Jakarta, Mediaprofesi.id – Kinerja Astra Otoparts semakin menunjukkan taringnya. Di tengah perkembangan industri otomotif nasional, PT Astra Otoparts Tbk berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih dan pendapatan dua digit hingga kuartal III 2026. Menariknya, pertumbuhan tersebut ditopang dua mesin bisnis sekaligus, yakni manufaktur dan perdagangan.
Hingga September 2026, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp1,80 triliun, tumbuh 14,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan bersih melonjak 15% menjadi Rp17,02 triliun.
Presiden Direktur Astra Otoparts Yusak Kristian Solaeman mengatakan, pencapaian tersebut merupakan hasil kontribusi positif kedua segmen bisnis yang saling melengkapi. Perseroan terus memperkuat kemampuan manufaktur untuk memperluas kerja sama dengan pelanggan Original Equipment Manufacturer (OEM), sekaligus meningkatkan jangkauan pasar perdagangan melalui jaringan distribusi, ritel, dan ekspor.
“Kami terus memperkuat kapabilitas manufaktur untuk mendukung penguatan kolaborasi dengan pelanggan OEM yang ada selain menambah OEM baru. Di segmen perdagangan, kami memperluas jangkauan pasar melalui jaringan distribusi, ritel, dan ekspor,” ujar Yusak.
Dari sisi keuangan, total aset Astra Otoparts mencapai Rp25,18 triliun hingga kuartal III 2026, meningkat 11,3% dibandingkan posisi akhir Desember 2025. Perseroan juga memiliki total ekuitas Rp17,89 triliun sebagai fondasi untuk mendukung pengembangan usaha ke depan.
Manufaktur Jadi Motor Pertumbuhan
Segmen manufaktur menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perseroan. Hingga kuartal III 2026, segmen ini membukukan pendapatan Rp9,18 triliun, meningkat 17,6% dibandingkan Rp7,80 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya permintaan komponen dari pelanggan OEM, baik untuk model kendaraan yang sudah dipasarkan maupun model baru. Kenaikan volume produksi kendaraan roda dua, roda empat, dan kendaraan komersial turut menjadi pendorong.
Tak berhenti pada komponen kendaraan bermesin konvensional atau internal combustion engine (ICE), Astra Otoparts juga memperluas pengembangan komponen kendaraan elektrifikasi (xEV), mencakup general parts maupun specific parts.
Perseroan bahkan mulai memperluas diversifikasi ke sektor nonotomotif, termasuk alat kesehatan dan industri lainnya. Strategi ini diharapkan memperkuat ketahanan bisnis manufaktur sekaligus membuka peluang pertumbuhan jangka panjang.
Perdagangan Perluas Jangkauan Pasar

Sementara itu, segmen perdagangan mencatatkan pendapatan Rp7,84 triliun, tumbuh 12% dibandingkan Rp7 triliun pada kuartal III 2025.
Peningkatan ini ditopang semakin lengkapnya portofolio produk aftermarket, perluasan jaringan distribusi dan ritel, serta peningkatan permintaan dari pelanggan bisnis (B2B), konsumen (B2C), dan pasar ekspor.
Hingga kuartal III 2026, Astra Otoparts didukung 49 diler utama dan 28 kantor penjualan yang melayani lebih dari 15.000 toko suku cadang otomotif di seluruh Indonesia.
Perseroan juga mengoperasikan 673 gerai ritel modern melalui jaringan Shop & Drive, Super Shop & Drive, Astra Otoservice, Shop & Bike, dan Aspira Motoquick. Penguatan layanan digital dilakukan melalui Astra Otoshop yang mengintegrasikan transaksi online dan offline, termasuk layanan pemasangan produk.
Bidik Peluang dari Ekosistem Kendaraan Listrik
Di tengah pergeseran industri menuju elektrifikasi, Astra Otoparts turut memperluas bisnis infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik melalui Astra Otopower.
Hingga akhir kuartal III 2026, Astra Otopower telah mengoperasikan 71 unit di 61 lokasi strategis di Indonesia.
Perseroan juga menghadirkan EV charger ALTRO berdaya 7 kW melalui layanan Home Charging Services Ultima di aplikasi PLN Mobile. Produk ini turut dipasarkan kepada konsumen melalui berbagai marketplace untuk memenuhi kebutuhan pengisian daya kendaraan listrik di rumah.
Dengan memperkuat bisnis komponen konvensional, memperluas pasar aftermarket, serta menangkap peluang kendaraan listrik, Astra Otoparts terus membangun sumber pertumbuhan baru. Strategi tersebut menjadi modal perseroan untuk menjaga kinerja sekaligus memperkuat daya saing di tengah transformasi industri otomotif. * (Syam/Pra)





