Jakarta, Mediaprofesi.id – Perhatian investor menjelang pengumuman hasil review MSCI pada 12 Agustus 2026 diperkirakan tidak hanya tertuju pada perubahan komposisi indeks. Lebih dari itu, pasar menanti arah kebijakan MSCI terkait aksesibilitas dan tingkat investability pasar saham Indonesia.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan investor perlu mencermati apakah MSCI mulai memberikan sinyal pelonggaran terhadap perlakuan khusus atau pembekuan yang saat ini masih diterapkan terhadap saham Indonesia.
“Investor sebaiknya tidak hanya melihat index inclusion atau exclusion, tetapi terutama mencermati arah kebijakan MSCI terhadap investability dan market accessibility Indonesia,” ujar Rully.
Menurutnya, salah satu indikator penting adalah kemungkinan MSCI melonggarkan pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), sekaligus membuka peluang penambahan atau migrasi saham Indonesia ke dalam indeks investable.
Investor juga perlu mencermati pandangan MSCI mengenai transparansi, free float, serta keterbukaan struktur kepemilikan saham. Isu tersebut dinilai lebih berdampak dalam jangka panjang karena berkaitan dengan kemampuan investor global menilai free float dan membentuk harga saham secara wajar.
“Persoalan Indonesia bukan lagi sekadar masalah index rebalancing, tetapi menyangkut apakah investor global dapat menilai secara akurat free float dan membentuk harga secara wajar,” kata Rully.
Ia menilai keputusan MSCI kali ini juga dapat memberikan gambaran mengenai timeline normalisasi perlakuan terhadap pasar Indonesia. Jika MSCI menilai reformasi yang dilakukan OJK dan BEI mulai kredibel, dampaknya berpotensi lebih positif dibandingkan sekadar perubahan sejumlah konstituen indeks.
Sebaliknya, jika special treatment diperpanjang tanpa roadmap yang jelas, investor berpotensi tetap menerapkan premi risiko lebih tinggi terhadap aset Indonesia.
Fundamental Masih Menopang
Di sisi lain, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menopang pasar.
Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 mencapai 5,29% secara tahunan (YoY), lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 5,1%. Kinerja emiten juga masih menunjukkan pertumbuhan sepanjang semester I-2026.
Namun, perhatian pasar ke depan akan bergeser pada kemampuan Indonesia mempertahankan momentum tersebut di tengah munculnya tanda-tanda perlambatan dan dampak kenaikan suku bunga terhadap pertumbuhan kredit.
“Faktor yang akan menggerakkan market adalah seberapa besar momentum ini dapat dipertahankan mengingat tanda-tanda pelemahan mulai terlihat di ujung semester I-2026, ditambah kenaikan suku bunga yang berpotensi menekan kredit usaha,” ujar Wilbert.
Selain pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten, kondisi neraca eksternal dan fiskal juga menjadi perhatian karena akan memengaruhi persepsi terhadap credit rating Indonesia.
Jika fundamental tersebut tetap terjaga, perhatian investor berikutnya akan semakin tertuju pada keputusan MSCI menjelang November. Sinyal positif dari MSCI berpotensi menjadi titik balik bagi kembali menguatnya arus modal asing ke pasar saham Indonesia. * (Syam/Pra)





