Sukabumi, Mediaprofesi.id – Minyak jelantah selama ini identik sebagai limbah rumah tangga yang berakhir di saluran air atau dibuang begitu saja. Padahal, jika diolah dengan benar, limbah tersebut dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu menjaga lingkungan.
Inilah yang dilakukan FIFGROUP Cabang Mojokerto melalui program Sustainability Innovation Ideas (SII). Berawal dari edukasi kepada karyawan, inovasi ini berhasil mengubah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi dan sabun cuci, sekaligus menumbuhkan budaya peduli lingkungan di lingkungan kerja.

People Area Support Jatim 4 FIFGROUP Cabang Mojokerto, Maria Ulfa, menjelaskan bahwa ide tersebut lahir setelah perusahaan memetakan kebiasaan karyawan dalam membuang minyak jelantah. Hasil survei menunjukkan sebagian besar minyak bekas memasak langsung dibuang, padahal berpotensi mencemari lingkungan.
FIFGROUP kemudian menggandeng Bank Sampah Induk Kota Mojokerto dan Dinas Lingkungan Hidup untuk memberikan edukasi sekaligus pelatihan pengolahan minyak jelantah. Dari berbagai alternatif, lilin dan sabun dipilih karena proses pembuatannya relatif mudah dan sesuai dengan jumlah minyak yang berhasil dikumpulkan.
Program ini melibatkan hampir seluruh karyawan cabang Mojokerto, baik dari back office maupun tim lapangan. Mereka dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengumpulkan minyak jelantah dari rumah masing-masing, kemudian mengolahnya menjadi produk yang siap digunakan.

Hasilnya cukup mengesankan. Ratusan lilin aromaterapi berbentuk bunga serta sabun batangan berhasil diproduksi. Sebelum diolah, minyak jelantah terlebih dahulu dimurnikan menggunakan arang aktif sehingga warna dan baunya berkurang secara signifikan.
Tak hanya berhenti di internal perusahaan, FIFGROUP juga menggelar demonstrasi kepada masyarakat sekitar kantor agar mereka mengetahui bahwa minyak jelantah tidak harus berakhir sebagai limbah. Warga diajak melihat langsung proses pembuatannya sekaligus memahami dampak buruk membuang minyak bekas ke saluran air maupun tanah.
Produk yang dihasilkan pun dimanfaatkan sebagai suvenir bagi pelanggan FIFGROUP. Kemasannya dibuat menarik sehingga banyak pelanggan tidak menyangka bahwa lilin harum dan sabun tersebut berasal dari minyak jelantah. Bahkan, beberapa pelanggan menjadikan lilin berbentuk bunga sebagai dekorasi rumah.
Inovasi ini juga membuka peluang ekonomi. FIFGROUP berkolaborasi dengan UMKM binaan untuk memasarkan produk sebagai suvenir, termasuk suvenir pernikahan. Sebagian produk bahkan dipasarkan secara daring melalui toko milik keluarga karyawan.

Menariknya, keuntungan dari penjualan produk tidak menjadi laba perusahaan, melainkan dikembalikan kepada karyawan. Dana tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan sosial, seperti membantu karyawan yang sakit, melahirkan, mengalami musibah, hingga mendukung berbagai aktivitas olahraga dan kebersamaan di kantor.
Maria mengatakan, manfaat terbesar dari program ini bukan sekadar menghasilkan produk baru, tetapi membangun perubahan perilaku. Karyawan menjadi lebih sadar bahwa limbah rumah tangga masih memiliki nilai guna jika dikelola dengan benar. Kesadaran tersebut kemudian menyebar kepada keluarga, pelanggan, hingga masyarakat sekitar.
Keberhasilan program ini bahkan menarik perhatian berbagai pihak. FIFGROUP Mojokerto sempat menjadi rujukan untuk studi banding, termasuk dari Polres Mojokerto yang ingin mengembangkan program serupa melalui Bhayangkari.

Meski belum berencana memproduksi secara massal, FIFGROUP berharap inovasi ini dapat direplikasi oleh cabang-cabang lain, khususnya di wilayah Jatim 4. Bagi Maria, tujuan utamanya bukan semata menciptakan produk, melainkan membangun budaya peduli lingkungan melalui langkah sederhana yang bisa dimulai dari rumah.
“Dari karyawan, oleh karyawan, dan untuk karyawan.” Filosofi itulah yang menjadi kekuatan program ini sekaligus membuktikan bahwa limbah rumah tangga dapat menjadi awal terciptanya ekonomi sirkular yang memberi manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan perusahaan. * (Syam/Wah)





