Jakarta, Mediaprofesi.id – Gelombang pembiayaan kecerdasan buatan (AI) dan aksi merger-akuisisi (M&A) membuat pasar keuangan Asia Tenggara semakin panas. Nilai transaksi M&A di ASEAN menembus US$140 miliar sepanjang 2026, sementara aktivitas penghimpunan dana melalui pasar modal juga melesat.
Data Dealogic menunjukkan volume M&A di ASEAN meningkat lebih dari 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, gabungan penerbitan saham dan obligasi di pasar modal ekuitas (Equity Capital Markets/ECM) serta pasar modal utang (Debt Capital Markets/DCM) telah melampaui US$180 miliar.
Lonjakan tersebut membuka peluang besar bagi perbankan investasi global, termasuk Citi. Bank yang akan merayakan 125 tahun kehadirannya di sejumlah pasar ASEAN pada 2027 ini mencatat kenaikan pendapatan Investment Banking sebesar 35% secara tahunan di kawasan tersebut.
Sepanjang 2026, Citi terlibat dalam berbagai transaksi M&A di ASEAN dengan nilai total mendekati US$20 miliar. Bank ini juga membantu para klien menghimpun hampir US$25 miliar dari pasar modal global melalui penerbitan obligasi internasional, penawaran umum perdana (IPO), obligasi konversi, hingga penawaran saham lanjutan.
Citi memperkirakan aktivitas transaksi akan tetap tinggi hingga akhir tahun. Sejumlah kesepakatan pembiayaan penting tengah berada dalam pipeline, baik di pasar modal saham maupun utang.
Aktivitas M&A juga diperkirakan berlanjut, mencakup transaksi perusahaan asing yang masuk ke ASEAN (inbound) maupun perusahaan kawasan yang berekspansi ke luar negeri (outbound). Sektor teknologi, barang konsumen, dan kesehatan menjadi beberapa bidang yang disorot.
“ASEAN merupakan salah satu kawasan utama bagi Citi secara global. Kawasan ini menjadi rumah bagi banyak perusahaan kelas dunia serta perusahaan unggulan baru yang semakin aktif memanfaatkan pasar modal untuk mendanai ambisi pertumbuhan mereka,” ujar Matthew Nimtz, Head of Investment Banking Citi untuk ASEAN.
Menurut Nimtz, ekspansi perusahaan lokal ke pasar global turut mendorong aktivitas M&A. Perusahaan semakin membutuhkan jaringan internasional dan layanan konsultasi strategis untuk mendukung transaksi serta rencana pertumbuhan mereka.
Sejumlah transaksi besar menjadi bukti keterlibatan Citi di kawasan ini. Di Indonesia, Citi bertindak sebagai penasihat keuangan bagi Indosat dalam pembentukan Zankore, sekaligus mendukung kebutuhan pembiayaan ekuitas dan utangnya.
Citi juga menjadi penasihat KKR dan Singtel dalam proses akuisisi STT GDC senilai US$10,9 miliar.
Di pasar modal saham Singapura, Citi memimpin sejumlah transaksi untuk UI Boustead REIT, CapitaLand Integrated Commercial Trust, dan CapitaLand India Trust. Sementara itu, untuk penerbitan obligasi internasional, Citi menangani transaksi bagi Republik Filipina, PLN Indonesia, Advanced Info Service Thailand, dan Maybank Malaysia.
Secara keseluruhan, Citi telah memimpin hampir 30 transaksi penerbitan di ASEAN sepanjang tahun ini, dengan rata-rata hampir tiga transaksi setiap bulan.
Derasnya arus transaksi tersebut menegaskan posisi ASEAN sebagai arena perebutan pendanaan dan ekspansi bisnis. Di tengah kebutuhan modal untuk pengembangan AI dan langkah perusahaan menembus pasar global, persaingan bank investasi untuk menggarap transaksi bernilai jumbo diperkirakan terus meningkat. * (Syam/Wah)





