Jakarta, Mediaprofesi.id – Baterai kini bukan lagi sekadar komponen kendaraan listrik. Teknologi ini menjadi salah satu kunci penting dalam transisi energi, mulai dari penyimpanan energi terbarukan hingga pengembangan kendaraan listrik dan industri berbasis energi bersih.
Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam International Battery Summit (IBS) 2026 yang digelar National Battery Research Institute (NBRI) bersama Pamerindo Indonesia dan idBattery (Asosiasi Ekosistem Baterai Indonesia) pada 26–28 Agustus 2026 di JIEXPO Convention Centre & Theatre, Jakarta.
Mengusung tema “Empowering the Energy Transition through Advanced Battery Technology, Renewable Energy, Storage & E-mobility”, IBS 2026 mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, peneliti, investor hingga pelaku ekosistem baterai dari dalam dan luar negeri.
Founder NBRI sekaligus Research Professor BRIN, Prof.Dr.rer.nat Evvy Kartini, mengatakan pengembangan energi terbarukan tidak bisa dilepaskan dari teknologi penyimpanan energi.
Menurutnya, sumber energi seperti matahari, angin, dan air memiliki karakteristik yang tidak selalu tersedia sepanjang waktu. Karena itu, diperlukan energy storage untuk menjaga pasokan energi tetap tersedia ketika sumber pembangkit terbarukan sedang tidak menghasilkan listrik.
“Energy storage menjadi penting dalam rangka transisi energi,” ujar Prof. Evvy dalam wawancara dengan redaksi Mediaprofesi.id di sela acara IBS 2026, Kamis (27/8/2026).

Hal serupa berlaku pada kendaraan listrik. Baterai menjadi komponen utama yang menentukan jarak tempuh, kecepatan pengisian, masa pakai hingga potensi daur ulang kendaraan.
Namun, Prof. Evvy menilai tantangan Indonesia bukan hanya memproduksi baterai, melainkan membangun ekosistemnya secara terintegrasi, dari hulu hingga hilir.
Rangkaian ekosistem tersebut mulai terlihat di IBS 2026. Dari sisi bahan baku terdapat perusahaan pertambangan dan pemasok material baterai. Di sisi manufaktur hadir produsen seperti CATL dan Gotion. Sementara pada tahap hilir, pembahasan berkembang ke penggunaan baterai untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV), Battery Energy Storage System (BESS), hingga teknologi daur ulang.
“Sekarang kita bicara recycling-nya supaya ada circular economy,” katanya.
Peluang untuk UMKM
Pengembangan industri baterai juga dinilai membuka peluang baru bagi pelaku usaha lokal, termasuk UMKM.
Prof. Evvy mencontohkan perubahan dari kendaraan konvensional menuju kendaraan listrik akan melahirkan kebutuhan baru, terutama jasa perawatan dan perbaikan motor listrik serta baterainya.
Menurutnya, UMKM perlu ikut beradaptasi melalui pelatihan dan peningkatan kompetensi. Selain jasa, peluang juga terbuka pada produksi berbagai komponen baterai seperti Battery Management System (BMS), kabel, dan komponen lain dalam satu battery pack.
“Kalau kita semuanya impor, kita namanya jualan, bukan belajar. Kalau belajar itu kita membangun,” tegasnya.
IBS Jadi Jembatan Industri

Prof. Evvy menegaskan IBS tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga platform untuk mempertemukan pemerintah, industri dari hulu hingga hilir, akademisi, investor, dan pengguna.
Pertemuan tersebut diharapkan mendorong business matching dan membuka peluang kerja sama baru di industri baterai Indonesia.
Ia melihat perkembangan IBS dari tahun ke tahun menunjukkan industri baterai nasional mulai bergerak. Jika sebelumnya pembahasan lebih banyak berkutat pada material dan packing, kini topiknya telah berkembang ke manufaktur, life cycle assessment (LCA), e-passport, hingga aspek keselamatan baterai.
Aktivitas NBRI juga tidak berhenti setelah IBS. Menurut Prof. Evvy, NBRI secara rutin menggelar pelatihan bagi industri sekaligus membantu menyelesaikan berbagai persoalan teknis di lapangan. Hingga kini, program pelatihan tersebut telah diikuti sekitar 1.000 peserta.
Dengan demikian, IBS diharapkan bukan sekadar menjadi ajang pertemuan tahunan, melainkan salah satu penggerak terbentuknya ekosistem baterai Indonesia yang semakin kuat, mandiri, dan mampu mengambil peran dalam transisi energi global. * (Syam/Pra)





