Bogor, Mediaprofesi.id – Semangat melestarikan warisan budaya Kalimantan Selatan kembali digaungkan melalui kegiatan Wastra Sasirangan bertajuk “Satu Hari Sasirangan” yang digelar di Bogor, Jawa Barat, Minggu (30/8/2026).
Kegiatan ini menjadi momen istimewa bagi anak Banua Banjar Kalimantan Selatan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Mereka berkumpul, bersilaturahmi, sekaligus memperkenalkan Sasirangan sebagai salah satu identitas dan kebanggaan budaya Banua.
Lebih dari sekadar mengenakan kain khas Kalimantan Selatan, “Satu Hari Sasirangan” menjadi ruang untuk mengenalkan lebih jauh proses, filosofi, kreativitas, hingga nilai budaya yang tersimpan dalam setiap helai Sasirangan kepada masyarakat luas.
Para peserta juga diajak mengenal Sasirangan secara lebih dekat, mulai dari ragam pola dan motif, teknik pembuatan, proses pewarnaan, hingga peluang pengembangannya sebagai produk wastra yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi.

Digelarnya kegiatan ini di Bogor juga mencerminkan semangat bersama untuk membawa Sasirangan semakin dikenal secara nasional. Kehadiran masyarakat Banjar dari berbagai daerah membuktikan bahwa jarak tidak menjadi penghalang untuk terus menjaga kecintaan terhadap budaya dan warisan leluhur.
Kecintaan terhadap budaya Banua tersebut diharapkan dapat menjadi kekuatan untuk menjaga Sasirangan tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Tak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi antara komunitas Banjar, pelaku UMKM, pengrajin, pemerhati wastra, generasi muda, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Sebab, Sasirangan bukan sekadar kain dengan motif dan warna yang indah. Di balik setiap helainya tersimpan cerita tentang identitas, kreativitas, ketekunan, serta nilai-nilai budaya masyarakat Banjar yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, keterlibatan generasi masa kini menjadi penting agar Sasirangan tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu. Warisan budaya tersebut harus terus diberi ruang untuk berkembang, beradaptasi, dan tetap relevan dengan kehidupan masyarakat modern.
Satu Hari Sasirangan di Bogor pun menjadi simbol kuat bahwa meski anak Banua berada jauh dari Kalimantan Selatan, rasa cinta dan kepedulian terhadap budaya Banjar tetap tumbuh dan dapat diwujudkan secara bersama-sama.
Dari Bogor untuk Banua, dari Banua untuk Indonesia. Satu kain, satu identitas, satu semangat. Sasirangan terus lestari, anak Banua terus bersatu. * (Syam/Pra)





