Jakarta, Mediaprofesi.id – BYD tak lagi sekadar menjual mobil listrik di Indonesia. Raksasa kendaraan energi baru asal China ini mulai menancapkan fondasi manufakturnya di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun dan target penyerapan lebih dari 20.000 tenaga kerja.
Langkah tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia semakin dipandang sebagai basis strategis pengembangan industri kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV), bukan hanya pasar bagi produk impor.
BYD resmi meresmikan fasilitas manufaktur kendaraan energi baru pertamanya di Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri Subang Smartpolitan, Jawa Barat. Pabrik ini menjadi fasilitas produksi BYD ke-13 secara global sekaligus membuka babak baru ambisi perusahaan memperkuat rantai industri kendaraan energi baru di Tanah Air.
Peresmian dilakukan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, serta dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah.
Tak hanya menjadi seremoni pembukaan pabrik, momentum tersebut juga ditandai dengan roll-off BYD M6 DM sebagai unit ke-100.000 BYD yang diproduksi secara lokal di Indonesia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai kehadiran fasilitas produksi BYD menjadi momentum penting bagi transformasi industri otomotif nasional menuju green mobility.
“Pemerintah tidak hanya ingin membangun pasar kendaraan listrik, tetapi juga memastikan perkembangan ini mampu memperkuat struktur industri dan kapasitas produksi di dalam negeri,” ujar Agus.
Bidik TKDN 60%, Rantai Pasok Lokal Jadi Kunci

Fasilitas manufaktur BYD di Subang berdiri di atas lahan seluas sekitar 126 hektare dan dibangun dalam waktu kurang lebih 20 bulan. Ketika mencapai kapasitas penuh, pabrik tersebut mampu memproduksi hingga 150.000 kendaraan setiap tahun.
Yang lebih menarik, investasi BYD tidak berhenti pada pembangunan pabrik. Perusahaan telah melibatkan lebih dari 200 mitra rantai pasok dan menciptakan lebih dari 5.000 lapangan kerja lokal.
Jumlah tersebut ditargetkan melonjak menjadi lebih dari 20.000 tenaga kerja saat fasilitas beroperasi dengan kapasitas penuh.
BYD juga membidik Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 60% pada Januari 2027. Target ini menjadi salah satu faktor penting yang dapat memperluas peluang industri komponen nasional untuk masuk ke rantai pasok kendaraan energi baru.
Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan investasi besar seperti BYD harus mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional.
“Satu investasi besar harus melahirkan industri-industri baru di sekelilingnya,” ujarnya.
Menurut Luhut, Indonesia telah mulai membangun industri baterai dan battery pack. Kehadiran manufaktur kendaraan diharapkan melengkapi ekosistem sekaligus membuka peluang pengembangan teknologi dan talenta lokal.
Dari Pasar Konsumen ke Basis Manufaktur

Keputusan BYD membangun pabrik mempertegas perubahan strategi perusahaan di Indonesia. Setelah masuk pada Januari 2024 dan agresif memperluas pasar, BYD kini mulai memperdalam lokalisasi bisnisnya.
Pada Januari-Juli 2026, BYD Indonesia mencatat penjualan 32.800 unit dengan pangsa pasar sekitar 35%. Hingga kini, lebih dari 100.000 kendaraan energi baru BYD telah dikirimkan kepada konsumen Indonesia melalui jaringan penjualan dan layanan di lebih dari 100 lokasi.
Di tengah pertumbuhan pasar tersebut, BYD melihat Indonesia bukan hanya sebagai tujuan penjualan, tetapi bagian dari jaringan manufaktur global perusahaan.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao mengatakan fasilitas Subang merupakan langkah jangka panjang untuk membangun kapabilitas manufaktur, mengembangkan tenaga kerja lokal, dan memperluas keterlibatan industri nasional.
“Dengan menjadikan Indonesia sebagai bagian dari jaringan manufaktur BYD, kami ingin memastikan pertumbuhan BYD juga menciptakan nilai yang semakin besar bagi Indonesia,” ujar Eagle.
Pabrik Subang sendiri mengusung sistem produksi dengan tingkat otomatisasi tinggi, mulai dari proses Welding, Painting hingga Final Assembly.
Bagi investor dan pelaku industri, kehadiran BYD di Subang membawa pesan yang lebih besar: persaingan kendaraan energi baru di Indonesia mulai memasuki fase baru.
Pertarungan tidak lagi hanya soal siapa yang mampu menjual mobil listrik terbanyak, melainkan siapa yang paling cepat membangun rantai pasok, menguasai teknologi, memperbesar kandungan lokal, dan menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dari peta manufaktur kendaraan energi baru dunia. * (Syam/Pra)





