Jakarta, Mediaprofesi.id – Penggunaan artificial intelligence (AI) di lingkungan kerja terus meluas. Namun, di balik produktivitas yang meningkat, perusahaan menghadapi tantangan baru: bagaimana memastikan karyawan tetap bisa memanfaatkan AI tanpa membuka celah kebocoran data?
Menjawab tantangan tersebut, Akamai memperkenalkan Akamai Workforce Protector, solusi keamanan interaksi yang dirancang khusus untuk era AI. Solusi ini menjadi lapisan keamanan tambahan dalam platform Akamai yang selama ini melindungi aplikasi, API, dan infrastruktur perusahaan.
Workforce Protector memungkinkan perusahaan mengawasi dan mengendalikan bagaimana karyawan berinteraksi dengan AI, SaaS, aplikasi web, aplikasi privat, hingga data perusahaan secara real time.
Yang menarik, solusi ini juga memperluas visibilitas terhadap aplikasi AI desktop dan alur kerja AI yang terus berkembang. Dengan begitu, perusahaan tidak hanya mengetahui AI apa yang digunakan karyawan, tetapi juga dapat menerapkan kebijakan keamanan langsung saat interaksi berlangsung.
Ada tiga kemampuan utama yang ditawarkan.
Pertama, tata kelola AI secara real time. Perusahaan dapat mengidentifikasi penggunaan “shadow AI”, yakni pemanfaatan layanan AI yang dilakukan karyawan tanpa pengawasan resmi organisasi. Kebijakan penggunaan AI pun dapat diterapkan secara adaptif langsung melalui sesi browser.
Kedua, keamanan tanpa mengganggu produktivitas. Workforce Protector memungkinkan kontrol keamanan diterapkan tanpa mengharuskan pengguna berganti browser atau perusahaan merombak arsitektur jaringan yang sudah ada.
Ketiga, perlindungan data secara real time. Data sensitif dapat dicegah agar tidak diunggah ke model AI yang tidak berwenang. Sebaliknya, perusahaan juga bisa mengontrol agar data dari aplikasi perusahaan tidak sembarangan diunduh ke perangkat karyawan.
Kebutuhan terhadap pendekatan seperti ini diperkirakan semakin besar seiring meningkatnya penggunaan browser perusahaan yang aman. Gartner dalam Market Guide for Secure Enterprise Browsers memperkirakan 25% organisasi akan melengkapi solusi akses jarak jauh aman mereka dengan sedikitnya satu teknologi secure enterprise browser pada 2028, naik dari sekitar 10% saat ini.
Keamanan Mengikuti Interaksi

Akamai melihat pola kerja modern sudah berubah. Aktivitas perusahaan kini tidak lagi hanya berlangsung di kantor atau di dalam jaringan internal, melainkan melalui rangkaian interaksi digital yang terus bergerak.
Karyawan mengakses SaaS, agen AI memanggil API, sementara berbagai beban kerja terhubung ke jaringan internal. Kondisi tersebut membuat pendekatan keamanan berbasis perimeter dan zona menjadi semakin sulit menjangkau seluruh aktivitas.
Karena itu, konsep keamanan interaksi dirancang untuk mengikuti alur kerja, bukan sekadar melindungi lokasi atau aset tertentu.
“Pekerjaan adalah aliran koneksi digital yang tak henti-hentinya,” ujar Ofer Wolf, Senior Vice President sekaligus General Manager Enterprise Security Akamai.
Menurutnya, Workforce Protector memastikan keamanan mengikuti karyawan dan agen AI yang digunakan, di mana pun mereka bekerja.
Solusi ini juga melengkapi investasi perusahaan pada teknologi seperti Security Service Edge (SSE), Cloud Access Security Broker (CASB), dan Data Loss Prevention (DLP) dengan menutup celah yang masih dapat ditinggalkan pendekatan konvensional.
Dengan integrasi ke portofolio keamanan Akamai dan jaringan terdistribusinya, perusahaan diharapkan dapat mengelola keamanan tenaga kerja, aplikasi, dan infrastruktur dalam satu pendekatan terpadu.
Bagi perusahaan yang sedang mempercepat adopsi AI, pesan Akamai cukup jelas: produktivitas boleh melaju, tetapi keamanan data tidak boleh tertinggal. * (Syam)





