Jakarta, Mediaprofesi.id – Tekanan terhadap perekonomian Indonesia semakin kuat. Sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pelemahan rupiah, hingga merosotnya pasar saham menjadi kombinasi tantangan yang perlu diwaspadai investor.
Dalam riset mingguan bertajuk Syailendra Weekly Update edisi 2 November 2026, Syailendra Research dari PT Syailendra Capital menyoroti sejumlah perkembangan global dan domestik yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan Indonesia.
Salah satu perhatian utama datang dari keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan atau Federal Funds Rate (FFR) di level 3,75%-4,00% dalam rapat FOMC pada 28 Oktober 2026.
Namun, keputusan tersebut tidak sepenuhnya bulat. Dua anggota The Fed justru menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Perbedaan pandangan ini memperlihatkan kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi.
Sinyal hawkish tersebut berpotensi menambah tekanan bagi Bank Indonesia (BI). Bahkan, salah satu proyeksi ekonom memperkirakan BI Rate dapat meningkat dari 5,75% menjadi 6,25% hingga akhir 2026.
Tekanan juga terlihat di pasar obligasi pemerintah. Penawaran yang masuk dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) pada 27 Oktober 2026 hanya mencapai Rp31,09 triliun, anjlok 52% dibandingkan Rp64,85 triliun pada lelang 13 Oktober 2026.
Kementerian Keuangan bahkan tidak memenangkan penawaran untuk seri SPN03270127 karena tingkat imbal hasil atau yield yang diminta investor dinilai terlalu tinggi. Kondisi ini mencerminkan melemahnya minat investor terhadap surat utang pemerintah.
Di tengah gejolak pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperpanjang kebijakan pembelian kembali saham (buyback) tanpa persetujuan RUPS hingga Juni 2027. Sebelumnya, kebijakan tersebut hanya berlaku sampai akhir 2026.
OJK juga meminta BEI menyempurnakan metodologi HSC dengan melibatkan pihak independen di luar SRO serta memperkuat deteksi transaksi tidak wajar dan terkoordinasi. Sepanjang 2026, OJK telah menjatuhkan denda Rp2,23 triliun kepada 166 pihak.
Tekanan berikutnya datang dari pasar energi. Meski harga BBM Pertamina tidak berubah sepanjang Oktober, CORE memperkirakan harga Pertamax berpotensi naik 5%-8% pada November 2026, dari Rp15.950 menjadi sekitar Rp16.700-Rp17.200 per liter.
Proyeksi tersebut dipengaruhi kenaikan harga minyak Brent yang sempat menyentuh US$116,72 per barel pada Oktober serta pelemahan rupiah. Sementara itu, harga Pertalite masih Rp10.000 dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Dari sektor perdagangan, surplus neraca dagang Indonesia pada September 2026 diperkirakan menyusut menjadi US$1,82 miliar, jauh di bawah surplus Agustus sebesar US$3,55 miliar.
Konsensus Bloomberg memperkirakan impor tumbuh 21% secara tahunan, lebih cepat dibandingkan ekspor yang diproyeksikan naik 6,67%. Lonjakan impor dipengaruhi kenaikan harga minyak Brent sebesar 15,8% secara bulanan pada September serta pemulihan impor setelah terkoreksi 11,6% pada Agustus.
IHSG dan Rupiah Jadi Sorotan
Tekanan global dan domestik turut tercermin pada pergerakan pasar keuangan sepanjang pekan lalu.
Nilai tukar rupiah melemah 0,39% ke level Rp18.127 per dolar AS, meskipun indeks dolar AS (DXY) justru turun ke posisi 101,96.
Di pasar obligasi, imbal hasil SUN tenor 10 tahun (ID10Y) meningkat menjadi 7,72%. Kondisi ini diikuti arus dana asing keluar atau foreign outflow sebesar Rp453 miliar.
Sebaliknya, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun (US10Y) turun ke level 4,93%.
Pukulan paling besar terjadi di pasar saham. IHSG anjlok 7,03% sepanjang pekan lalu ke level 5.057, disertai arus dana asing keluar mencapai Rp2,91 triliun.
Berbeda dengan Indonesia, bursa saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan yang relatif positif. Dow Jones menguat 1,7% dan S&P 500 naik 0,1%, sedangkan Nasdaq melemah 0,9%.
Sejumlah Data Ekonomi Siap Menguji Pasar
Memasuki pekan ini, investor akan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.
Pada 2 November, Indonesia akan merilis data inflasi Oktober, PMI manufaktur, dan neraca perdagangan September. Pada hari yang sama, Amerika Serikat mengumumkan ISM Manufacturing PMI.
Selanjutnya, 3 November menjadi perhatian karena berlangsungnya pemilihan paruh waktu AS atau Midterm Elections, disertai rilis data JOLTS Job Openings.
Pada 4 November, pasar menunggu data perubahan tenaga kerja ADP dan ISM Services PMI AS.
Sementara itu, 5 November menjadi agenda penting bagi Indonesia dengan rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026. Pada hari yang sama, AS mengumumkan data klaim pengangguran awal.
Pekan ditutup dengan rilis data tenaga kerja AS pada 6 November, termasuk Non-Farm Payrolls dan tingkat pengangguran Oktober.
Rangkaian data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi investor dalam membaca arah kebijakan suku bunga, kekuatan ekonomi global, serta prospek pasar keuangan Indonesia ke depan. * (Syam/Pra)





