Jakarta, Mediaprofesi.id – Di tengah tekanan bisnis pertambangan dan alat berat, Astra International justru menunjukkan taringnya di industri otomotif nasional. Penjualan mobil perusahaan ini tetap tumbuh 13% sepanjang sembilan bulan pertama 2026, dengan pangsa pasar mencapai 49%. Capaian tersebut menegaskan posisi Astra sebagai salah satu kekuatan utama yang masih sulit digoyahkan di pasar otomotif Indonesia.
Pertumbuhan otomotif menjadi salah satu penopang kinerja PT Astra International Tbk (Astra) di tengah kondisi bisnis yang tidak sepenuhnya bersahabat. Hingga September 2026, laba bersih konsolidasian Astra tercatat Rp21,6 triliun, turun 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, jika pos non-recurring items tidak diperhitungkan, laba bersih Astra relatif stabil di angka Rp24,6 triliun, dibandingkan Rp24,7 triliun pada periode yang sama 2025. Pendapatan bersih konsolidasian juga nyaris tidak berubah, mencapai Rp243,9 triliun.
Presiden Direktur Astra, Rudy, mengungkapkan bahwa kinerja Grup mulai membaik pada kuartal ketiga setelah menghadapi tekanan pada semester pertama.
Perbaikan tersebut terutama didorong peningkatan volume kontrak pertambangan, kembali beroperasinya tambang emas Martabe, serta pertumbuhan bisnis otomotif yang tetap terjaga.
Otomotif Jadi Mesin Pertumbuhan Astra
Bisnis otomotif menjadi salah satu kontributor penting yang menjaga ketahanan kinerja Astra. Sepanjang Januari-September 2026, laba bersih segmen ini meningkat 8% menjadi Rp9,8 triliun.
Di pasar mobil, penjualan nasional mencapai 679.000 unit atau melonjak 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, penjualan mobil Astra tumbuh 13%.
Toyota dan Daihatsu tetap menjadi andalan Astra dalam mempertahankan dominasinya. Secara keseluruhan, pangsa pasar Astra mencapai 49%, memperlihatkan kuatnya posisi perusahaan di tengah persaingan industri otomotif nasional.
Kinerja positif juga terlihat pada pasar sepeda motor. Penjualan nasional meningkat 4% menjadi 5 juta unit. Honda, yang berada dalam ekosistem bisnis Astra, mencatat pertumbuhan penjualan 3% dengan pangsa pasar tetap stabil di level 77%.
Tak hanya kendaraan, bisnis komponen Astra juga mencatat pertumbuhan. Kontribusi laba bersih divisi ini naik 15% menjadi Rp1,4 triliun, didukung peningkatan kinerja seluruh segmen.
Bisnis Tambang Tertekan, Laba Merosot 28%
Jika otomotif terus melaju, bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat justru menjadi tantangan terbesar Astra.
Laba bersih segmen ini, sebelum memperhitungkan pos non-recurring items, turun 28% menjadi Rp5,1 triliun.
Tekanan berasal dari berkurangnya kuota produksi batu bara nasional melalui alokasi RKAB, yang berdampak pada permintaan alat berat dan jasa pertambangan. Penghentian sementara produksi tambang emas Martabe pada awal tahun turut memperberat kinerja.
Penjualan alat berat Komatsu turun 17% menjadi 3.000 unit, sedangkan penjualan batu bara merosot 23% menjadi 7,1 juta ton. Penjualan emas juga turun menjadi 54.000 ons dari sebelumnya 178.000 ons.
Meski demikian, bisnis ini mulai menunjukkan pemulihan. Pada kuartal ketiga, kinerjanya tumbuh 15% secara tahunan setelah tambang emas Martabe kembali beroperasi pada kuartal kedua.
Jasa Keuangan dan Agribisnis Tetap Bertumbuh
Di luar otomotif dan pertambangan, bisnis jasa keuangan Astra juga mencatatkan perkembangan positif. Laba bersihnya meningkat 6% menjadi Rp7,2 triliun.
Pembiayaan konsumen membukukan pembiayaan baru Rp92,5 triliun, naik 8%. Sementara itu, bisnis asuransi menyumbangkan laba bersih Rp1,4 triliun, tumbuh 9%.
Segmen Lain-lain, yang mencakup berbagai bisnis Astra di luar lini utama, mencatatkan laba bersih Rp2,6 triliun atau meningkat 36%. Pertumbuhan ini terutama didorong kenaikan kinerja agribisnis serta kontribusi bisnis pergudangan industri yang baru diakuisisi.
Astra Lanjutkan Buyback dan Perkuat Kepemilikan
Di tengah dinamika pasar, Astra juga melanjutkan strategi pengelolaan modal. Sejak November 2025 hingga September 2026, Grup telah menyelesaikan program pembelian kembali saham senilai Rp10 triliun.
Program buyback Astra senilai Rp8 triliun masih berlangsung. United Tractors juga mengumumkan buyback hingga Rp2 triliun, sedangkan Astra Agro Lestari menyiapkan hingga Rp400 miliar untuk periode Oktober-Desember 2026.
Astra turut melakukan penawaran tender sukarela untuk membeli maksimal 4,95% saham Astra Otoparts dengan harga Rp3.600 per saham. Nilai transaksi maksimal mencapai sekitar Rp858 miliar. Jika seluruh saham berhasil diperoleh, kepemilikan Astra akan meningkat dari 80% menjadi 84,95%.
Menghadapi sisa tahun 2026, Astra tetap optimistis terhadap kekuatan bisnis intinya. Perseroan akan melanjutkan efisiensi operasional, menjaga posisi keuangan, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif di tengah volatilitas pasar. * (Syam/Wah)





