Jakarta, Mediaprofesi.id – Tren kewirausahaan dan ekspansi bisnis di Indonesia terus membuka peluang bagi model usaha waralaba dan kemitraan. Namun, di tengah semakin banyaknya pilihan bisnis, calon mitra tidak cukup hanya tergiur peluang keuntungan.
Kualitas sistem bisnis, pendampingan, transparansi, hingga pemahaman terhadap skema kerja sama menjadi faktor penting agar bisnis dapat tumbuh sehat dan berkelanjutan.
Hal inilah yang menjadi salah satu sorotan dalam The 25th International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference (IFRA) 2026. Pameran yang digelar Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) bersama Dyandra Promosindo ini resmi berakhir pada 30 Agustus 2026 di Hall 7 Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City.
Selama tiga hari, IFRA 2026 menghadirkan 250 brand dari 175 perusahaan lintas sektor. Ajang ini menjadi titik temu antara pemilik brand, pelaku usaha, calon mitra, hingga masyarakat yang tengah mencari peluang bisnis.
Tak sekadar menawarkan kemitraan, IFRA juga menghadirkan berbagai diskusi seputar strategi membangun brand, penguatan sistem usaha, aspek hukum waralaba, hingga peluang membawa bisnis lokal menembus pasar yang lebih luas.
Salah satu peserta yang merasakan manfaat IFRA adalah Alfamart. Franchise Relation Manager Alfamart, Monica Ayu P, mengatakan booth Alfamart tahun ini menarik banyak pengunjung dan membuka peluang bertemu calon mitra baru.
Menurut Monica, sebelum memilih bisnis kemitraan, calon mitra perlu memperhatikan rekam jejak perusahaan dan sistem pendampingan yang diberikan. Pendampingan dinilai penting untuk membantu mitra menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pengelolaan karyawan, ketersediaan produk, hingga kualitas layanan.
Ketua Umum AFI, Anang Sukandar, juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan begitu saja antara kemitraan dan waralaba.

Menurutnya, kemitraan memiliki beragam bentuk, seperti Kerja Sama Operasi (KSO), Perusahaan Inti Rakyat (PIR), hingga subkontrak. Setiap model memiliki pembagian peran dan tanggung jawab yang berbeda.
Sementara waralaba, kata Anang, lebih tepat dipahami sebagai strategi pemasaran dan perluasan pasar sebuah brand. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami karakteristik setiap skema sebelum memutuskan bergabung.
“Baik kemitraan maupun waralaba harus dijalankan dengan sistem, standar, etika, dan tanggung jawab yang jelas agar dapat tumbuh sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Anang berharap IFRA tidak hanya menjadi ajang temu bisnis, tetapi juga mampu memperkuat fondasi industri waralaba dan kemitraan nasional, menciptakan lapangan kerja, serta membantu UMKM lokal naik kelas hingga bersaing di pasar global.
Apresiasi untuk Pelaku Bisnis dan Entrepreneur Muda
IFRA 2026 juga menghadirkan beragam program, mulai dari Business Mascot Competition, Business Talkshow, Celebpreneur Talkshow, IFRApreneur Business Concept Competition (IFBCC), IFRA Women’s Talk, hingga Indonesia Business Opportunity Marketing Awards (IBOMA) 2026.
Pada malam penutupan, IFRA Awards memberikan penghargaan kepada sejumlah peserta. Ayam Jago Juara meraih Best Advertising, Thailand Pavilion memenangkan Best Booth, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk meraih Best Deal, dan Kumori Pancake memenangkan Best Mascot.
Sementara itu, IFRA Poster Competition dimenangkan Zefposter, dengan Kaelvert sebagai runner-up pertama.
Pengumuman pemenang The 10th IFBCC juga menjadi bagian dari puncak acara. BANASENTRA dari Universitas Komputama Cilacap meraih Juara 1, disusul OKANE dari Institut Teknologi Bandung sebagai Juara 2, serta KIDDIENARIES dari BINUS University di posisi ketiga.
General Manager Dyandra Promosindo, Rizki Pahrudi, mengatakan antusiasme peserta menjadi salah satu fondasi keberhasilan IFRA 2026.
Meski pameran luring telah berakhir, masyarakat masih dapat mengeksplorasi peluang usaha waralaba dan kemitraan melalui situs resmi hingga Desember 2026.
IFRA pun berharap penyelenggaraan tahun ini menjadi awal lahirnya lebih banyak kolaborasi, peluang usaha, dan wirausaha baru di Indonesia menuju IFRA Business Expo 2027. * (Syam/Pra)





