Jakarta, Mediaprofesi.id – Masuknya merek-merek asal Tiongkok ke sektor pertambangan Indonesia mulai mendapat perhatian serius dari PT Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI). Mercedes-Benz Trucks tak ingin hanya mengandalkan nama besar dan produk yang sudah ada untuk menghadapi perubahan peta persaingan tersebut.
Presiden Direktur DCVI Antonio Randazzo mengakui, sektor pertambangan merupakan salah satu kekuatan utama dalam portofolio Mercedes-Benz. Karena itu, perkembangan pemain baru, khususnya dari China, menjadi tren yang terus dipantau perusahaan.
“Kami melihat adanya tren di mana merek-merek asal Tiongkok mulai masuk ke sektor pertambangan,” ujar Antonio saat Opening Booth Ceremony DCVI di ajang Mining Indonesia – IEE Series Engineering Week 2026, Rabu (9/9/2026), di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Namun, DCVI tidak buru-buru melihat kehadiran merek China sebagai ancaman semata. Menurut Antonio, perusahaan masih mencermati apakah tren tersebut akan berkembang seiring elektrifikasi di sektor pertambangan atau mampu membentuk model bisnis yang benar-benar berkelanjutan.
Di tengah perubahan tersebut, Mercedes-Benz merasa memiliki modal kuat. Antonio menyebut portofolio truk Mercedes-Benz saat ini sudah sangat siap untuk memenuhi kebutuhan operasional sektor tambang.
Bukan hanya itu, DCVI juga mulai memikirkan langkah berikutnya. Perusahaan tengah berdiskusi secara internal untuk memperkuat portofolio sekaligus menjawab kebutuhan pelanggan dan ekosistem pertambangan yang terus berkembang.
“Kami juga sedang berdiskusi secara internal tentang cara meningkatkan portofolio produk agar menjadi lebih baik lagi bagi para pelanggan dan ekosistem kami di sektor pertambangan,” katanya.

Menurut Antonio, keunggulan Mercedes-Benz juga tercermin dari masukan para pelanggan. Ada tiga faktor yang menjadi pembeda utama: konsumsi bahan bakar, kemampuan membawa muatan, serta kenyamanan pengemudi.
“Ketika kami berbicara dengan para pelanggan, mereka mengonfirmasi bahwa truk Mercedes-Benz adalah yang paling ekonomis dalam hal konsumsi bahan bakar, paling tangguh dan andal dalam hal load dan payload, serta paling nyaman bagi para pengemudi,” jelasnya.
Keunggulan tersebut menjadi modal penting mengingat bisnis pertambangan sangat sensitif terhadap biaya operasional. Efisiensi bahan bakar, kemampuan membawa muatan, ketahanan kendaraan, hingga kenyamanan pengemudi pada akhirnya ikut menentukan produktivitas.
Meski mengklaim posisinya masih kuat, DCVI tampaknya tidak ingin terlena. Antonio mengisyaratkan kemungkinan memperluas jajaran produk Mercedes-Benz Trucks di Indonesia.
“Kami tetap membuka mata untuk melihat di mana kami bisa meningkatkan portofolio dan menambahkan satu atau dua jenis truk lagi agar bisa lebih kompetitif,” ujarnya.
Jika rencana tersebut terealisasi, persaingan truk di sektor pertambangan Indonesia berpotensi semakin sengit. Mercedes-Benz tidak hanya dituntut mempertahankan keunggulannya, tetapi juga harus memastikan produk yang ditawarkan tetap relevan ketika pemain baru datang dengan strategi dan teknologi berbeda.
Satu hal yang jelas, DCVI sudah melihat perubahan itu. Dan Mercedes-Benz tampaknya memilih bersiap sebelum persaingan menjadi semakin panas. * (Syam)





