprise Linux, Red Hat Ansible Automation Platform, dan Red Hat AI. Kombinasi tersebut memungkinkan organisasi membangun dan mengembangkan infrastruktur cloud maupun AI di wilayah mereka sendiri, sesuai kebutuhan dan aturan yang berlaku.
Red Hat juga memperkenalkan sejumlah kapabilitas baru.
Pertama, penyederhanaan kepatuhan melalui perluasan compliance framework. Compliance Profiles terbaru untuk Red Hat OpenShift Compliance Operator bersama Red Hat Advanced Cluster Security for Kubernetes membantu mengotomatisasi proses tinjauan teknis. Dengan begitu, tim IT dapat lebih mudah menyiapkan bukti kepatuhan untuk regulasi seperti NIS2, GDPR, dan DORA.
Kedua, landing zone siap produksi yang telah dilengkapi konfigurasi dan guardrails operasional sejak awal. Infrastruktur ini mencakup Red Hat Enterprise Linux, OpenShift, dan Ansible Automation Platform untuk mempercepat penerapan workload yang aman dan memenuhi standar kepatuhan.
Ketiga, penyediaan sovereign AI dan cloud yang lebih cepat. Melalui provisioning interface terbaru, pelanggan dan mitra dapat melakukan deploy virtual machine, cluster, hingga layanan AI di OpenShift. Kapabilitas ini membuka peluang hadirnya layanan seperti GPU-as-a-service, models-as-a-service, dan inferencing-as-a-service dalam lingkungan private cloud berbasis AI.
Red Hat juga menghadirkan telemetri manajemen biaya OpenShift melalui Red Hat Lightspeed yang seluruh prosesnya dapat berjalan di lingkungan yang dikendalikan pelanggan. Langkah ini memberikan visibilitas biaya cloud tanpa harus memindahkan data operasional keluar dari wilayah yang ditentukan.
Di sisi lain, Red Hat mulai melokalkan rantai pasokan software. Dimulai dari Uni Eropa, mekanisme in-region content delivery memungkinkan pelanggan mengunduh Red Hat Enterprise Linux secara lokal, sekaligus meningkatkan ketahanan distribusi software dan kontrol terhadap alur pembaruan.

Diperkuat Ekosistem Global
Pengembangan sovereign cloud dan private AI Red Hat juga diperkuat kolaborasi dengan sejumlah pemain teknologi global.
Red Hat telah memperoleh status AI Cloud Ready dalam program NVIDIA Cloud Partner untuk menghadirkan platform tervalidasi bagi sovereign AI cloud dan neocloud. Kolaborasi dengan Google juga menghadirkan Red Hat OpenShift di Google Cloud Dedicated, yang menyediakan infrastruktur terisolasi untuk organisasi dengan kebutuhan kontrol internal yang ketat.
Sementara melalui IBM Sovereign Core, Red Hat OpenShift, Red Hat Enterprise Linux, Red Hat Ansible Automation Platform, dan Red Hat AI menjadi fondasi bagi solusi sovereign cloud dan private cloud IBM.
Ekosistem tersebut turut diperkuat mitra seperti Telenor, Core42, DataCom, Fujitsu, NxtGen, dan Sopra Steria. Mereka menghadirkan keahlian lokal untuk membangun layanan AI dan cloud berperforma tinggi sekaligus menjaga pengelolaan serta otoritas data tetap berada di wilayah masing-masing.
Ashesh Badani, Senior Vice President dan Chief Product Officer Red Hat, menegaskan bahwa inovasi tidak seharusnya mengorbankan kontrol.
“Baik untuk memenuhi mandat regulasi maupun mengambil kembali kendali atas data dari silo proprietary, kami menghadirkan kapabilitas dan platform yang memungkinkan organisasi membangun masa depan digital yang lebih mandiri,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, Red Hat ingin mendorong organisasi memasuki era AI dan cloud yang tidak hanya semakin canggih, tetapi juga lebih transparan, fleksibel, dan berada di bawah kendali mereka sendiri. * (Syam/Wah)





