Jakarta, Mediaprofesi.id – BYD menggebrak persaingan mobil listrik dengan teknologi yang berpotensi mengubah kebiasaan pengisian daya. Melalui Blade Battery generasi kedua dan FLASH Charging, raksasa otomotif China ini mengklaim mampu mengisi baterai kendaraan dari 10% menjadi 70% hanya dalam lima menit, bahkan mencapai 97% dalam sekitar sembilan menit pada suhu normal.
Terobosan tersebut menjadi senjata BYD untuk menjawab salah satu tantangan terbesar kendaraan listrik: waktu pengisian daya. Dengan kemampuan pengisian hingga 1.500 kW melalui satu konektor, BYD ingin membuat pengalaman mengisi baterai semakin mendekati kepraktisan mengisi bahan bakar.
Liu Xueliang, Vice President BYD Co., Ltd. sekaligus General Manager BYD Asia-Pacific Auto Sales Division, mengatakan pengenalan teknologi ini di Indonesia merupakan bagian dari upaya membawa inovasi global lebih dekat kepada konsumen.
Menurut Liu, inovasi tidak cukup berhenti pada pencapaian teknis, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi pengguna. Hingga Desember 2025, BYD didukung lebih dari 123.000 tenaga profesional riset dan pengembangan (R&D).
Blade Battery Baru: Lebih Padat Energi, Pengisian Lebih Cepat
Dikembangkan melalui penelitian selama enam tahun, Blade Battery generasi kedua menawarkan peningkatan kepadatan energi sebesar 5%, sekaligus mendukung pengisian daya berkecepatan tinggi.
BYD mengembangkan sistem transportasi ion FlashPass yang mengoptimalkan perpindahan ion dan mengurangi hambatan internal baterai. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mengendalikan panas selama pengisian, tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan daya tahan.
Klaim keselamatannya juga menjadi sorotan. Blade Battery generasi kedua disebut mampu melewati pengujian pengisian FLASH yang dilakukan bersamaan dengan uji tusuk paku, tanpa mengalami thermal runaway, mengeluarkan asap, atau terbakar, bahkan setelah 500 siklus pengisian FLASH.
FLASH Charging, Kabel Lebih Praktis

Keunggulan FLASH Charging tidak berhenti pada kecepatan. Sistem ini menggunakan desain gantung berbentuk T untuk menjaga kabel tidak menyentuh lantai, sementara mekanisme penyangga membuat kabel lebih ringan saat digunakan.
Konektor yang dapat digeser mengikuti rel memudahkan pengguna menjangkau port pengisian. Pada kendaraan kompatibel yang telah mengaktifkan layanan tersebut, fitur Plug-and-Charge memungkinkan proses pengisian dimulai secara otomatis setelah konektor dipasang.
Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, menilai pemangkasan waktu pengisian menjadi hitungan menit dapat mengurangi salah satu hambatan utama adopsi kendaraan listrik.
DENZA D9 dan Z9GT Jadi Etalase Teknologi Premium
Teknologi terbaru tersebut diperkenalkan bersama DENZA New D9 dan DENZA Z9GT.
New D9 dibekali tenaga maksimum 340 kW atau 462 PS, meningkat 110 kW, serta jarak tempuh hingga 730 km berdasarkan standar NEDC. Fitur lainnya mencakup suspensi cerdas DiSus-C, sistem audio Devialet dengan 16 speaker, dan peningkatan kenyamanan kabin.
MPV listrik premium ini dipasarkan dengan harga Rp1,08 miliar.
Sementara itu, DENZA Z9GT menyasar konsumen yang menginginkan performa tinggi dalam balutan grand tourer premium. Mobil ini mengandalkan tiga motor listrik dengan tenaga gabungan hingga 850 kW atau 1.156 PS, torsi 1.210 Nm, serta akselerasi 0–100 km/jam dalam 2,7 detik.
Jarak tempuh listrik murninya diklaim mencapai 701 km berdasarkan standar NEDC. DENZA Z9GT dipasarkan seharga Rp2,25 miliar.
10 Dealer Jadi Titik Awal Ekspansi FLASH Charging
Di Indonesia, BYD menyebut pangsa pasar kendaraan energi baru atau NEV mencapai 26% per September 2026. BYD dan DENZA diklaim berkontribusi sekitar 37% terhadap pasar tersebut, menurut Eagle Zhao, Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia.
Untuk memperluas akses pengisian daya ultra cepat, BYD berencana menghadirkan FLASH Charging di 10 dealer DENZA sepanjang 2026. Perusahaan juga menjajaki pengembangan fasilitas di lokasi strategis, termasuk melalui potensi kerja sama dengan PLN dan operator infrastruktur pengisian daya.
BYD turut menyiapkan pengembangan kemampuan pengisian daya pada model lain. BYD M6 EV, misalnya, disebut telah memiliki fondasi teknologi baterai generasi kedua, tetapi masih membutuhkan peningkatan perangkat lunak sebelum dapat memanfaatkan FLASH Charging.
Ekspansi ini menjadi langkah awal BYD membangun ekosistem yang mengintegrasikan kendaraan, baterai, pengisian daya, dan penyimpanan energi. Tantangan berikutnya adalah memperluas ketersediaan infrastruktur agar janji pengisian dalam hitungan menit benar-benar bisa dinikmati lebih banyak pengguna mobil listrik di Indonesia. * (Syam)



